The Indonesian Global Hero

 

Melalui praktik berskala lokal, Martha Tilaar menerima pengakuan di tingkat global. Nama pengusaha wanita asal Gombong, Jawa Tengah, ini berhasil menembus Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Interview by Andre Syahreza

Hari itu, di markas besar PBB di New York, Martha Tilaar tampil ke atas podium untuk menerima salah satu penghargaan paling prestisius dalam hidupnya. Dia telah memulai bisnis sejak 1970, dan hari itu adalah salah satu hari terbaiknya, di mana dunia mengakui hasil kerjanya yang memberi dampak besar pada lingkungan dan sosial.

Hari itu Martha Tilaar didaulat untuk menerima penghargaan Sustainable Development Goal (SDG) Pioneer 2018 dari United Nation Global Compact (UNGC), suatu penghargaan paling bergengsi bagi pebisnis yang tidak semata berbisnis, tapi juga menjadi pahlawan lingkungan. SDG Pioneer adalah sebuah apresiasi yang diselenggarakan secara selektif dan sangat tepercaya.

Setiap tahun, sekitar 200 nama pengusaha dari seluruh dunia menerima undangan dari UNGC untuk ikut serta dalam seleksi ini. Kemudian, UNGC akan menyeleksi secara ketat 20 nama tokoh terbaik untuk menjadi kandidat pemenang. Pada tahap seleksi akhir, UNGC melibatkan penilaian dari perwakilan UNGC di seluruh negara peserta yang memberikan penilaiannya pada 20 tokoh kandidat. Berdasar penilaian ini nantinya terseleksi 10 tokoh terbaik sedunia sebagai pemenang SDG’s Pioneer. Martha Tilaar masuk dalam 10 tokoh terbaik sedunia dan merupakan perempuan Indonesia pertama yang menerima penghargaan ini.

Zero to Hero

Jika kita kilas balik ke belakang, momen penghargaan itu tidak pernah terbayang sebelumnya oleh seorang pengusaha yang memulai bisnisnya dari nol. Namun, meski tidak membayangkan itu sebelumnya, sejak awal kariernya sebagai pebisnis, Martha Tilaar telah menerapkan nilai-nilai Tri Hita Karana dalam kegiatan bisnisnya, yaitu falsafah keterhubungan antara manusia dengan sesama, dengan alam, dan Tuhan-nya. Dengan menjalankan bisnis yang berdasarkan konsep Tri Hita Karana, maka corporate culture yang ia bangun tidak lepas dari unsur manusia, lingkungan, dan ekonomi yang berkeadilan. Puluhan tahun kemudian, di akhir tahun lalu, ia diundang PBB untuk menerima pengakuan dunia. SDG Pioneer adalah pencapaian paripurna dari perjalanan berbisnis seorang Martha Tilaar yang dimulai dari titik nol. Sejak awal mendirikan bisnis, Martha Tilaar fokus pada pengembangan produk yang natural dan memiliki tanggung jawab sosial serta lingkungan yang tinggi. Beliau melibatkan kontribusi nyata perempuan serta pengembangan komunitas perempuan untuk semakin mandiri dan berkarakter demi memperkuat perekonomian bangsa. Dengan program “Beautifying Indonesia”, Martha Tilaar Group melalui 4 pilarnya, yaitu Beauty Green, Beauty Education, Beauty Culture, dan Empowering Women telah turut mewarnai dan mengharumkan Indonesia di kancah internasional.

Memberdayakan Perempuan

Dari sekian banyak kontribusinya pada lingkungan dan sosial, SDG Pioneer memberi fokus pada jasa Martha Tilaar dalam “Memajukan Kesinambungan Melalui Keterlibatan Masyarakat”. Martha Tilaar dinilai berhasil di antaranya dalam menerapkan pemberdayaan perempuan ke dalam praktik bisnisnya, isu-isu sosial seperti human trafficking. Sejak puluhan tahun lalu Martha Tilaar telah merekrut perempuan-perempuan dari keluarga kurang beruntung agar dilatih menjadi terapis kecantikan.

“Problem ekonomi, kurangnya edukasi dan rendahnya pandangan terhadap perempuan menyebabkan banyak sekali terjadi human trafficking. Saya kemudian mendirikan training centre agar bisa memberi kesempatan kepada remaja putri dari keluarga kurang mampu untuk menjadi terapis kecantikan di salon dan spa. Hingga saat ini, program beasiswa terapis Martha Tilaar Spa telah mengantarkan lebih dari 6.000 perempuan yang memiliki keterampilan khusus untuk dapat mandiri menjadi terapis profesional,” ujar Martha Tilaar yang dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa dari World University Tuscon, Arizona, Amerika Serikat.

“Saya yakin perempuan harus berdaya dan mempunyai keterampilan serta karakter yang baik agar mampu membangun keluarga dan mendidik anak-anaknya. Hal ini semakin memotivasi kami untuk meluangkan waktu dan biaya bagi pendidikan mereka. Dan seiring berjalannya waktu, investasi SDM yang baik akan bermanfaat bagi kemajuan perusahaan,” lanjutnya.

Hari itu ia tampil membanggakan ke atas podium sebagai satu-satunya pemenang dari Indonesia. Wajahnya terpampang bergantian dengan kesembilan pemenang lainnya selama 10 hari di layar raksasa di persimpangan jalan Madisson Square Garden, New York, dan juga di Kota London. Pada acara yang sama, rombongan negarawan Indonesia juga menghadiri acara tersebut, di antaranya Wakil Presiden Jusuf Kalla yang ikut bangga atas prestasi yang diraih seorang pengusaha wanita Indonesia.

“Saya berharap agar penghargaan ini bisa memberi inspirasi kepada perusahaan swasta nasional lainnya yang mungkin jauh lebih besar untuk dapat menerapkan cara-cara bisnis yang lebih inclusive dan tidak sekadar menjalankan business as usual. Saya juga berharap akan banyak perempuan-perempuan Indonesia lainnya yang bisa berkarya dan berprestasi lebih hebat lagi dan mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia,” kata Martha Tilaar yangntahun ini memasuki usia ke-82.