Yozua Makes: A True Indonesian Icon

 

Yozua Makes adalah seorang pendidik, pengacara, dan pengusaha. Bagaimana dia memberi citra pada Indonesia di tengah pariwisata dunia?

Interview by Andre Syahreza, photography by Toto Santiko Budi

 

Tahun ini, nama Yozua Makes masuk dalam daftar penerima Lifetime Achievment Award dari Marquis Who’s Who. Namanya tergabung dengan nama-nama lain yang berpengaruhIa adalah seorang Dosen Luar Biasa di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Universitas Pelita Harapan yang memperoleh pendidikan di UI dan berbagai universitas terkemuka di Asia dan Amerika Serikat, sekaligus seorang pakar hukum yang dikenal ahli membidangi transaksi trans-nasional. Melalui firma hukum miliknya, Makes & Partners, ia telah menangani sejumlah klien besar, di antaranya Lippo Group, Djarum Group, UOB Bank, CVC International dan KKR.

Selain pendidik dan pengacara, Yozua adalah juga seorang pengusaha hotel dan restoran yang tengah melesat lewat brand ciptaannya: Plataran. Tahun ini Plataran Group telah memasuki usia ke-10. Hotel Plataran tersebar di berbagai belahan eksotis bumi Indonesia, dari Borobudur, Ubud, Labuan Bajo hingga yang terbaru di Bromo. Bagaimana pengacara yang setiap tahun terdaftar sebagai Asia Leading Lawyer dari Asia Pacific The Legal 500 ini memutuskan untuk masuk ke bisnis pariwisata?

“Saya masuk ke bisnis pariwisata secara tidak sengaja,” kata Yozua dengan gaya bicara yang membumi. “Awalnya saya dan istri, yang juga merupakan pengajar di Universitas Indonesia, hanyalah pencinta budaya dan situs-situs kebudayaan Indonesia. Kemudian kami memutuskan untuk menjadikan vila pribadi kami di Canggu sebagai hotel Plataran pertama. Dari sana kemudian berkembang sampai seperti sekarang. Dulu kami tidak pernah menyangka bisa jadi sebuah grup perhotelan dan restoran. Cita-cita kami sebenarnya sederhana saja, yaitu berkiprah untuk kemajuan Indonesia dan orang Indonesia. Sampai sekarang, itu yang tetap kami pegang teguh,” ujar pebisnis berdarah Bali-Jawa yang gemar mengoleksi benda antik ini.

Hingga kini, Indonesia dan keindonesiaan adalah ciri khas Plataran yang terus dipertahankan. Itu berlaku bagi setiap resort dan cabang restorannya, termasuk satu restoran Plataran di Tokyo, Jepang. Keindonesiaan itu tidak hanya tampil sebagai dekorasi interior atau keramahan para pramusajinya saja, tapi telah meresap sebagai konsep yang menjiwai hampir setiap aspek bisnisnya, dari marketing sampai landscaping.

Setiap lokasi hotel Plataran adalah titik-titik eksotis yang menyatu dengan alam dan budaya masyarakat setempat. Lanskapnya memperhitungkan aspek kearifan lokal, sehingga setiap resort bukan semata tempat untuk bermalam, tapi telah dirancang agar menyatu dengan alam sekitar. Sering kali Plataran memilih kontur tanah yang indah di dataran yang cenderung tinggi dan berjenjang agar bisa mendapat pemandangan alam 360 derajat. Tamu-tamu yang bermalam tidak hanya bisa menikmati segala kemewahan khas hotel bintang lima, tapi lebih dari itu, mereka bisa bersentuhan langsung dengan alam dan budaya masyarakat setempat.

Hospitality with impact

“Menurut saya, bisnis pariwisata itu tidak bisa dipisah dari aspek sosial di sekitarnya sebagai konsep bisnis yang berkesinambungan. Tinggal di hotel yang tidak berinteraksi dengan alam dan masyarakat sekitar akan terasa seperti tinggal di dalam mercusuar yang dingin dan angkuh. Di Plataran, kami selalu melibatkan masyarakat sekitar, termasuk UKM setempat, beserta budayanya sebagai bagian dari daya tarik pariwisata,” kata dosen kelas khusus internasional yang menjabat sebagai CEO Plataran ini.

Kepeduliannya pada alam juga tecermin pada Plataran L’Harmonie, sebuah wilayah hutan konservasi flora dan fauna di Bali bagian barat. Di sini para tamu bisa menyaksikan interaksi alami fauna di sana, di tempat yang oleh Yozua disebut sebagai “God’s Secret Courtyard”. Di tahun 2016 dan 2017, Plataran L’Harmonie dianugerahi World Sustainable Destination Top 100 oleh Green Destination Organization dan di tahun 2018 menerima penghargaan Luxury Forest Resort dari World Luxury Hotels Award.

Tahun ini, Yozua tengah gencar dengan kampanye bertagar “hospitality with impact”, suatu imbauan agar pelaku pariwisata mempertimbangkan dampak sosial dan alam pada setiap aktivitas wisata. Bagi Yozua, ini bukan sekadar tagar, tapi sudah teruji oleh pengalaman 10 tahun membesarkan Plataran, dan telah meresap sebagai filosofi bisnisnya.

“Bisnis dan dampak sosial itu seperti ayam dan telur. Bagi saya, bisnis datang lebih dulu, untuk kemudian memberi dampak pada sosial. Ini yang saya jalankan selama 10 tahun membangun Plataran dan akan terus menjadi filosofi bisnis kami ke depannya,” ujar Yozua yang memilih kalimat “A True Indonesian Icon” sebagai tagline Plataran.

Ia ingin memopulerkan Indonesia ke kancah dunia lewat situs-situs pariwisata ikonis miliknya. Di setiap situs itu, ia ingin orang merasakan pengalaman asli Indonesia yang tak lekang diterjang zaman. Terakhir, ia ingin setiap proyeknya dikenang sebagai upaya dari Indonesia, untuk memberi dampak positif bagi masyarakat Indonesia.

Seiring kampanye “hospitality with impact” yang kian gencar, kita tunggu saja apa kejutan-kejutan mendatang dari pebisnis Indonesia yang penuh ide ini ke depannya.