Lampung

Berada tepat di seberang pulau Jawa dan tak jauh dari gemerlap Jakarta, Bandar Lampung belum terlalu ramai oleh wisatawan asing.

Namun, itulah yang membuatnya menarik. Ibu kota provinsi Lampung ini mengajak Anda menjelajahi taman nasional pertama di Indonesia, di mana Anda dapat bertemu gajah, harimau dan badak Sumatera di habitat aslinya.

Bandar Lampung terletak di sebuah teluk berbentuk setengah oval. Bagian timurnya nyaris bersambungan dengan pulau Jawa bila saja tidak ada selat Sunda yang memisahkan mereka. Dari pelabuhan Merak (Banten, Jawa) ke pelabuhan Bakauheni hanya berjarak satu jam dengan kapal laut, dan para pengunjung bisa berpelesir ke pulau-pulau mungil berpasir putih di sekitar pelabuhan, seperti Pulau Sindu dan Pulau Sakepol, dan mampir sejenak di Siger Tower yang megah atau ke Tanjung Tua di ujung selatan Sumatera.

“Bandar Lampung sebenarnya adalah hasil penyatuan dua kota, Telukbetung dan Tanjungkarang,” terang Salsabila Taher, teman lokal yang mendampingi saya mendaki Bukit Klutum, sebuah bukit ilalang yang membentangkan panorama ke seantero kota.

Dihuni oleh satu juta lebih penduduk, keberagaman di kota ini terlihat dari keberadaan rumah-rumah ibadah berbagai agama. Tiap sore, banyak warga yang berkumpul di seputaran Masjid Agung Al Furqon, yang terlihat mencolok dengan menara jangkungnya. Masjid ini menjadi kebanggaan penduduk kota lantaran pembangunannya diprakarsai oleh Soekarno, presiden pertama Indonesia.

Gereja pun ada banyak di kota ini dan terdapat sebuah wihara buatan tahun 1850 yang memikat. Arsitektur wihara bernama Thay Hin Bio itu masih asli dengan detail dan ornamen khas hingga ke langit-langit. Wihara ini adalah salah satu bangunan yang selamat dari letusan dasyat Gunung Krakatau tahun 1883 dan tetap kokoh hingga sekarang.

Untuk memperoleh pemandangan kota dari sisi berbeda, Salsabila mengajak saya ke bagian barat kota yang berbukit dan rimbun. Tempat ini adalah favorit keluarga dan kalangan muda, lantaran terdapat Puncak Mas yang memiliki berbagai wahana hiburan dan atraksi yang dikelola dengan baik, seperti rumah pohon, sepeda gantung dan balon udara. Hanya berjarak lima menit dari Puncak Mas, ada Alam Wawai Eco Park, kawasan berkemah yang ideal untuk acara-acara kelompok, dengan sarana mumpuni, termasuk sebuah amphitheater dengan pemandangan menawan menghadap laut.

Topografi Bandar Lampung bukan hanya dataran yang cukup lapang untuk pertumbuhan urban, namun juga perbukitan tropis sejuk yang cocok untuk beristirahat sejenak dari kesibukan kota.

“Saat penat akibat pekerjaan di kota, saya bisa berlibur dengan mudah,” kata Salsabila. Saya mengerti saat melihat kebahagiaannya berinteraksi dengan satwa di penangkaran rusa Taman Hutan Raya dan saat ia memperkenalkan beragam kupu-kupu di Taman Gita Persada. Begitulah semestinya menyeimbangkan hidup, pikir saya.

Gajah dan Harimau

Berbicara tentang satwa, Lampung identik dengan gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus). Untuk konservasi mamalia terbesar di Indonesia tersebut, ada dua taman nasional di sini, yakni Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di sebelah barat, dan Taman Nasional Way Kambas di sebelah timur.

Menimbang jarak yang lebih dekat dari Bandar Lampung, saya menjatuhkan pilihan ke Taman Nasional Way Kambas. Sulardi, salah satu koordinator balai menyebutkan bahwa kawasan seluas 125,631.31 hektare ini merupakan taman nasional pertama di Indonesia. “Di sini, fauna besar tak cuma gajah Sumatera saja, ada juga tapir (Tapirus indicus), harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), badak Sumatera (Dicerorhinussumatrensis), serta beruang madu (Helarctos malayanus). Kami menjulukinya The Big Five Mammals,” terangnya.

Tetapi gajah-gajah itu tidak bisa dilihat setiap saat. Mereka dilepas di hutan untuk menjalani kehidupan secara alami dan baru digiring kembali ke Pusat Pelatihan Gajah oleh para Mahout (pengasuh) pada sore hari. Untuk mengisi waktu, saya diajak ke Way Kanan di taman nasional untuk ikut melakukan pengamatan burung seraya menyusuri sungai berapit mangrove. Para penggemar fotografi menghujani saya dengan begitu banyak foto burung-burung eksotik yang berhasil mereka bidik. Ini pengalaman pertama saya dan sangat membuka mata tentang indahnya mengamati alam dari dekat serta pentingnya perlindungan satwa.

Menjelang sore, saya bergerak ke Pusat Latihan Gajah dan akhirnya bisa bertemu langsung dengan hewan menakjubkan itu. Gajah-gajah dengan sikap amat tenang keluar dari rimbunan hutan seperti pertapa usai bersemadi. Betapa tenteramnya menatap kawanan gajah lalu lalang di padang seirama matahari jingga yang mewarnai senja.

Esok paginya, saya diajak ke Camp ERU Margahayu. ERU (Elephant Respon Unit), adalah program yang dijalankan balai taman nasional untuk menangani konflik antara manusia dengan gajah-gajah liar. Di sini gajah yang bermasalah dijaga dan dirawat para mahout. Pengunjung diperkenankan ikut memandikan gajah, terutama bayi-bayi gajah yang imut.

Kembali ke kota, Salsabila dan teman-temannya sudah siap membawa saya ke pantai-pantai terdekat. “Kita ke selatan kota. Ada jejeran pantai yang laik ditilik,” ujarnya bersemangat. Mula-mula kami ke Pantai Wutun dengan air lautnya yang tenang. Dari pantai ini, terlihat Pulau Tangkil dengan pasir putih cemerlangnya.

Setelah itu, kami lanjut menyusuri kawasan pesisir dan terpikat eloknya lekukan Pantai Sari Ringgung. Pantai ini juga berhadapan dengan sebuah pulau, namanya Pulau Tegal Mas. Berkontur fotogenik, ditambah dengan sebuah resort terapung, pantai ini adalah tempat yang sempurna untuk snorkelling santai.

Salsabila mengatakan, bila perjalanan diteruskan ke selatan, kami akan menemukan pulau-pulau kecil yang lebih menarik lagi, yaitu Pulau Pahawang Besar dan Pulau Pahawang Kecil. “Koral di sana lebih subur. Saat laut surut, kita bisa menyeberang ke pulau-pulau itu berjalan kaki melewati pasir timbul,” terang gadis itu.

Kafe Vintage dan Instagrammable di Bandar Lampung

Jalan-jalan ke Bandar Lampung belum lengkap jika belum mencoba kuliner khasnya. Tak hanya makanannya yang saya incar, tapi juga suasananya. Ada beberapa kafe bergaya vintage yang menarik perhatian saya.

Pertama, Encim Gendut, yang berlokasi di Jl. Lindu No. 6 Palapa. Dalam nuansa monokrom, dinding sebelah kanannya dihias nampan dan baskom tradisional warna-warni, sedangkan sebelah kirinya memampang foto-foto Bandar Lampung tempo dulu. Langit-langitnya digantungi lampu dalam sangkar-sangkar burung dan sejumlah payung oriental warna warni, sementara tempat duduknya dari kayu berbantal batik cerah. Menempati sebuah bangunan tua yang direnovasi, Encim Gendut menyajikan makanan prasmanan Nusantara dengan tiga pilihan nasi (nasi putih, nasi uduk dan nasi kuning).

Tempat bersantap lain yang juga layak dicoba adalah De Rosse Cafe & Resto di Jl. HOS Cokroaminoto No. 78 Rawa Laut, Enggal. Rumah makan dua lantai ini dari luar kelihatan sederhana, namun kesan itu langsung berubah tatkala saya melihat interiornya yang bernuansa ungu-merah jambu. Di lantai satu, pernakpernik antik seperti jam, koper, radio terpajang di meja dan dindingnya menampilkan sejumlah poster film-film lawas. Tambahan lagi, jendelanya dicat warna-warni. Sementara, lantai duanya didesain lebih modern. Kafe ini terkenal dengan paket spesial seafood Tuan Crab (1-3) dan Cah Kailan.

Semua pengalaman ini, mulai dari menyaksikan keanggunan gajah-gajah Sumatera, bersantai di keindahan pantai, sampai menikmati suasana kafe-kafe bergaya lawas, membuat saya sadar bahwa Bandar Lampung begitu menarik untuk dijelajahi. Waktu selama berada di kota ini tak terbuang sia-sia, bahkan menyisakan kesan istimewa yang akan menggoda saya untuk kembali ke sini. Baik di alam maupun kotanya, Lampung memberikan pengalaman tak terlupakan.

JAKARTA TO TANJUNG
KARANG LAMPUNG


Flight Time 25 minutes

Frequency 42 flights per week

Book Now

icon_taste

5 Senses – Taste
PANDAP

Bertekstur lembut dan cepat lumer di mulut, pandap adalah kukusan ikan dicampur daun talas muda, kelapa parut dan rempah-rempah. Disajikan dalam bentuk kotak seukuran biskuit. Makanan ini disebut-sebut berasal dari Krui di Lampung Barat dan digemari sejak tahun 1800-an.
www.sydney.com