Alor

Kami berlayar dengan sekunar mewah untuk menjelajahi situs-situs menyelam terbaik kelas dunia dan budaya animisme purba di daerah ini.

Words and photography by Tommy Schultz

Mengenakan ikat kepala dan selempang tradisional, kepala suku Abui menatap lekat mata lawannya, siap untuk bertempur.

Keduanya menarik pedang logam yang berkilauan saat dikeluarkan dari selongsong kayu berukir. Dengan ayunan pedang yang mencabik-cabik udara pagi, mereka memamerkan teknik bertarung yang diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun di sudut terpencil Kepulauan Sunda Kecil ini.

Keduanya bertarung selama beberapa menit, menyerang dan bertahan dengan pedang yang berdentang. Usai berlaga, senyum pun mengembang di wajah masing-masing, mereka saling melempar tawa untuk memecah ketegangan. Meskipun pertarungan itu hanya sebuah pertunjukan, terbayang seperti apa keberanian dan keterampilan bertarung kakek moyang mereka.

Kami menjelajahi pulau-pulau di sebelah timur Flores selama 12 hari pelayaran di atas kapal Pinisi sepanjang 40 m yang dibuat secara tradisional. Kapal ini terkenal dengan kabin-kabin yang luas serta pengalamannya mengeksplorasi tempat-tempat indah dan eksotis di Indonesia. Selama tujuh hari terakhir, saya dan teman saya Corey, disuguhi panorama menakjubkan setiap pagi, dan pada hari kedelapan kami tiba tepat di luar Kalabahi, ibu kota Alor.

Hari itu, kami menikmati pagi yang tak terlupakan bersama orang-orang suku Abui, yang menyambut kami dengan pertunjukan tarian tradisional pimpinan para “Mama”. Para wanita ini memulai tarian dengan gerakan lambat ke kiri dan kanan, dengan gelang kaki yang berdentang mengikuti irama, sementara ayunan kaki mereka menyapu tanah berwarna cokelat gelap.

Menjelang akhir, para penari mengundang kami untuk menari bersama. Kami berusaha mengikuti gerakan kaki yang rumit sambil menghitung ketukan gendang di kepala kami, sementara para pemimpin terus menari mengikuti irama dan tertawa melihat kami tersandung karena kaki ini masih canggung.

Tak terasa, kebersamaan kami dengan orang-orang Abui hampir berakhir. Penenun ikat tradisional tampak memamerkan hasil karya mereka berupa kain berwarna merah anggur, nila dan warna-warna alami, yang menampilkan ikonografi Kepulauan Alor, terutama penyu dan hewan-hewan laut lainnya.

Sebelum kembali dan melanjutkan petualangan kami di Alor, Corey dan saya mampir di ibu kotanya, Kalabahi. Sesampai di pasar induknya, kami melebur di antara para penjual dan pembeli yang memadati lorong-lorong kios yang sempit. Kami juga sempat mencicipi buah dan sayuran khas Alor yang lezat sambil meresapi kehidupan sehari-hari yang unik di sini.

Corey memakai rok lilit dari kain panjang buatan seorang pandai tenun suku Abui.

“Cantik!” puji seorang wanita dari balik tumpukan cabai yang disusun rapi. Kami berhenti untuk mengobrol sejenak dengannya. Corey, yang mengenakan busana lokal, mendapat pelukan kagum dari si penjaga kios. Saat itu, matahari sudah naik tinggi di atas pasar, dan kami pun kembali ke Laut Sawu untuk beristirahat.

Sekembalinya ke Seven Seas, kami mendapat pengarahan tentang penyelaman yang akan dilakukan sore hari, dimulai dari sebuah desa tak jauh dari Kalabahi.

Kami ingin melihat salah satu hewan laut paling langka di dunia—ikan kalajengking Rhinopias yang sulit sekali ditemukan.

Dijuluki “Incaran fotografi bawah laut”, hanya sedikit penggemar scuba yang pernah melihat Rhinopias. Spesies ikan kalajengking ini telah berevolusi untuk beradaptasi dengan lingkungannya dan biasanya hidup di antara tumbuhan lamun di lereng berpasir yang mengelilingi terumbu karang.

Setiba di lokasi penyelaman, tampak anak-anak penduduk setempat melompat dari perahu nelayan milik orang tua mereka. Tawa riang anak-anak itu menggema di air, sementara pemandu mempersiapkan kami untuk menyelam.

Setelah terjun, saya dan Corey berenang ke dasar laut yang berpasir. Bak penjelajah arkeologi, kami menemukan harta karun yang tenggelam dari pelabuhan nelayan terdekat, mulai dari pecahan tembikar sampai tali perahu.

Irwan, yang terkenal jeli melihat hewan laut sekecil apa pun, langsung mencari Rhinopias di dasar laut.

Saya sendiri asyik berenang sambil mengagumi ikan dan makhluk laut lainnya, terbuai di antara keindahan dunia bawah laut ini.

“Ting ting ting!” Terdengar tiga ketukan nyaring dari pointer logam milik Irwan, tanda bahwa ia menjumpai sesuatu. Kami pun berenang untuk melihat apa yang ia temukan. Irwan menunjuk sesuatu yang tampak seperti lamun yang menempel pada segumpal pasir. Setelah diperhatikan lebih lama, secara ajaib muncul sesosok Rhinopias yang langka.

Saya segera mengambil beberapa foto dengan kamera saya. Kilat lampu di dalam air menonjolkan rona merah pekat pada tubuh si ikan kalajengking. Saya sungguh tidak menyangka bisa menyaksikan hewan langka ini dari dekat. Saat udara di tangki scuba kami semakin rendah, Irwan memberi tanda dengan mengacungkan ibu jari—waktunya kembali ke permukaan.

Kami naik dan disambut kilau matahari sore, dengan cahaya keemasan yang menyinari deretan pohon kelapa di pantai.

Sekarang, saya mau itu,” kata Corey, menunjuk setandan kelapa hijau yang menggantung tinggi di pepohonan. Air kelapa segar tentu akan menjadi penutup yang sempurna setelah seharian bertualang, tetapi bagaimana cara memetiknya?

Untungnya, seorang bocah lelaki bernama Jhon datang dengan sampan bercadik untuk menawarkan bantuan. Ia pun segera mengumpulkan teman-temannya untuk membantunya memanjat pohon kelapa. Dengan sebilah parang, ia menebang buah-buah kelapa muda untuk para kru dan penumpang.

Ketika kami kembali ke kapal, Jhon dan temantemannya mendayung dengan sampan cadik mereka yang dipenuhi kelapa, bergabung dengan kami untuk menyaksikan cahaya terakhir hari itu memudar di Laut Sawu. Bintang berlian mulai bersinar di langit saat malam tiba di Alor.

Malam harinya, kami memulai perjalanan kembali ke pelabuhan di Maumere, meninggalkan keajaiban Alor. Walau hanya beberapa hari di sini, pesona kepulauan nan menakjubkan ini berhasil memancing imajinasi saya dan memenuhi memori kamera. Saya tahu pasti saya akan kembali untuk menjelajahi lebih jauh sudut Indonesia yang luar biasa ini.

JAKARTA TO KUPANG


Frequency 7 Penerbangan per minggu

Flight Time 3 hours

Book Now

icon_sight

5 Senses – Sight
RHINOPIAS SCORPIONFISH

Tersohor di dunia sebagai “Incaran Fotografi Bawah Laut”, ikan kalajengking Rhinopias yang langka adalah salah satu makhluk paling unik yang pernah dijumpai para petualang scuba. Ikan penghuni karang yang pandai bersembunyi ini hidup di sepanjang garis pantai Alor, satu-satunya tempat di dunia di mana ikan tropis ini terlihat.