Anambas

 

Bandara Matak, pintu masuk untuk berwisata ke Kepulauan Anambas adalah sebuah bandara mungil. Bandara ini dikelola oleh sebuah perusahaan tambang dan hanya mengakomodasi beberapa penerbangan setiap minggunya.

Setengah jam setelah saya dan rekan seperjalanan tiba, bandara ini sudah sepi. Sebagian besar pegawainya sudah pulang satu demi satu. Meninggalkan kami berdua yang duduk termangu di hadapan runway kosong. Tidak ada taksi bandara, tidak ada sinyal seluler. Kami seperti baru saja masuk portal antardimensi dan terlontar ke planet yang benar-benar asing.

Salah satu staf yang masih berada di bandara, Khairul Anam, melintas dan berhenti untuk menyapa kami. Perantau asli Padang ini baru beberapa bulan tinggal di Pulau Matak. “Hidup di sini lebih santai, Mas,” ujar Khairul sambil tergelak. “Bekerja tapi rasa liburan.” Apa yang dikatakan Khairul benar adanya. Saya pun merasakan hal yang sama, di pulau ini waktu menjadi lentur dan terasa begitu lamban.

Di atas peta, Kepulauan Anambas, yang merupakan bagian dari Kepulauan Riau, terdiri atas 256 pulau kecil tersebar seperti serpihan batu permata yang mengisi celah antara semenanjung Malaysia dan Kepulauan Riau. Selama berabad-abad, kepulauan ini telah menjadi persimpangan antara budaya Melayu dan Peranakan. Anda bisa mengaksesnya dengan penerbangan Garuda Indonesia dari Jakarta ke Tanjung Pinang, Bintan. Setelahnya, perjalanan ke kepulauan ini dilanjutkan dengan pesawat kecil atau kapal. Menurut Khairul, karena letaknya di perbatasan negara, sejak zaman dahulu penduduk pulau hidup makmur dari hasil berdagang dengan negara tetangga.

Dengan sabar, Khairul terus meladeni kami mengobrol sampai kami dijemput oleh Dedy dan Ari, kawan yang baru kami kenal lewat Instagram. Mereka berdua adalah anak-anak muda pegiat wisata yang akan mengantar kami menjelajahi Kepulauan Anambas.

Sore hari, ketika sinar matahari mulai redup, Dedy dan Ari membawa kami bersepeda motor keliling pulau. Sebagian besar lanskap Pulau Matak didominasi perbukitan. Antara satu desa dengan desa lainnya dihubungkan oleh jalan aspal yang mulus dengan kontur naik turun. Pohon cengkeh, kelapa dan pisang tumbuh merata memenuhi ladang-ladang liar yang berbatasan dengan hutan. Pemandangan tersebut, ditambah sinar matahari yang mulai keemasan, entah bagaimana, mengingatkan saya pada lukisan-lukisan tropis milik Gauguin.

Dalam perjalanan sore itu, kami juga mampir ke bengkel kerja milik Jupri, seorang pembuat gasing terkenal yang tinggal di Desa Ladan. Gasing adalah permainan tradisional Melayu Kuno yang dikenal di seluruh Nusantara dengan sebutan yang berbeda-beda. Orang-orang Anambas menganggapnya sebagai permainan istimewa dan setiap tahun mereka mengadakan turnamen gasing yang sengit, dengan melibatkan ratusan pemain. Gasing juara ditentukan oleh kekuatan putar dan keseimbangannya. “Jika gasing bisa berputar lama dan tidak pecah saat menabrak gasing lawan, maka dialah pemenangnya,” kata Jupri. Ia menunjukkan kepada saya beberapa gasing buatannya. Saya memegangnya satu per satu. Rata-rata seukuran telapak tangan, padat dan berat seperti anak timbangan. Menurut Jupri, gasing paling bagus terbuat dari kayu asam. Tetapi karena kayu tersebut langka, ia sering membuat gasing dari kayu mentigi dan kayu pelawan.

cara memutar gasing. Jupri melilit leher gasing dengan tali yang terbuat dari serat mangga. Sejurus kemudian, ia mengambil ancang-ancang dan syuuut, gasing dientakkan ke lantai. Saat gasing masih berputar cepat pada porosnya, dengan hati-hati Jupri menjungkit gasing tersebut dalam sebuah gerakan yang lihai dan memindahkannya ke atas sepotong kaca. “Gasing yang bagus bisa berputar semalaman,” kata Jupri yang mengaku gasing buatannya sering menjuarai pertandingan.

Esoknya, sebelum mengeksplorasi pulau-pulau, Dedy dan Ari mengajak kami mengunjungi pasar tradisional di Matak. Sambil menikmati keramaian pasar, kami menyeruput secangkir kopi kental dan makan nasi dagang di sebuah warung kecil. Rasanya menghanyutkan. Di hadapan saya, tersaji sebungkus nasi tradisional yang dimasak sempurna, lembut dan harum, seperti baru dimasak dengan santan yang memperkaya rasa. Di atasnya, ada sepotong kecil ikan tuna makerel dengan saus kari beraroma lengkuas dan serai.

 

Saat matahari makin tinggi di langit, kami beranjak ke dermaga di sisi lain pulau. Dedy membantu kami menyewa kapal cepat untuk berkeliling pulau. Tujuan pertama adalah sebuah beting yang tidak jauh dari Pulau Matak. Begitu kami tiba, burung-burung laut terbang menjauh. Hamparan pasir putih seukuran lapangan badminton menyambut kami. “Bentuk pasirnya berubah-ubah mengikuti arah angin dan ombak,” kata Dedy. Saat kami ke sana, pulau itu menyerupai bentuk hati.

Saat singgah di Pulau Penyali, saya menyaksikan sebuah resor sedang dibangun dan di tengah jalan speedboat yang kami tumpangi berpapasan dengan sebuah kapal katamaran milik wisatawan asing. Industri pariwisata memang kian menggelora sejak Anambas ditetapkan sebagai salah satu destinasi unggulan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Dengan aset ratusan pulau, saya bisa membayangkan di masa mendatang akan makin banyak kapal yang menyediakan layanan kapal rekreasi. Kapal-kapal ini akan membawa wisatawan menemukan titik-titik penyelaman dan menikmati sensasi yang ditawarkan oleh masing-masing pulau.

Keinginan saya untuk segera terjun ke air makin tak terbendung ketika mengunjungi Pulau Penjalin. Pulau ini memiliki lanskap sempurna; hamparan pasir putih yang tenang, tumpukan batu-batu granit raksasa dan ladang koral yang luas. Air lautnya tampak seperti lapisan giok tembus pandang. Dari atas kapal, saya dapat melihat ikan-ikan karang berenang berseliweran.

Etape terakhir dari penjelajahan antarpulau ini kami habiskan di Pulau Tokong Berlayar yang berjarak sekitar setengah jam dari Pulau Penyali. Azwar, sang nakhoda, membawa speedboat kami melesat cepat, menyibak air, meluncur di antara pulau-pulau kecil. Mendung tampak menggantung di kejauhan.

 

Pulau Tokong Berlayar adalah salah satu pulau terluar Indonesia yang berhadapan langsung dengan wilayah negara Vietnam. Secara fisik, pulau ini hanyalah rangkaian batu granit raksasa yang tersusun ganjil. Tidak ada hamparan pasir ataupun tanah di sana. Selain deru ombak, yang tersisa hanyalah kesunyian. Dari balik kapal yang bergoyang kencang, saya melihat burung-burung camar berdiri mematung memenuhi permukaan pulau.

 

Kondisi yang berbeda kami temui di Kota Tarempa, Pulau Siantan. Udara di sini terasa hangat dan gelombang lautnya lebih tenang karena terhalang oleh pulau-pulau kecil di sekeliling. Tarempa adalah pusat keramaian dan sentra pemerintahan di Kepulauan Anambas. Kota ini tidak terlalu luas, namun padat penduduk. Sebagian rumah penduduk menjorok ke atas laut dan sebagian lain menyebar di lereng bukit. Ini memberikan pemandangan kontras yang menarik. Sebagian rumah dibangun dengan struktur yang ditopang langsung oleh batuan alam. Sementara dari Kafe Bay Hill yang terletak di atas bukit, saya dapat melihat barisan rumah mewah yang berdiri di atas laut dangkal dan lokasi proyek pembangunan Masjid Agung Tarempa di sudut lain.

Memulai pagi di Tarempa belumlah lengkap tanpa menyesap kopi O (kopi hitam dengan sedikit gula) di kopitiam atau kedai kopi khas peranakan. Ada beberapa kopitiam di pusat kota, masing-masing menawarkan suasana yang berbeda. Saya mencoba dua di antaranya: Kedai Kopi Mak Alang dan Kedai Kopi Murai. Di Kedai Kopi Mak Alang, yang terletak di seberang pasar ikan, terdengar riuh rendah suara pedagang dan bau ikan segar memenuhi udara. Sementara, dari beranda Kedai Kopi Murai, kita bisa melihat lalu-lalang penduduk yang berangkat kerja dalam balutan seragam khas Melayu dengan latar belakang deretan ruko tua khas peranakan.

Untuk menemani secangkir kopi O, saya mengambil beberapa potong luti gendang, kudapan khas Anambas berupa roti goreng isi abon ikan dengan rasa manis pedas. Memulai pagi dengan kombinasi ajaib ini membuat saya percaya bahwa hari akan berjalan dengan baik-baik saja.