Atambua

Sekujur tubuh saya bersimbah peluh ketika mencapai lereng barat Teluk Gurita di pesisir Pulau Timor. Untungnya, pohon-pohon di bukit ini cukup rindang, sehingga saya bisa berteduh usai mendaki.

Di hadapan saya, teluk sempit berair kehijauan ini tampak hening, membawa pikiran saya kembali pada mitologi tentang kawasan pantai ini, yang sempat diceritakan Ma Ona, penjual makanan di alun-alun kota Atambua. Mitologi yang menyeret saya siang-siang nekat ke Teluk Gurita.

Syahdan, pada masa jaya perdagangan kayu cendana, banyak kapal asing Eropa dan Tiongkok hilir mudik ke Timor, yang berada di ujung selatan Asia. Salah satunya kapal dari Spanyol, yang mencoba masuk melalui teluk ini, namun nahas seekor gurita raksasa melilit dan menenggelamkan kapal serta para awaknya. Sejak saat itulah, teluk ini dinamakan Teluk Gurita, yang dalam bahasa setempat disebut Kuit Namon.

Teluk Gurita terletak paling ujung dari ruas jalan pesisir utara Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Sebelum mencapainya, saya terlebih dahulu melintasi jalan panjang yang membelah perbukitan dari pusat kota Atambua, kemudian mampir ke danau Kolam Susuk yang legendaris. Danau ini menyimpan sebuah legenda tentang penguasa lokal bernama Raja Lifao dan tujuh bidadari. Menurut cerita, bidadaribidadari itu singgah di tepi danau untuk beristirahat dan, supaya mereka tidak tertidur, sang raja mengirimkan seekor nyamuk. Kolam Susuk mulai terkenal pada 1970-an, setelah band Koes Plus mengunjunginya saat mereka tur ke Timor Barat. Kunjungan tersebut mengilhami lagu eponim, “Kolam Susu”.

Topografi berbukit-bukit menjadi ciri khas sebagian besar wilayah Atambua. Pagi hari, nuansa biru mewarnai seisi alam, namun begitu matahari meninggi, suhu udaranya berubah menyengat hingga senja dipungkasi oleh langit merah membara. Dengan luas 1.284,94 km² sementara jumlah penduduk kurang dari 300.000 jiwa, daerah ini menawarkan suasana lengang yang didambakan banyak petualang.

Saya mensyukuri perubahan infrastruktur yang digalakkan tahun-tahun belakangan ini di daerah-daerah perbatasan negeri, termasuk Atambua. Pengembangan dan pembaruan fasilitas publik, seperti jalan raya, bandar udara, pelabuhan dan pasar sangat membantu daerah tersebut bertumbuh. “Ini membuat kami antusias melakukan banyak hal demi mengenalkan Atambua kepada lebih banyak wisatawan,” ujar Yohanes Andes, Kepala Dinas Pariwisata setempat.

Di Pos Perbatasan Motaain, yang kini tertata apik, aktivitas pertunjukan seni maupun perniagaan diadakan secara reguler. Pantai Pasir Putih, Pantai Sukaer Laran serta Pantai Berduli, yang langsung mengapit pos ini, sudah dibenahi demi menarik lebih banyak pengunjung.

Tempat lain yang juga layak disambangi adalah Gunung Lakaan yang indah dan hanya beberapa jam berkendara dari Atambua. Perjalanan terasa menenangkan di sepanjang bukit kapur yang menyelimuti sungai dan air terjun, termasuk Air Terjun Mauhalek yang elok, yang tak pernah berhenti mengalir menuruni tebing bertingkat.

Saya melanjutkan penelusuran hingga ke sebuah lembah sunyi di kaki Gunung Lakaan, bernama Fulan Fehan. Pemandangannya menakjubkan dan agak surealis. Sabana hijau membentang luas dilatari kabut dan ditumbuhi kaktus. Kawanan kuda yang bebas berkeliaran saban hari, merumput sepuasnya di padang gurun yang tenang.

Sekali setahun (biasanya di musim kemarau), lembah ini merayakan Festival Fulan Fehan, di mana ribuan perempuan menuruni bukit-bukit sembari membawakan tarian Likurai dan menabuh tihar (gendang kecil). Tarian ini dahulu disuguhkan untuk menyambut pahlawan yang kembali dari pertempuran, tetapi sekarang bertujuan untuk melestarikan warisan tari tradisional dan biasanya dibawakan dalam acara seremonial untuk menyambut tamu dan para VIP atau pada festival budaya.

Di sebuah bukit yang tertutupi pepohonan lebat, terdapat benteng kuno yang disebut Benteng Makes, atau dikenal sebagai Benteng Tujuh Lapis, yang dibangun dari susunan bebatuan karang membentuk lingkaran. Saya masuk melalui pintu utama, kemudian mengitari satu demi satu pintu hingga mencapai titik tengah yang terisi oleh makam raja, panglima serta permaisuri Kerajaan Dirun, yang memerintah Timor pada abad ke-15.

Udara di dalam benteng ini sangat dingin, nyaris senantiasa disaput kabut tebal dan pepohonan juga bebatuan dalam kawasan ini terjalari lumut epifit. Setiap kali menarik napas, saya bisa merasakan udara gunung yang benar-benar murni. Berada di ketinggian lebih dari 1.R000 meter dpl, ini benteng kuno paling unik yang pernah saya temui di kawasan Nusa Tenggara.

Selain Gunung Lakaan, ada pula Gunung Mandeu yang spektakuler di Raimanuk, lima jam berkendara dari Atambua. Panoramanya memikat, hutan di kaki gunung ini masih lebat. Masyarakat setempat percaya bahwa Gunung Mandeu menyimpan banyak bukti sejarah kehidupan manusia purba Timor. Saya melihat situs–situs peninggalan leluhur orang Mandeu, berupa reruntuhan perkampungan yang didirikan di atas bebatuan.

Satu bukit di pinggir jalan Raimanuk, Kakeu Mantenu, memiliki pemandangan menakjubkan dan menjadi favorit anak-anak muda untuk berkumpul menjelang terbenamnya sang surya. Saya diberi tahu bahwa leluhur orang Raimanuk menciptakan ukiran kayu yang luar biasa indah. Biasanya digunakan untuk hiasan dinding dan interior. Motif yang dihadirkan umumnya makhluk hidup, seperti manusia, hewan dan tumbuhan dengan makna totem yang berkaitan dengan tempat tertentu dan saling berhubungan.

Hari yang lain, Yohanes Andes menyarankan saya pergi ke Kabupaten Lamaknen, setelah ia tahu bahwa saya sangat menyukai kampung-kampung tradisional. Saya melewati lembah demi lembah selama dua jam, sebelum sampai di Kampung adat Nualain yang disebut-sebut sebagai jantung peradaban suku Bunak, satu-satunya suku di Timor yang sistem tuturnya bukan bagian dari bahasa Austronesia, melainkan rumpun bahasa Trans-Nugini (Papua). Sebagian jalan sudah diaspal dan sebagian lainnya masih berkerikil. Untuk mencapai tempat ini, diperlukan pemandu wisata lokal, karena lokasi cukup terisolasi dan tidak banyak penduduk.

Dihuni oleh 32 suku dengan 14 rumah adat, Nualain merupakan kampung adat terbesar di Pulau Timor. Dikelilingi pepohonan Pur (sejenis Beringin) yang lebat, dan tiga mazbah dari susunan batu kuno untuk ritual, konstruksi rumah-rumah di sini begitu padu dengan alam dan bisa jadi referensi yang bagus bagi siapa pun yang tertarik pada arsitektur etnik.

Saat saya datang, warga baru usai melaksanakan ritual berburu. “Dalam satu tahun ada tiga ritual penting yang kami lakukan. Biasanya ritual-ritual ini berlangsung selama April hingga November,” tutur Antonius Mau, tetua adat Nualain. Meskipun agak kecewa karena ritual telah usai, saya mengagumi tata letak kampung ini. “Tidak apa-apa, akan kami kabarkan jika ritual hendak digelar lagi tahun mendatang,” Antonius menghibur saya.

Menghabiskan hari terakhir di pusat kota Atambua, saya kembali menikmati Jagung Bose, penganan mirip bubur dari jagung, kacang merah dan santan kaya rasa, yang dimasak secara tradisional oleh Ma Ona. Setiap senja, seiring dentang lonceng Gereja Katedral Santa Maria Imakulata, Ma Ona dan kawanan penjual jagung bakar menggelar dagangan mereka di alun-alun kota. “Jadi, apakah kamu suka Atambua?” tanya Ma Ona. “Ya, sepertinya saya akan datang lagi, belum banyak yang saya lihat,” jawab saya.

Saya hendak menceritakan pengalaman hari ini, namun Ma Ona tengah sibuk melayani para pembeli, yang sebagian tampak berasal dari luar kota. Saya pun merasa Atambua bukan lagi kota senyap di sudut negeri, seiring bertumbuhnya apresiasi terhadap keindahan destinasi wisata di dalam negeri.