Banda Aceh to Sabang

Di Kota Banda Aceh, sejarah terjaga dengan baik. Plakat JHR Köhler yang masih terpasang di kompleks Masjid Raya Baiturrahman menjadi pengingat akan masa lalu Aceh yang penuh gejolak dan menggugah keingintahuan.

Aceh diyakini sebagai pintu masuknya Islam ke Nusantara hampir delapan abad yang lalu. Pada abad ke-17, Kesultanan Aceh menjadi kekuatan besar, terkaya dan terkuat di Selat Malaka. Namun di sisi lain, Aceh juga menjadi incaran orang-orang Eropa dalam upaya memperluas kekuasaan maritim mereka, dan pada akhirnya melatarbelakangi serbuan Belanda yang dipimpin Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler, dengan tujuan membangun sebuah benteng di muara Sungai Aceh pada akhir abad ke-19.

Köhler wafat dalam mengejar ambisi, persisnya saat ia hendak menguasai masjid raya. Kala itu, Belanda mencoba berbagai cara untuk membangun kekuasaan mereka, mulai dari blokade laut hingga membangun benteng, namun hanya sedikit yang berhasil.

Selain plakat di masjid yang mengingatkan pada kisah JHR Köhler, Aceh dikenal dengan warisan Islam yang masih melekat sampai saat ini. Hal ini terlihat tidak hanya di masjid-masjidnya yang dirancang dan dihias dengan indah, tetapi juga dalam masyarakat dan budayanya. Provinsi dengan persentase populasi muslim tertinggi di Indonesia ini telah menjadi salah satu destinasi wisata islami paling populer di Indonesia, dan, dengan tersebarnya cerita tentang keindahan pemandangan dan pantai-pantainya, Aceh pun makin dikenal wisatawan seluruh dunia.

Di Banda Aceh, ibu kota sekaligus kota terbesarnya, saya duduk bersama seorang pelancong asal Eropa yang sibuk memotret di alun-alun teduh Masjid Raya Baiturrahman. Masjid ini sebenarnya dibangun kembali oleh Belanda dan selesai pada tahun 1881 untuk menggantikan masjid aslinya, yang terbakar dalam pertempuran tahun 1873.

Masjid baru tersebut dibangun dengan gaya arsitektur Mughal yang megah dan diatapi kubah-kubah hitam. Kemegahannya kian menyerlah berkat penambahan lantai marmer dan tangga dari Tiongkok, jendelajendela kaca patri dari Belgia dan lampu gantung perunggu yang mewah. Masjid terbesar di Aceh yang dikelilingi kolam dan taman ini terbuka bagi siapa saja, muslim ataupun non-muslim. Dengan syarat, pengunjung mengenakan pakaian sopan: wanita harus menggunakan kerudung dan pria dilarang mengenakan celana pendek.

Di luar kawasan Masjid Baiturrahman, Anda akan melihat Sungai Krueng Aceh yang membelah kota dengan jalan-jalan lebar dan pepohonan rimbun di kedua sisinya. Selain itu, kota di pesisir ini memiliki banyak taman yang rindang, di antaranya Taman Blang Padang, Taman Sari Gunongan, dan Taman Putroe Phang. Tiap sore, warga kota berjalan santai menyusuri taman, sementara penjual makanan berjajar menggugah selera.

Tak jauh dari taman, ada Museum Tsunami, yang menceritakan bagaimana pantai barat Aceh luluh lantak oleh tsunami dari Samudra Hindia pada Desember 2004.

Saat memasuki bangunan museum, yang dirancang menyerupai bentuk kapal, saya terenyuh mendengar suara seperti gemuruh gelombang besar di sepanjang koridor-koridornya. Di ruangan yang disebut Space of Sorrow atau Sumur Doa, saya kembali terpegun melihat daftar panjang nama korban jiwa dalam bencana ini. Mengunjungi ruangan tersebut seperti memberikan doa bagi para korban. Setelah itu, saya bergerak untuk menengok satu pemandangan yang tak biasa, sebuah perahu yang tertancap di atap rumah di Lampulo, 2 km dari Banda Aceh. Menurut cerita penduduk setempat, 59 orang selamat dari tsunami dengan menaiki kapal tersebut, yang masuk ke darat karena terbawa gelombang tsunami. Saat melihatnya,saya bisa membayangkan bagaimana kuat dan besarnya gelombang laut emorakporandakan Aceh saat itu.

Keesokan harinya, ditemani pemuda pemandu wisata bernama Wahyu, saya berkeliling kota. Kami menyambangi pantai-pantai berpasir putih di Lhoknga dan Lampuuk hingga ke perbukitan Geurutee di selatan. Setelah menyantap beragam makanan, kami bergeser ke pantai lain. Semuanya indah dan memesona. Saat senja luluh di langit, menara-menara masjid mengumandangkan azan dan aroma kopi memacak ke jalan-jalan.

“Di Banda Aceh, hidup dimulai pada malam hari dan segala perbincangan disemai di warung kopi,” kata Sayed Emil, lelaki menjelang paruh baya yang duduk di depan saya. Kami bersalaman. Di sekeliling kami, tua muda, pria dan wanita, termasuk dua turis asing duduk di bangku-bangku panjang warung kopi.

Tampaknya, kopi tak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh, bahkan konon, panglima-panglima perang Aceh harus minum kopi dulu sebelum bertempur melawan tentara kolonial. Kopi Aceh, yang disajikan di meja-meja makan, restoran-restoran dan kafe-kafe di seluruh kota, didatangkan dari perbukitan Gayo di Aceh Tengah. “Jumlah warung kopi di Banda Aceh?Aih, ribuan. Tak terhitung. Jumlahnya banyak sekali dan tidak masuk akal jika dibandingkan dengan jumlah penduduk kota ini sendiri. Semua bersaing menawarkan cita rasa kopi terbaik,” jelas Sayid Emil.

Di Gaster Café, saya mencicipi kopi yang terdengar baru di telinga saya, namanya sanger. Racikan kopi dan susu, namun rasanya ringan dan manis. Kota ini memiliki banyak sekali warung kopi dengan beragam varian dan cita rasa.

Dari pagi hingga malam hari, warung-warung kopi menguapkan aromanya, sementara restoran-restoran mengembuskan cita rasa rempah ke udara. Saya berpindah dari satu warung ke warung lainnya. Di sebuah warung, saya bertemu Rima Melati yang pernah menyandang predikat Putri Pariwisata Provinsi Nangroe Aceh Darussalam tahun lalu. Ia juga mendapat julukan “Miss Coffee”.

“Tujuh dari sepuluh teman perempuan saya penyuka kopi. Kopi adalah prestise dan melambangkan status di sini,” Rima mulai bertutur di pojok warung yang ramai. Ia lalu membahas status Aceh sebagai destinasi wisata, dalam konteks hukum dan budayanya yang konservatif. “Di Jakarta, teman-teman saya sering bertanya apakah Aceh aman. Ya, amanlah. Aceh sudah benar-benar aman sejak lama,” tegasnya.

“Peraturan syariah tidak mengekang,” lanjutnya, “tetapi, wisatawan juga harus menghormati peraturan di Aceh dengan menutup aurat. Dan Aceh lebih terbuka untuk wisatawan keluarga, atau pasangan suami istri.” Saya juga mengobrol dengan Pasha, seorang penata rias, yang menyarankan para pelancong tidak mengenakan celana pendek atau pakaian yang terlalu terbuka.

Esoknya, saya kembali menyambangi pantai. Di Pantai Ulee Lheue, saya menyeruput air kelapa segar seraya memandangi lautan biru tak bertepi. Ombak menghantam tepian tebing dan saya bisa melihat Pulau Weh di kejauhan.

Terletak di utara Banda Aceh, Pulau Weh adalah rumah Kota Sabang, kota paling utara sekaligus paling barat di Indonesia. Walau hanya dua jam perjalanan laut dengan feri (atau satu jam dengan kapal ekspres), kota ini sangat kontras dengan Banda Aceh. Suasananya begitu sepi, jauh dari hiruk pikuk dan tidak banyak kendaraan. Di pulau seluas kurang lebih 150 km2 ini, tak ada mal atau bioskop dan penduduknya hanya 30.000 jiwa.

Namun, lautnya seperti magnet bagi para penyelam dan pantai-pantainya menarik banyak pengunjung yang ingin menikmati ketenangan. Selain itu, Sabang memiliki peraturan syariah yang lebih longgar dibanding tempat lain di seantero Aceh. Di Sabang, wisatawan bisa bebas bercelana pendek.

Saya pun menggunakan celana pendek saat berperahu di sekitar Arus Balee, spot menyelam di antara Pulau Rubiah dan Seulako. Di sebuah teluk antara Krueng Raya dan Iboih, pemandu menyilakan saya untuk menyelam. Mengenakan celana renang, saya pun turun ke air. Teman perempuan saya berenang meliuk-liuk di antara gelembung hangat yang menyembur dari dasar laut.

Weh adalah situs warisan geovulkanis. Aroma belerang menyembur dari dasar laut lewat lubang-lubang fumarol yang mengeluarkan gelembung udara hangat, sementara ikan warna-warni berenang ke sana kemari. Baru kali ini saya melihat panas bumi keluar lewat celah di dasar laut, beraroma belerang, membuat air laut terasa hangat.

Di Desa Pria Laot di bagian selatan Pulau Weh, ada air terjun sejuk menunggu. Di Sabang, beragam destinasi wisata terletak saling berdekatan. Dari Tugu Nol Kilometer, saya hanya menghabiskan waktu setengah jam untuk sampai di Danau Aneuk Laot. Untuk ukuran pulau yang relatif kecil, Weh memiliki banyak sekali destinasi wisata. Dan lagi-lagi, sejarah terpelihara utuh di Aceh.

Sebagaimana di Banda Aceh, Sabang lebih ramai pada malam hari. Kafe-kafe penuh dan aroma makanan menyeruak di udara. Saya menyantap sate gurita sambil duduk memandangi laut yang terhampar dan lampu-lampu yang menyinari jalan.

Seraya mengingat hari-hari santai yang saya habiskan di pantai pasir putih dan menjelajahi keindahan terumbu karang yang mengelilingi pulau dengan kehidupan lautnya yang berlimpah, saya menyadari bahwa saya telah menemukan sepetak kecilsurga di bumi. Saat ini Aceh mulai dikenal sebagai daerah tujuan wisata, dan cerita tentang keindahannya mulai tersebar ke seluruh dunia.

From Travel Colours November 2018