Belitung

Pada satu sore di hari Minggu bulan Oktober, saya makan di sebuah kafe pantai di Tanjung Kelayang, di mana setahun lalu saya memulai perjalanan wisata pulau melintasi Laut Jawa yang berkilau dengan warna biru kehijauan.

Saat itu, cuma ada dua restoran yang berdiri di hamparan pasir putih ini, ditambah perahu-perahu berwarna cerah yang terapung di pelabuhan dan batu-batu granit yang menjulang di kejauhan.

Sekarang, berjajar toko-toko pakaian, kantor agen wisata dan sebuah hotel dalam tahap pembangunan. Hanya lima menit dari sana, ada lapangan golf 18-hole Black Rocks yang hampir siap digunakan. Maklum, Tanjung Kelayang menjadi bagian dari ‘‘10 Bali Baru’’, sebuah program pemerintah untuk meningkatkan pariwisata di berbagai lokasi di seluruh Indonesia. Proyek senilai US$2,5 miliar telah ditawarkan kepada investor dalam upaya menciptakan zona ekonomi pariwisata di sudut barat laut Belitung ini.

Tidak heran melihat kawasan ini menjadi target pembangunan pariwisata. Banyak pengunjung datang ke sini untuk snorkelling dan memotret rangkaian pulau dengan formasi bebatuan yang unik, yakni Pulau Batu Garuda, Pulau Batu Berlayar dan Pulau Babi Kecil, sebelum tiba di Pulau Lengkuas, pulau ikon Belitung, untuk mereguk air kelapa di bawah pohon, diselimuti bayangan mercusuar Belanda 1882 yang terpelihara sempurna.

Pemandangan spektakuler Belitung sebenarnya sudah lama siap dieksplorasi. Sepuluh tahun lalu, pesona kawasan pusat pertambangan ini diabadikan dalam film Laskar Pelangi, arahan Riri Riza tahun 2008 dari novel karya Andrea Hirata, yang menjadi box-office terbesar di Indonesia dan membuat Belitung dibanjiri wisatawan. Adegan-adegannya banyak memanfaatkan keindahan lokasi, termasuk Desa Gantung di sebelah timur dan Tanjung Tinggi, yang dihiasi bebatuan warna krem hasil proses alam selama jutaan tahun dan air sebening kristal yang memperlihatkan keindahan terumbu karangnya.

Kembali ke ibu kota Tanjung Pandan setelah malam, nyaris tidak ada bangku kosong di bar musik di tepi Pantai Tanjung Pendam yang berbentuk tapal kuda. Zach Clayton, seorang pengusaha muda asal Amerika yang sudah lima tahun tinggal di sini, bercerita tentang hotel yang ia bangun di Tanjung Kelayang, dan akan dibuka pada awal 2019. “Saya melihat jumlah turis Barat yang datang ke sini tahun lalu lebih banyak daripada empat tahun sebelumnya,” katanya. “Tempat ini bisa seperti Bali dalam 15 tahun ke depan.”

Fauzhan Azhari tinggal di sini sejak kecil dan sekarang bekerja di Hotel Fairfield by Marriott, yang hanya 10 menit dari pusat kota dan menyuguhkan pemandangan matahari terbenam di Belitung yang selalu memikat. “Hotel bintang lima pertama akan dibuka di zona ekonomi khusus,” katanya. “Semua berubah dengan cepat.” Kedai Kelapa, yang berjarak dua menit, membuktikan apa yang dikatakan Fauzhan. Kafe di halaman terbuka ini menyajikan kopi lokal aromatik dengan pemandangan mural trendi. Di pusat kota, truk-truk penjual makanan menawarkan sajian seperti Thai tea dan kebab.

Namun, terlepas dari pengaruh modern, Belitung masih sama seperti dulu, tetap bangga dengan tradisi dan sejarahnya yang unik. Tipografi antik masih menghiasi fasad toko-toko kuno milik keluarga, dan bahkan ada satu toko yang masih menyediakan jasa pencucian foto. Sementara di Museum Tanjung Pandan, pengunjung disuguhi koleksi artefak-artefak dari era kejayaan pertambangan, kala Belitung menjadi produsen sepertiga timah dunia. Dan di seberang pos polisi, ada tugu batu satam, batu permata langka.

Setelah melahap seporsi mi gurih dan segelas es jeruk kunci di Mie Belitung Atep, rumah makan berumur 45 tahun, saya bertemu seorang pria warga setempat yang menjelaskan dengan detail sejarah pulau ini. Ia menunjuk potret John Francis Loudon, orang Skotlandia yang menjadi manajer pertama Billiton Maatschappij, perusahaan kolonial yang mengawasi penambangan timah di Belitung pada 1850-an dan akhirnya menjadi raksasa pertambangan global, BHP Billiton. Berbalik badan, ia menunjuk ke arah menara jam, yang dulu menjadi kantor pusat Billiton. Seperti penduduk Belitung lain, ia begitu bangga pada pulau dan juga kekayaan warisannya.

Sementara daerah lain menangkap potensi wisata Belitung, Tanjung Pandan tak banyak terjamah modernisasi. Jalan-jalannya tidak terhalang bangunan tinggi atau mal. Sebaliknya, bangunan yang menonjol adalah rumah-rumah Belanda bercat biru terang dan hijau kelabu, yang kini digunakan sebagai kantor pemerintah. Jarak 10 menit ke utara, terdapat sebuah objek wisata yang sangat unik, yakni Danau Kaolin. Dengan air biru yang memenuhi lubang bekas tambang berwarna putih terang, danau ini akan selalu membuat Anda terpana meski sudah berulang kali mengunjunginya.

Berkeliling pulau, yang dihuni deretan bungalo warna-warni dengan taman-taman di sepanjang tepi jalan, adalah sebuah perjalanan menikmati ketenangan. Desa-desa kecilnya terpusat di sekitar warung, dan satu-satunya pengaruh modernitas di sini adalah toko serba ada yang menjamur. Dalam perjalanan ke Kota Manggar dari Giri Jati desa Bali di utara Belitung, yang dijuluki ‘Balitung’—Anda akan melintasi perkebunan sawit, kelapa dan lada, serta lanskap kapur yang menghiasi daratan Belitung.

Di Desa Gantung, ada satu tempat yang tak boleh dilewatkan, yakni Museum Kata Andrea Hirata, sumbangan edukasi untuk pulau ini yang dibangun oleh sang novelis. Selain dikenal sebagai satu-satunya museum sastra di Indonesia, banyak yang ditawarkan di museum ini. Di tengahnya, ada Kupi Kuli, kedai kopi tradisional Melayu, perpustakaan di sudut museum dan di bagian belakang terdapat Sekolah Laskar Pelangi, ruang kelas yang bisa digunakan anak-anak penduduk lokal secara gratis. Museum ini pun menarik para pencinta desain, sejarah, penikmat buku. Rangkaian ruangnya memanjakan mata dengan spektrum warna yang beraneka, deretan pelengkung berwarna pastel di bagian luar dan pajangan dinding yang menceritakan kisah Belitung.

Di perjalanan dari Gantung, sebuah jembatan melintangi Sungai Lenggang yang tampak tenang, tempat buaya merayau dan perahu-perahu bangka ditambatkan di tepiannya. Bergeser ke timur, tampak anjing-anjing berbaring malas di luar rumah-rumah kayu di permukiman warga Tionghoa, Kelapa Kampit. Selain terkenal dengan tambang terbuka Nam Salu yang dipenuhi air berwarna hijau yang rencananya akan diubah menjadi taman umum daerah ini memiliki kelenteng yang tak kalah menakjubkan. Kelenteng yang didirikan tahun 1938 ini dirawat dengan sangat baik, sehingga tampak seperti bangunan baru.

Perjalanan di pulau yang memiliki banyak tempat menarik dan pemandangan yang fantastis ini memang mengasyikkan. Ibu kotanya, Tanjung Pandan, berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia. Populasinya kecil, jalannya kokoh, lalu lintas lengang dan tak banyak polusi udara dan suara.

Dengan bergulirnya rencana membuka Belitung kepada khalayak baru, sekaranglah waktu terbaik untuk menikmati harmoni lanskapnya selagi pulau ini masih memancarkan pesona lawas yang unik.

From Travel Colours November 2018