Chiang Rai

Pada 1262, Raja Mangrai dari Ngoenyang menyatukan sejumlah kota yang dikuasainya menjadi satu kerajaan, yang dalam perjalanannya melahirkan Kota Chiang Rai.

Lima abad kemudian, Lanna (“Kerajaan Sejuta Sawah”) memiliki pengaruh regional yang kuat, namun pada akhirnya menyerahkan diri kepada Ayutthaya di bagian selatan.

“Jangan salah,” ujar seorang pemuda di depan saya seraya menyesap kopi di rumah keluarga yang dia ubah menjadi penginapan B&B, menyela pelajaran sejarah yang saya terima. “Kami tetaplah penduduk Lanna, bahasa kami, makanan kami, tempat kami beribadah. Dan selamanya tidak akan berubah.”

Chiang Rai, kota seluas lebih dari 11.000 km2 dengan penduduk sekitar 70.000 jiwa di jantung provinsi, kini tampak begitu tenang dengan sejumlah peninggalan dari zaman kerajaan yang masih tampak terjaga. Ketika saya menyusuri bekas ibu kota Lanna, menjelajahi perkampungan dan situs-situs keagamaan dengan keajaiban alam yang mendampinginya, sisa-sisa kejayaan masa lalu perlahan mulai tampak jelas.

Hitam dan Biru, Tua Namun Baru

Berjalan melewati gang-gang dan jalan-jalan sepi di pusat Chiang Rai meninggalkan kesan tersendiri berkaitan dengan bangunan bersejarah di kota ini. Di petang hari, saya menemukan Wat Phra Singh yang berusia 14 abad, dengan halaman depan yang bersih sama sekali dari guguran bunga kemboja yang menyelimuti kuil. Kuil tersebut masih tampak sama seperti pada masa kejayaan Kerajaan Lanna.

Dalam perjalanan pulang menuju penginapan, saya mengambil jalan alternatif yang melewati Buddha of Wat Jet Yod. Saya sungguh terpukau dengan mural sejumlah zodiak yang mampu mengubah langit-langit di atas kepala saya menjadi langit malam nan indah, tapi kemudian teringat bahwa besok pagi sekali saya sudah harus bertolak.

Perjalanan pagi hari diawali dari Wat Rong Khun, atau lebih dikenal dengan White Temple, yang resmi dibuka pada 1997 dan lokasinya hanya beberapa kilometer ke selatan dari pusat kota. Didesain oleh Chalermchai Kositpipat, yang tampaknya merupakan seniman Chiang Rai paling terkenal yang masih hidup, kuil ini lebih cenderung menjadi objek wisata di Chiang Rai.

Bergeser ke utara, saya sampai di Baan Dam atau Black House, sebuah museum karya seni yang terinspirasi dari masyarakat Lanna dan dibangun seorang visioner terkenal, mendiang Thawan Duchanee. Desain Black House yang hitam dan kelam terasa begitu kontras dengan desain White Temple yang, ketika saya masuki, terasa menyenangkan. Wat Rong Suea Ten, atau Blue Temple merupakan kuil terakhir dari tiga objek wisata teratas di Chiang Rai. Sebuah oase menenteramkan dengan paduan cat biru langit dan biru kobalt, yang berada di antara kuil hitam dan kuil putih.

Hanya sepelempar batu dari Blue Temple, terdapat kafe khusus kopi Chivit Thamma Da yang berdesain unik dan menarik. Di teras kafe yang terbuka ini, saya menikmati menu santap siang sambil memandangi keindahan Sungai Kok. Agenda dilanjutkan dengan menumpang taksi kembali ke pusat kota, lalu menuju Clock Tower di kala matahari hampir terbenam dan begitu malam tiba dengan sempurna, ada Night Bazaar yang semarak.

Keajaiban di Mekong

“Untuk mengenal Lanna seutuhnya” kata-kata dari seorang pemuda mengiang di telinga ketika saya tengah menuju ramai dan semrawutnya stasiun bus Chiang Rai di keesokan harinya, “Anda harus meninggalkan ibu kota, dan pergi memasuki kerajaan.” Saya ikuti saran tersebut bulat-bulat dengan menumpang bus bergaya retro, berkursi kayu dengan plafon bus dari bahan krom, yang menunjukkan satu titik di masa lalu belumlah terlalu lama ketimbang masa kekuasaan Raja Mangrai.

Saya pun pergi menuju Mae Sai, kota yang baru-baru ini menjadi terkenal karena anggota tim sepak bola Wild Boars terjebak di dalam gua di kota itu. Bagi Anda yang belum tahu, kota perbatasan ini (Anda bisa berjalan kaki ke Myanmar dari sini) merupakan titik bertolak bagi turis yang akan berwisata satu hari penuh ke kawasan Golden Triangle yang mengelilingi Chiang Rai.

Seperti halnya Chiang Rai, Mae Sai memiliki banyak wajah, kota dengan nama Thailand tetapi dengan arsitektur khas Burma. Hal ini dapat dilihat di Wat Phra That Doi Wao, tempat saya menikmati indahnya panorama Kota Tachileik yang berada di Myanmar. Walau Mae Sai sendiri cukup menarik, baik Mae Sai ataupun Chiang Saen, yang berada di seberang Mekong dari arah Laos di timur Golden Triangle, dapat langsung mengeklaim diri sebagai pusat daya tarik kawasan segitiga emas ini.

Untuk itu, saya harus menyewa truk pikap songthaew untuk menuju “triangle”, nama yang secara harfiah diberikan kepada kawasan segitiga tempat tiga negara: Myanmar, Laos dan Thailand, bertemu.

Sopir menurunkan saya di tempat pemerintah Thailand mendirikan sebuah monumen kapal
layar raksasa dengan patung Buddha berlapiskan emas di bagian atas badan kapal. Didirikannya monumen ini tidak hanya untuk menghormati kawasan segitiga tempat monumen tersebut, tetapi juga untuk proyek jangka panjang Royal Project yang berhasil mengubah ekonomi lokal menjadi fokus pada kopi.

Hamparan Hijau

Dua puluh empat jam kemudian, saya sudah berada di kafe Doi Chaang Coffee Farm, di mana harum aroma bubuk kopinya langsung tercium kala saya menyesap secangkir Americano.

Di sini, di atas ketinggian lebih dari 1.000 m di pegunungan yang berlokasi di barat daya Chiang Rai, pemandangan perahu-perahu khas Mekong dan bus-bus turis yang hilir mudik di antara kuil putih, hitam dan biru tampak begitu jauh, sejauh jarak waktu yang berlalu ketika Kerajaan Lanna jatuh ke tangan Ayutthaya pada akhir abad ke-18.

Setelah berjalan sebentar melewati perkebunan di lereng pegunungan, tempat asal kopi yang saya nikmati di kafe tadi, saya pun menuju sebuah jalan setapak. Jalan yang tampaknya jarang dilewati itu membawa saya membelah hutan selama lebih dari satu jam, hingga akhirnya terdengarlah suara gemuruh air jatuh. Tampak kemegahan air terjun Khun Korn Waterfall hadir di depan mata. Seketika itu pula tubuh saya yang penuh keringat itu terbasahi oleh cipratan air terjun yang jatuh memantul mengenai bebatuan.

Di tengah perjalanan kembali ke kota, saya singgah ke satu tempat yang banyak dikunjungi (sayangnya setelah petualangan seru yang saya alami sebelumnya, tempat ini jadi terasa kurang menantang) Singha Park, di mana hamparan kebun teh oolongnya yang ditata apik jauh lebih mengesankan ketimbang identiknya tempat ini dengan minuman yang banyak ditemukan di Thailand.

Suatu Malam Bersama Sang Dewi

“Itu adalah Wat Huai Pla Kung,” ujar seorang pemuda yang sudah saya anggap sebagai teman. Saya langsung teringat monumen yang saya lihat beberapa hari lalu dari pesawat saat akan mendarat. “Di sanalah,

Guan Yin (Dewi Pengampun dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa) mengawasi kota kami.” Guan Yin sendiri pastinya tidak berada di sana, walaupun secara fisik patung setinggi 80 m yang sedang duduk di atas kelopak teratai tampak meyakinkan untuk mewakili keberadaan Sang Dewi. Saya sengaja datang ke tempat ini untuk menyaksikan keindahan senja, walaupun (di musim penghujan seperti saat ini) cakrawala tidak maksimal menampakkan pesonanya.

Warna biru pucat di langit siang itu berangsur menjadi biru pastel, lalu melebur ke dalam warna nila, beralih menjadi biru laut dan, tiba-tiba, gelap pun menyelimuti. Di saat itulah, patung Sang Dewi yang diliputi cahaya di tengah pekatnya gelap malam, jadi tampak seperti melayang. Andai tidak sedang berdiri menapak lantai, sepertinya saya pun sudah terbawa larut dalam imaji.

Ketika sampai di penginapan yang menjadi rumah saya selama akhir pekan yang panjang di Chiang Rai ini, sang pemilik rumah dan keluarganya sudah terlelap. Saat saya terjatuh di alam mimpi, jiwa Kerajaan Lanna, dengan masyarakatnya yang bangga namun tetap rendah hati, masih terus bangun terjaga dalam benak saya. Dengungnya samar, seperti suara dari kabel listrik yang tergantung di luar jendela kamar saya.