Hampshire

Di kota pelabuhan bersejarah Southampton, Sungai Test bertembung dengan anak-anak sungai lain di muara yang luas dan dingin, cukup luas sehingga membuat kapal-kapal pesiar dan kapal kontainer terlihat mungil. Namun, bagian hulunya sangat kontras.

Di sudut kecil Inggris yang subur, di sepanjang sisi barat Hampshire, Sungai Test mengalir sejauh 62 km, yang sebagian besarnya dangkal (terbagi dari beberapa aliran dan kanal), melalui perbukitan kapur dan desa-desa serta kota nan cantik, dengan nama-nama seperti Longparish, Stockbridge dan Longstock.

“Aliran kapur” ini langka. Hanya ada sekitar 200 di dunia, dan kebanyakan ada di Inggris. Aliran air kapur sangat jernih, kaya mineral—yang baik untuk ekosistem sungai—dangkal, dingin dan laju, sehingga disukai ikan trout dan salmon liar. Tidak mengherankan bila aliran kapur ini, khususnya Test, terkenal di seluruh dunia sebagai tempat memancing berkelas.

Pemancing Profesional

Kegiatan memancing di sini bukan “duduk di kursi dan menunggu umpan disambar ikan”. Di sini, para pemancing lebih suka berburu dengan teknik “fly fishing”. Biasanya, pemancing berjalan di sepanjang tepi sungai, tetapi kadang-kadang mereka melintas di tengah sungai dan—agar tidak menakuti ikan bermata tajam yang sedang mereka buntuti—bergerak perlahan serta bersembunyi di balik pepohonan dan ilalang tinggi yang subur di tepi sungai.

Seperti sungai-sungai pemancingan lainnya, Test terbagi dalam beberapa “beat” atau lokasi pemancingan. Salah satunya di Mottisfont Abbey House. Di sinilah teknik “dry fly fishing” modern (menggunakan joran dan tali khusus dan, yang paling penting, “fly” atau serangga buatan yang mengapung di permukaan air) diciptakan oleh Mr F.M. Halford pada 1914.

Saya bertemu dua pencinta olahraga ini, Peter McLeod dan Alex Jardine, di “Bullington Manor Beat 2”, beberapa mil ke hulu dari Mottisfont. Keduanya adalah pemancing profesional yang berkeliling dunia mengajak pemancing individu dan kelompok ke lokasi-lokasi memancing terbaik. Menurut mereka, aliran kapur di Hampshire tak ada duanya.

Alex (seorang fly fisher yang disegani, yang mengikuti jejak ayah dan kakeknya) memilih satu dari ratusan fly dari dalam kantong, kemudian melemparkannya dan mengatur kembali tali pancing dengan teknik khas fly fishing: lemparan cepat dan akurat yang memposisikan tali dan umpan di permukaan air. Tak perlu waktu lama, ia berhasil mendapatkan ikan grayling mengkilat dan kuat (anggota famili salmon). Lalat capung beterbangan di pinggir sungai yang dipenuhi bunga liar, dan saat Alex melepaskan kembali ikan tangkapannya ke sungai, saya menyadari betapa kayanya kehidupan liar di kawasan ini.

Bahkan, kerbau pun ada di sini, tetapi tentunya hewan herbivora tersebut tidak suka ikan di Sungai Test, yang mengandung minyak menyehatkan.

Menggiring Kerbau

“Beberapa ekor kabur,” kata Dagan James tertawa saat mobil four-wheel-nya berhenti di jalur ladang dan kami melompat keluar mobil. “Saya ditelepon, dan kami harus buru-buru ke desa untuk menggiring mereka kembali ke peternakan.” Ini bukan pemandangan yang biasa: kerbau India melahap bunga-bunga taman yang cantik di kesunyian desa Inggris.

Pada tahun 2000, Dagan meninggalkan kehidupan sebagai pelukis dan penulis di Prancis dan kembali ke Hampshire bersama istrinya, Jess, demi mengurus pertanian warisan kakeknya. Dengan pemikiran muda dan kreatif, pasangan tersebut membawa sudut pandang baru. Mereka mengubah lahan pertanian intensif menjadi pertanian alami berkelanjutan dan peternakan padang rumput.

Saat kami mendekati kerbau-kerbau mereka, saya melihat padang rumput subur di sekeliling kami dipenuhi bunga liar dan tumbuhan herba, chicory dan semanggi. Metode Dagan yang merotasi padang penggembalaan (kerbau tak hanya merumput, tetapi juga membajak tanah) dan menambahkan tanaman telah memperkaya keanekaragaman hayati… dan, tentunya, menyediakan tanaman yang lezat untuk pangan hewan ternak. Dengan begitu, daging yang dihasilkan pun lebih lezat, seperti burger kerbau yang mulai populer di pasar petani lokal.

Selain kerbau, Manor Farm milik James menyuguhkan pemandangan permai khas Inggris, shire: perbukitan hijau dengan padang rumput dan ladang yang dibatasi oleh tanaman pagar. Lebih jauh lagi, ada desa-desa unik, kota pasar, hutan nan elok (termasuk Taman Nasional New Forest) serta kebun apel dan pir. Ada pula katedral berusia ribuan tahun yang memesona di kota kuno Winchester, yang pernah menjadi ibu kota Inggris.

Winchester berjarak sekitar satu jam dari stasiun kereta Waterloo di London. Jika penggemar film mengenali Waterloo dari adegan pengejaran di film The Bourne Ultimatum tahun 2007, Hampshire pun sering muncul di layar kaca. Kastil Highclere (setengah jam perjalanan ke utara Winchester) terkenal sebagai lokasi Downton Abbey, rumah fiksi keluarga Crawley dalam drama televisi populer (syuting Downton Abbey sedang berlangsung di sana tahun ini, www.highclerecastle.co.uk). Ada juga Handyside Bridge, yang muncul di film Harry Potter and the Philosopher’s Stone tahun 2001, ketika jembatan itu masih berada di lokasi aslinya di stasiun King Cross, London. Pada tahun 2008, stasiun King Cross direnovasi dan jembatan (karena tidak diperlukan lagi) dibongkar dan dibawa ke stasiun kecil Ropley di Hampshire.

Embusan Uap

Ropley adalah satu dari empat stasiun pemberhentian di Watercress Line, jalur kereta api kuno sepanjang 16 km. Di jalur ini, gerbong kereta antik ditarik oleh lokomotif uap dan diesel. Yang tertua beroperasi sejak tahun 1927. Meskipun sudah berumur, kereta ini mampu menuntaskan rutenya dalam waktu sekitar 35 menit. Walaupun begitu, pengunjung yang ingin singgah di stasiun-stasiun pemberhentian bisa menghabiskan berjam-jam untuk pulang pergi. Setiap stasiun menampilkan era sejarah yang berbeda. Ropley, misalnya, membawa pengunjung kembali ke tahun 1948, sementara stasiun Alresford, delapan atau sembilan menit dari titik pemberangkatan, membangkitkan suasana akhir 1930-an.

Berdiri di peron stasiun Alresford, dan sesaat tenggelam dalam embusan uap dari lokomotif yang melintas, terasa menyenangkan.

Di sela “perjalanan lintas waktu” ini, pengunjung dapat bersantap ringan di “buffet”, istilah kuno untuk menyebut kafe-kafe stasiun kereta api di Inggris. Walau kuno, makanannya segar dan baru, sama sekali tidak seperti artefak museum. Hanya saja, terdapat sebuah menu antik di dalam bingkai yang menunjukkan daftar makanan lama berikut harganya: secangkir kopi, misalnya, cuma ‘3d’ atau tiga sen, dalam mata uang pra-desimal Inggris.

Hampshire memang terkenal dengan ragam dan kualitas produk pangan dan masakannya. Tak jauh dari stasiun Alresford, misalnya, beberapa petani menanam selada air (seperti yang sudah dilakukan di daerah aliran kapur ini selama berabad-abad). Sayuran bergizi dan agak pedas tersebut dihidangkan di kafe-kafe dan restoran di seantero kawasan ini. Produk lokal lain yang juga wajib dicoba (termasuk, tentunya, burger kerbau James) adalah keju, ikan trout asap, buah dan sayuran lokal (terutama apel, raspberry, bit, tomat), selai, saus chutney dan daging domba lokal. Bahkan ada ladang wasabi. Akar pedas yang langka di Inggris ini ditanam di lokasi tersembunyi.

Hampshire sendiri pun sedikit tersembunyi. Walaupun Sungai Test terkenal di kalangan pemancing di seluruh dunia, berbagai keseruan lain di Hampshire belum banyak dinikmati orang-orang yang tinggal hanya satu jam jauhnya di London, apalagi yang lebih jauh. Tetapi justru itulah yang membuatnya kian istimewa di mata pengunjung.

JAKARTA TO LONDON (HEATHROW)


Frequency 3 flights per week

14 hours, 35 minutes

Book Now

5 Senses – Scent
LAVENDER

Lavender memang bukan tanaman asli kawasan ini. Meski begitu, “lavender Inggris” menjadi aroma khas kebun-kebun cottage, lemari pakaian antik dan selai buatan rumah. Selain bunga kering dan minyaknya yang banyak bermanfaat, ladang-ladang lavender juga sangat menarik untuk disusuri. Long Barn (di Alresford, dekat dengan Watercress Line) tak hanya menanam dan menyuling lavender, yang dijual dalam berbagai bentuk, tetapi juga mengolahnya menjadi hidangan yang gurih dan manis di kafe.