Labuan Bajo

 

Semenjak tercipta sebagai sebuah desa nelayan kecil yang sunyi bernama Bajau Laut (Sea Gypsy), Labuan Bajo yang secara harfiah berarti ‘Pelabuhan Bajo’, telah bertumbuh menjadi salah satu kota turisme terbaik Indonesia.

Namun, kebanyakan para wisatawan modern utamanya memanfaatkan tempat ini sebagai persinggahan sebelum melakukan perjalanan ke dataran tinggi atau titik keberangkatan untuk berlayar ke Taman Nasional Komodo.

Sejumlah kapal layar tradisional termewah di dunia menghabiskan sebagian besar waktu dalam setahun untuk berlabuh di Labuan Bajo dan bentuknya yang elegan jelas-jelas memberikan suasana romantis pada pemandangan teluk. Meski demikian, pesiar ke Taman Nasional Komodo tak hanya dapat dinikmati oleh para wisatawan mewah, namun juga para wisatawan dengan modal pas-pasan, berkat adanya armada kapal lokal yang menawarkan pesiar pribadi paling terjangkau di dunia. Tidak mustahil juga untuk menyewa perahu sederhana lengkap dengan nakhoda dan rekan (yang artinya termasuk makanan, air, bahan bakar dan termasuk peralatan snorkelling).

Kota kecil yang ramah ini cukup sempit sehingga perjalanan santai menyusuri satu ujung jalan utama ke ujung lainnya hanya membutuhkan waktu kurang dari setengah jam. Sekarang sudah ada restoran di sepanjang pesisir di kota itu yang menyajikan ikan segar berkualitas sangat baik dan sayuran lokal yang dihidangkan dengan sempurna. Salah satu santapan yang wajib dicoba adalah ikan kuah sunu (sup ikan dengan kuah asam segar yang sangat enak) dan steamboat udang yang dimasak dengan gaya Flores.

Di pasar malam juga terdapat kios-kios yang menjual ikan segar yang lezat dengan nasi (mulai dari harga Rp30.000) dan pasar pagi, dengan meja-meja berdecit yang di atasnya diletakkan ikan karang hidup dan keranjang penuh dengan berbagai pilihan buah dan sayuran segar, merupakan tempat sempurna untuk memahami kehidupan di sini karena pasar-pasar ini sudah ada sejak berabad-abad lalu.

Zaman mungkin saja berubah bagi Labuan Bajo, tapi ketika kita berdiri di lereng bukit dan memandang ke bawah ke arah pulau-pulau yang terletak di lepas pantainya, mudah saja untuk membayangkan bahwa pemandangan tersebut hanya sedikit berubah sejak tiga abad lalu sejak bajak laut William Dampier menyebar ubur-ubur api (man-o-war) di perairan itu. Suasana petualangan masih sangat jelas terasa di Tanjung Bunga.