Moscow

 

Ketika saya memutuskan untuk mengunjungi Rusia di bulan Januari, saat musim dingin mencapai titik puncaknya, tidak ada yang lebih terkejut selain teman-teman Rusia saya. “Kamu sadar kan, bahwa Rusia itu berada di belahan bumi bagian utara?” tanya seorang teman yang yakin bahwa saya telah keliru memesan tiket karena ketidaktahuan saya. “Ubah tiketmu, datang saja di bulan Juli.”

Sebagai mahasiswa jurusan sejarah dan sastra Rusia, tidaklah mungkin saya keliru memesan tiket karena ketidaktahuan akan cuaca di Rusia. Walau suhu di bawah nol derajat dan tumpukan salju dari pegunungan pernah meluluhlantakkan pasukan tentara, musim dingin di Rusia justru sering diambil sebagai latar cerita untuk sejumlah adegan penting dalam beberapa karya sastra, mulai dari Anna Karenina hingga Doctor Zhivago.

Bahkan tidak jarang dalam bulan-bulan menjelang keberangkatan ke Rusia, saya membayangkan diri sebagai tokoh utama dalam sebuah drama berlatar cuaca beku yang memuncak. “Begitu menginjakkan kaki di Red Square, dalam rintiknya hujan salju, kubah St. Basil Cathedral berangsur terlihat jelas, diiringi tatapan dingin tentara penjaga Lenin’s Mausoleum saat angin musim dingin seakan membekukan wajah saya.” Dan itu hanyalah adegan pembuka.

Kepulan Asap Membubung dari Cerobong

“Bab pertama” pun diawali dengan gaya yang lebih lugas. Dasha dan Tanya, yang saya kenal sewaktu perjalanan ke Ekuador dan Thailand, mendampingi saya memasuki pintu gerbang Moskow nan megah, yang sudah saya bayangkan ribuan kali. Hanya dalam kisaran menit, rasa dingin sudah tidak tertahankan, bahkan bagi teman-teman saya yang merupakan penduduk lokal.

Bagian depan mal GUM masih menyala dengan dekorasi Natal, berpendar di belakang Tanya saat dia memandu kami memasuki sebuah bar yang tidak akan bisa saya temukan sendiri. Menenggak vodka menjadi cara kami menghangatkan diri.

Saya pun tertidur dalam dinginnya hawa salju, tulang-tulang terasa dingin, sedingin vodka saat masuk ke dalam aliran darah, sementara tubuh dan otak mengalami penat terbang sehingga saya tidak tahu lagi jam berapa saat itu. Di pagi hari, dengan perasaan baru sejenak beristirahat, kami menuju Children’s World Department Store, dan dalam perjalanan ke sana, kami sempat melewati Bolshoi Theatre yang terkenal.

Dari teras pandang di bagian atap Children’s World Department Store, tampak Kota Moskow di bawah kaki kami, bersinaran terkena cahaya mentari dan salju yang mencair hampir tidak kentara, sementara itu “kepulan asap membubung dari cerobong-cerobong” persis seperti yang digambarkan oleh Ivan Turgenev dalam sebuah adegan di bulan Januari dalam novel tahun 1862 berjudul, Fathers and Sons.

Di siang hari, yang hanya beberapa jam setelah pagi tiba karena waktu siang yang lebih pendek selama musim dingin, kami berjalan ke arah timur di sepanjang Moskva River, dinding Kremlin (kompleks bangunan dikelilingi tembok yang awalnya dirancang sebagai benteng abad pertengahan) yang berwarna merah tidak lagi tampak, menghilang dalam gelapnya malam yang datang begitu cepat. Kami menginjak Red Square untuk kedua kalinya dan langit tampak hitam pekat, sepekat abu yang menanti kedatangan Napoleon. Penduduk Moskow, dengan perintah dari Tsar Alexander I, membumihanguskan kota mereka sendiri sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut, agar pasukan tentara Prancis yang datang mendekat binasa karena kelaparan dan kedinginan.

Pusat Spiritual Rusia

Kedinginan adalah hal yang biasa dirasakan di Rusia selama musim dingin, baik oleh para penjajah dahulu maupun para turis kini. Pada hari kedua, setelah menikmati panorama fajar dari atas gedung pencakar langit Moskow City, tepatnya dari atas gedung tinggi milik Moscow State University yang dibangun pada masa pemerintahan Joseph Stalin, kami pun berkendara ke arah timur laut.

Setelah melewati berlapis bangunan apartemen Soviet yang dibangun mengitari kota bak barikade, selama satu jam berkendara, kami pun sampai di Sergiyev Posad, salah satu kota tempat kompleks benteng abad pertengahan berada, tempat yang menjadikan Moskow dijuluki “Golden Ring (Lingkaran Emas)”. “Ayo kita isi perut dulu, sebelum masuk ke dalam benteng,” Tanya berkeras agar Dasha memarkir kendaraannya, membuat saya memalingkan pandangan dari Kremlin di Sergiyev Posad (ternyata setiap kota di Rusia memiliki benteng Kremlin seperti ini, tidak hanya di Moskow saja).

Tidak perlu waktu lama, kami pun sudah berada di dalam ruang makan sederhana dari Varenichnaya 9, menyobek pangsit tradisional Rusia vareniki isi ceri dan menyuap borscht, sup merah dari buah bit.

Kami menuju Trinity Lavra of St. Sergius, sebuah biara di jantung kota tua ini, yang pada kenyataannya saat ini merupakan pusat spiritual Gereja Ortodoks Rusia. Mantel yang dikenakan anak-anak saat bermain salju tampak serasi dengan warna kubah gereja yang keemasan, biru kobalt dan toska.

Red Arrow hingga St. Petersburg

Kereta malam menuju St. Petersburg dikenal dengan nama “Red Arrow” (busur merah), dan momen perpisahan saya dengan Dasha dan Tanya pun terasa cepat dan lugas persis seperti tali busur yang dihempaskan. Langit masih gelap saat kereta yang saya tumpangi memasuki Moskovsky Station, sementara Palace Square tampak benderang ketika saya masuk ke sana setengah jam kemudian. Hanya saya satu-satunya yang berada di tempat itu, selain patung malaikat yang berdiri di atas Alexander Column. Sebelum rintik salju menutup jejak kaki yang saya tinggalkan, lampu-lampu sudah serentak dipadamkan dengan iringan suara keras berdebum, momen langit berwarna biru, yang hanya berlangsung dua atau tiga jam di bagian utara bumi ini, telah dimulai.

Tidak banyak orang yang saya lihat di waktu langit berubah warna dari biru muda ke putih benderang, saya pun melangkah pelan di sepanjang Nevsky Prospekt yang licin tertutup es, melewati taman Summer Garden (yang beku total) dan ke gereja Church of Our Savior on Spilled Blood.

Ketika St. Isaac’s Cathedral buka pada tengah hari, saya pun naik ke bagian teras pandang yang berpanorama indah. Di tengah menikmati pemandangan kota dari atas teras pandang, cuaca mendekati badai salju yang membutakan jarak pandang pun datang. Saya kembali teringat salah satu halaman favorit saya dalam novel berjudul Anna Karenina: “Semua yang tampak oleh mata tertutup salju, dan sepertinya akan semakin tebal tertutup.” Wajah pun terasa beku dan kaku, namun sebelum jarak pandang tertutup total, saya turun hingga ke jalan raya dan kembali ke hangatnya kamar hotel, berharap kala esok pagi terbangun, cuaca sudah lebih bersahabat.

Harapan yang sia-sia memang, tetapi hal tersebut sudah saya sadari betul, karena niat saya dari awal ke Rusia saat musim dingin memang bukan untuk bertemu sinar mentari dan kehangatannya. Sambil berjalan di bawah pohon-pohon dengan ranting-ranting tak berdaun di istana Catherine the Great’s di Pushkin siang itu, saya membayangkan bagaimana Tsarina sendiri harus beradaptasi dengan dinginnya cuaca seperti ini.

Dan beruntung rasanya saya karena sudah mengikuti insting yang saya punya. Seperti yang saya sudah duga sebelumnya, hari-hari yang membekukan di musim dingin justru menambah besarnya daya tarik Rusia.

Jakarta to Moscow via Abu Dhabi


Frequency 7 flights per week

Codeshare route with Etihad Airways

Book Now

icon_sight

5 Senses – Sight
HERMITAGE MUSEUM

Berlokasi di istana Winter Palace, St. Petersburg (walau tidak menempati seluruh istana), yang merupakan bekas kediaman keluarga kerajaan Rusia, Hermitage Museum adalah hasil karya seni, bahkan dari bagian fasadnya. Di dalamnya, terdapat lebih dari tiga juta karya seni, mulai dari lukisan Flemish Baroque, perhiasan Hellenistik hingga ukiran dari Mesir Kuno.