Valkenburg

Kami melewati perbukitan Kota Limburg, sebuah provinsi paling selatan di Belanda yang bertetangga dengan Belgia dan Jerman. Kereta yang kami tumpangi berhenti di Valkenburg, sebuah kota di lembah yang dipisahkan oleh sungai kecil Geul.

Memasuki stasiun berbentuk kastil kecil ini, saya mendapati sebuah kafe yang menyenangkan. Sang pramusaji kafe menjelaskan bila stasiun ini merupakan bangunan tertua yang masih terjaga di Belanda. Bangunan stasiun terbuat dari bahan batu napal (batu lempung dengan komposisi karbonat tinggi), jenis batuan yang akan saya ketahui lebih banyak selama berwisata di kota ini.

Di Pusat Informasi Wisatawan yang berada di tengah kota, di gedung berdinding batu napal yang cantik berwarna kuning muda kecokelatan, saya bertemu Karin. Dalam balutan baju putih dan biru, dan dengan pengetahuan luas akan Valkenburg, perempuan murah senyum ini telah memandu banyak wisatawan di kota ini selama 36 tahun.

“Valkenburg adalah kota pertama di Belanda yang didatangi wisatawan,” ujar sang pemandu dengan nada bangga. Dia lanjut menjelaskanbahwa pada 1853 untuk pertama kalinya rel kereta dibangun guna menghubungkan antara banyak kota di Maastricht Belanda, dengan kota-kota di Jerman, sehingga Valkenburg pun terkoneksi. “Sejak saat itu, semua orang bisa datang ke tempat ini, bukan hanya segelintir dari mereka yang memiliki kereta kuda.”

Era Pertengahan

Di teras-teras rumah, tampak orang-orang menikmati kopi, teh dan juga Limburgse vlaai, kue pai isi buah. “Orang-orang di sini tahu bagaimana menikmati hidup,” ujar Karin seraya tersenyum. Nama kota itu mengambil gabungan dari kata valken, istilah Belanda untuk burung falkon, burung untuk berburu yang terkenal di antara para bangsawan pada Era Pertengahan dan juga kata burcht, yang artinya kastil.

Kami memasuki Geulpoort, salah satu menara di kota itu, dan sekilas tampak reruntuhan bangunan di kejauhan, satu-satunya kastil di Belanda yang berada di puncak bukit. Pada 1672 pasukan Belanda menghancurkan sejumlah menara dan kastil untuk mengusir kolonial Prancis, begitu penjelasan dari Karin. Baru-baru ini sejumlah menara dan kastil telah dipugar dan beberapa di antaranya bahkan malah dibangun ulang.

Kami melewati jembatan kecil yang melintasi sungai kecil berarus deras. Pemandu saya menunjuk sebuah tangga ke arah sungai. “Dahulu, ternak digiring ke tempat ini untuk minum, sementara para wanitanya mencuci baju, dan tentunya sambil mengikuti kabar terkini.” Selanjutnya, kami menuju Gereja Saint Nicholas Church dan Saint Barbara Church, yang menurut Karin dibangun pada abad ke-13.

Saya cukup kesulitan mengikuti langkah Karin, yang walau umurnya dua kali di atas saya, berjalan jauh lebih cepat daripada saya. Dia menyarankan saya beristirahat sejenak sambil menyeruput kopi di Aan de Linde yang berada di seberang Den Halder Castle.

Aliran Seni Bawah Tanah

Ada cerita menarik yang diungkapkan Karin tentang banyak gua serta terowongan di bawah tanah sepanjang 250 km. Ketika matahari naik sepenggalah, saya bergerak menuju Gemeentegrot, Municipal Caves. Sama seperti gua lain di kota ini dan juga di negara lain, gua ini bukanlah hasil bentukan alam, melainkan sengaja dipahat dan dibentuk oleh manusia.

Ada dua pilihan tur yang bisa Anda pilih; jalan kaki selama 45 menit atau menumpang kereta selama 30 menit. Seperti di gua lainnya, suhu dalam gua cukup konstan, 12°C sepanjang tahun. “Batu napal sudah ditambang di tempat ini sejak masa Romawi lebih dari 2.000 tahun lalu,” papar Ruud, sopir yang mengantar wisatawan kepada anggota grup. Ruud menunjuk pada goresan-goresan di dinding yang diakibatkan gesekan gerobak berisi batu napal yang ditarik kuda.

Cahaya redup menyorot sejumlah lukisan dari arang serta patung berupa binatang, kastil, anggota kerajaan dan tokoh masyarakat. “Seniman lokal membuat karya seni tersebut pada akhir abad ke-20.” Ruang-ruang yang kami kunjungi saat ini, dahulunya merupakan tempat berlindung saat Perang Dunia Kedua pecah.

Malam Istimewa

Kini tiba saatnya untuk bersantap malam, dan mengikuti saran dari Tourist Board, saya menyewa sepeda untuk sampai ke Château St. Gerlach. Selama 15 menit mengayuh, saya dibawa melewati jalan perbukitan nan indah sepanjang sungai. Kastil ini pada awalnya merupakan biara yang dibangun abad ke-12. Taman-taman cantik berhiaskan patung-patung mengelilingi bangunan kastil. Sementara di bagian dalam kastil, terdapat kamar-kamar tradisional yang menakjubkan, lengkap dengan perabotan antik dan buku-buku kuno.

Pada malam harinya, saya menghabiskan tujuh menu dalam porsi kecil yang terinspirasi kuliner Prancis, yang seluruhnya diolah dengan kreativitas tinggi dan dari bahan terbaik. “Seluruh sayuran dan buah, kami petik dari kebun sendiri,” jelas sang pramusaji dengan nada bangga. “Demikian pula dengan madu, karena koki kami juga seorang peternak madu.”

Saya menghabiskan malam di De Oude Molen, penginapan yang berada di tengah bangunan kincir air bercat putih, didirikan pada 1700. Hanya ada satu kamar tamu yang cukup luas di sini, dilengkapi dapur dan ruang tamu berperabotan karya desainer. Sejumlah bagian kincir air dapat terlihat dari dalam penginapan sehingga menciptakan nuansa istimewa.

Mendaki Sambil Bersantai

Keesokan harinya, saya mendaki bukit untuk melihat lebih dekat reruntuhan kastil di abad ke-11. Di puncak bukit terdapat baling-baling penunjuk arah angin dari besi tempa berbentuk Malaikat Michael dan sang naga. Kemudian, saya terus berjalan naik ke atas ke Cauberg, sekitar 133,7 m hill (ketinggian menurut standar Belanda) dan menikmati pemandangan lomba bersepeda tahunan. Tiba saatnya bersantai, saya pun memasuki Thermae 2000 spa untuk merasakan nikmatnya berendam dalam air mineral bersuhu 32°C.

Kemeriahan Bak Negeri Dongeng

Jika Anda berada di Valkenburg antara 16 November hingga 6 Januari, Anda bisa merasakan langsung kemeriahan Natal kota ini. Di Santa’s Village yang berada di pusat Theodoor Dorrenplein, Anda dapat mencicipi beragam kudapan manis sambil mengagumi pohon Natal raksasa dengan hiasan 5.000 lampu kerlap-kerlip. Anda pun dapat mengunjungi pasar Christmas di Municipal Caves dan Velvet Cave yang menawarkan nuansa berbeda. Di Museum Romawi Catacombs, replika museum yangada di Roma, dan di MergelRijk, Anda pun dapat menikmati semaraknya nuansa Natal dengan kehadiran beragam miniatur dan patung-patung Natal. Fairytale Forest, favorit anak-anak sepanjang tahun, juga dihias sepanjang musim perayaan ini.

Dalam perjalanan pulang keesokan harinya, di atas kereta saya mengenang hari-hari menyenangkan yang sudah saya lewati. Banyak gua dan kastil menawan yang saya sambangi, mendaki dan bersepeda melewati jalan-jalan indah berbukit serta mencicipi sejumlah penganan lokal yang lezat. Senang rasanya dapat mengenal lebih dekat Valkenburg dan juga masyarakatnya.

From Colours December 2018