ARY INDRA THE JAVANESE ARCHITECT GOES TO VENICE

Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun sebagai seorang arsitek, Ary Indra telah mendesain berbagai macam bangunan di Indonesia dan luar negeri. Tapi siapa yang bisa menduga bahwa salah satu pendiri biro arsitek Aboday ini memulainya karena sebuah kamar mandi? Siapa pula yang menduga bahwa gairah terhadap desain membuatnya berhasil mewakili Indonesia di Venice Architecture Biennale 2018?

Ary sadar ia memiliki ketertarikan terhadap ruangan ketika berusia sekitar  tujuh tahun, awalnya karena merenungkan desain kamar mandi di rumah sang nenek di Madiun. “Setiap saya berada di dalam kamar mandi tersebut, saya selalu berpikir bahwa kamar mandi seharusnya bisa dibuat lebih nyaman,” katanya pada pertemuan kami di Native Coffee di SAUMATA Suites and Apartments, salah satu gedung hasil  kreasinya, di Alam Sutera, Tangerang.

Ary bertekad untuk membangun kamar mandi yang indah dan nyaman untuk nenek. “Saya ingin membuat kamar mandi ukiran karena pada masa itu ukiran identik dengan kemewahan,” kenangnya. Sayangnya, sang nenek meninggal dunia sebelum Ary bisa mewujudkan hal tersebut.

Empat puluh tahun telah berlalu, dan kreativitas Ary tetap selaras dengan motivasi awal. “Saya sering terinspirasi saat mandi,” ucap pria yang tidak sungkan untuk mengubah keseluruhan konsep ini, bahkan saat proyek sedang berjalan sekalipun. “Karena itulah tim saya bilang, saya jangan terlalu sering mandi,” katanya sambil tertawa.

Ary juga terinspirasi dari film—film apa pun, baik itu film Hollywood terbaru maupun film Indonesia favorit—namun selama dia memiliki waktu yang cukup untuk merenungkan sebuah ide, inspirasi bisa datang dari mana pun. “Untuk bisa memberikan kedalaman pada desain, merenung adalah  hal penting bagi arsitek,” tuturnya.

Desain-desain Ary, baik itu secara independen maupun di bawah Aboday, mencakup beragam bangunan, termasuk di antaranya apartemen, hotel, perkantoran, sekolah, museum, rumah dan tempat ibadah. Salah satu proyek yang sedang saya kerjakan saat ini adalah gedung BNI 46 di Pejompongan, Jakarta,” ungkapnya mengacu pada menara asimetris 30 lantai yang direncanakan akan selesai dibangun pada akhir tahun ini. “Saya selalu menginginkan desain-desain saya bisa berkontribusi terhadap gaya hidup dan cakrawala, saya percaya bahwa BNI 46 akan memenuhi hal tersebut. Saya rasa tidak ada gedung tinggi di Jakarta yang memiliki bentuk ‘bibir-bibir’ seperti itu.”

Jejak personal Ary jelas bisa terlihat pada karya-karyanya. “Saya menyukai bentuk yang mengalir,” tuturnya. “Ketika cahaya jatuh pada permukaan yang melengkung, cahaya tersebut akan lebih menyebar. Saya juga senang bermain dengan ruang dan skala.”

Ary tentu sangat senang bila bertemu  dengan klien yang berpikiran terbuka dan memberi kebebasan untuk mengeksplorasi ide-ide namun dia sangat sadar bahwa benturan antara idealisme seorang arsitek dengan keinginan klien merupakan bagian dari pekerjaan. Berkompromi melalui komunikasi adalah kunci untuk menangani situasi tersebut, karena itu ia menekankan bahwa selain desainer yang hebat, arsitek harus menjadi komunikator yang baik.

Selain itu, Ary percaya bahwa arsitek  harus bisa beradaptasi. “Di Aboday, kami cukup fleksibel dan terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai pihak,” ceritanya.  “Saya pikir itu adalah salah satu alasan kenapa perusahaan ini terus berkembang  di perjalanan yang sudah mencapai  12 tahun,” jelas sang arsitek yang pernah  bekerja di AXIS Architects Planners, Singapura, selama delapan tahun  sebelum mendirikan Aboday.

Ambisi Ary terus berkembang secepat menara-menaranya yang tinggi. Bersama Aboday, dia telah menerbitkan dua buah buku arsitektur—F Book: Fame, Fortune,  Flirt pada 2013 dan Firmitas pada 2017— dan baru-baru ini dia terpilih untuk menduduki jabatan bergengsi, yaitu  Kepala Kurator Paviliun Indonesia di  Venice Architecture Biennale 2018.  Menjadi tugas Ary untuk menentukan konsep dan membangun paviliun yang merupakan satu di antara sekitar 60 lebih  paviliun dari seluruh dunia yang berkontribusi pada acara yang diselenggarakan pada 26 Mei  hingga 25 November 2018 itu.

“Saya merasa sangat terhormat bisa  terpilih dari 70 arsitek yang berpartisipasi pada kompetisi tersebut,” ungkap Ary  yang menambahkan bahwa konsepnya  akan dibangun di sekitar tema “Poetics  of Emptiness”. “Arsitektur di Indonesia menyediakan ruang-ruang kosong, misalnya pada Keraton Yogyakarta dan rumah-rumah Toraja,” jelasnya. “Bagi orang Indonesia, ruang-ruang kosong adalah ruang-ruang transformatif; penuh oleh hal-hal filosofis.”

Saat hari-hari kerjanya mungkin didominasi oleh desain dalam skala besar, sang arsitek memiliki beberapa proyek  yang lebih kecil tetapi sama pentingnya.  Dia berencana untuk membangun sebuah tempat ibadah yang bisa digunakan oleh seluruh umat beragama. Selain itu, dia  juga sedang membangun sebuah rumah  di Salatiga, kota tempat ia dibesarkan, di Jawa Tengah, untuk dijadikan rumah masa tua. Ketika tidak ada urusan bisnis yang mendesak, ia selalu terbang ke sana setiap akhir pekan, dengan Garuda Indonesia tentunya. Menurut Ary, keramahan para kru kabin Garuda Indonesia patut dipuji. “Saya bisa merasakan keramahan mereka begitu saya masuk ke dalam pesawat,” ucapnya sebelum mengakhiri wawancara kami, tidak diragukan lagi ide-ide desain dan konsep baru berputar di kepalanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *