FENESSA ADIKOESOEMO THE WOMAN BEHIND MACAN MUSEUM

Usia Fenessa Adikoesoemo belum genap 25 tahun. Tapi dengan kerja keras dan hasratnya di bidang seni, dia berhasil menjadi pemimpin di museum seni modern dan kontemporer pertama di Indonesia, Museum Seni Modern dan Kontemporer di Nusantara (Museum MACAN).

“Ide Museum MACAN ini awalnya datang dari ayah saya,” kata Fenessa. “Sejak tahun 1990-an beliau adalah seorang kolektor seni, dimulai dari mengoleksi karya seni dari seniman-seniman Indonesia kemudian berkembang ke seniman-seniman dunia. Ia sudah memimpikan untuk membuka museum sejak tahun 2005, tapi kami baru benar-benar memulainya pada tahun 2014 dan akhirnya museum ini dibuka untuk umum pada November 2017.”

Meskipun awalnya merupakan ide sang ayah, namun kecintaan Fenessa akan seni dan ketertarikannya yang kuat di bidang pendidikanlah yang mendorongnya terlibat sepenuhnya dalam mengelola Museum MACAN. “Saya selalu tertarik dengan seni dan memiliki hasrat kreatif. Dan saya serta keluarga saya selalu terlibat dengan banyak hal yang berkaitan dengan pendidikan. Jadi museum ini merupakan cara yang baik untuk menggabungkan keduanya,” jelas Fenessa yang merupakan Sarjana Bisnis, Marketing dan Manajemen, Universitas Melbourne, Australia.

Pelatihan yang dijalani Fenessa serta hasratnya akan seni dan pendidikan bukanlah satu-satunya keahlian yang digunakannya untuk bisa mengelola sebuah museum. Dalam masa persiapan selama tiga tahun sebelum membuka museum, Fenessa magang di dua museum mapan di Amerika Serikat untuk memperluas pengetahuan dan pengalamannya.

“Sebagai museum seni modern dan kontemporer pertama di Indonesia, kami mengalami kesulitan untuk mempersiapkan segala sesuatunya pada awalnya. Tidak ada satu museum pun yang bisa kami jadikan patokan di sini. Jadi, saya mengambil magangcdi Hirshhorn Museum and Sculpture Garden di Washington, D.C. selama tiga bulan dan di Solomon R. Guggenheim Museum di New York selama satu bulan setengah,” kata Fenessa yang sering mengunjungi museum dan galeri seni sejak dia masih remaja.

Fenessa mengaku bahwa ia belajar banyak selama magang, namun kedua museum tersebut bukanlah satu-satunya yangmenginspirasi Museum MACAN. “Tidak ada satu museum yang kami tentukan untuk menjadi inspirasi kami melainkan gabungan dari berbagai museum. Karena meskipun kami belajar dari yang lain, kami tetap harus menyesuaikan dengan Indonesia. Contohnya, museum Hirshhorn dan Guggenheim menargetkan turis sebagai pengunjungnya sementara target pengunjung utama kami adalah orang lokal Indonesia. Karena itu kami harus mengatur program kami untuk bisa melayani tipe pengunjung ini,” ucap Fenessa.

Hanya dalam kurun waktu empat bulan, museum ini telah menjadi salah satu tempat wajib kunjung di Jakarta bagi pencinta seni. Ada sekitar 500–700 pengunjung per harinya pada hari kerja, dan jumlah ini meningkat menjadi 1.500–2.000 pengunjung per harinya pada akhir pekan. “Kami sangat bahagiamuseum ini bisa diterima dengan sangat baik,” tutur Fenessa. “Ini di luar dugaan kami.”

Tapi Fenessa tidak mau berpuas diri. Dia sadar bahwa dia butuh bekerja lebih keras untuk mempertahankan kesuksesan museum ini dan bahkan membawanya ke tingkat selanjutnya. Salah satu elemen kuncinya adalah dengan menghadirkan program berkesinambungan yang bisa mengikat pengunjung, sehingga mereka tidak akan hanya sekali berkunjung saja. Program ini meliputi berbagai kegiatan, termasuk workshop, diskusi dan banyak lagi.

“Saat ini kami memamerkan 90 dari 800 karya seni yang dimiliki ayah saya. Koleksi ini berasal dari 70 seniman dari Indonesia, Asia, Amerika dan Eropa. Kalau kami hanya memajang koleksi ini secara permanen, tidak akan ada alasan bagi orang untuk mengunjungi museum ini lagi. Karena itu kami merotasi koleksinya setiap tiga bulan dan memiliki program berkesinambungan, sehingga orang-orang tetap bisa mempelajari sesuatu dari museum ini,” jelas Fenessa yang berharap bisa membuat Museum MACAN dikenal secara internasional.

Sementara para pengunjung masih bisa menikmati ekshibisi “Art Turns. World Turns” di Museum MACAN sampai 18 Maret, Fenessa dan timnya sudah mempersiapkan ekshibisi selanjutnya, yaitu travelling exhibition antara Museum MACAN dan dua museum lain dari Singapura dan Australia.

Di samping jadwal padatnya dalam mengelola Museum MACAN, Fenessa masih menyempatkan diri untuk bekerja secara sukarela. Saat ini dia menjadi sukarelawan di HOPE worldwide Indonesia, organisasi nirlaba yang membantu orang-orang tak mampu dan membutuhkan. “Berkontribusi kecil dan bisa melihat dampaknya memberi saya perasaan bahagia,” ucap Fenessa, yang pernah juga menjadi sukarelawan di Leocare dan Global Consulting Group.

Fenessa berharap suatu hari dia juga bisa berkontribusi untuk organisasi nirlaba yang bergerak di pelestarian lingkungan, terutama di konservasi kehidupan laut. “Saya suka menyelam dan saya berharap bisa berkontribusi untuk melakukan pencegahan terhadap kerusakan terumbu karang. Kehidupan laut kita di sini tidak ada duanya di dunia, dan kita harus mencegah kerusakan sebelum hancur,” ungkapnya.

Sebagai seorang penyelam, Fenessa sangat senang Garuda Indonesia memiliki rute ke banyak destinasi penyelaman, seperti Labuan Bajo dan Raja Ampat yang menjadi favoritnya. “Garuda Indonesia selalu menjadi maskapai pilihan saya karena pelayanannya yang terbaik.” Fenessa menambahkan sambil tersenyum lebar.