music_main

Naughty By Nature, Afgan and Jean-Paul ‘Bluey’ Maunick of Incognito: Music Industry Nowadays

Awal Maret ini kami berbincang dengan tiga musisi yang tampil di pergelaran Java Jazz Festival 2017, yaitu Naughty by Nature, Afgan, dan Jean-Paul ‘Bluey’ Maunick dari band Incognito, mengenai pengaruh teknologi bagi peluang para musisi, dan suka cita bermain musik secara live.

music_01

Mereka memiliki latar belakang musik yang berbeda, generasi yang berbeda, dan cara yang berbeda pula dalam menyampaikan musik mereka kepada pendengar. Tapi, ketiganya memiliki pandangan yang sama tentang satu hal: industri musik sudah berubah.

“Dulu, para musisi memiliki tipe musik mereka masing-masing. Mereka terdengar berbeda,” ujar trio hip-hop, Treach, Vin Rock, dan DJ Kay Gee, yang membentuk Naughty by Nature yang memenangkan Grammy Award 1996. “Sedangkan para artis masa kini melakukan hal yang sama. Tiap nada terdengar sama, cara mereka nge-rap juga sama, dan mereka terlihat sama. Sangat susah membedakan mereka kecuali kita benar-benar kenal mereka.”

Nada bukan satu-satunya yang berubah. Industri itu sendiri berkembang ke arah yang berbeda. Hal ini sangat diketahui dengan pasti oleh Bluey. Sebagai seorang musisi yang menjadi motor dari band acid jazz asal Inggris, Incognito, sejak awal berdirinya pada tahun 1979, Bluey melihat industri musik saat ini berbeda dengan ketika dirinya memulai karier.

“Perusahaan rekaman dan toko-toko yang menjual album rekaman tidak lagi seperti dulu. Penyebabnya adalah kehadiran internet dan cara musik tersebut dipasarkan,” ujar Bluey yang lahir di Mauritius. “Industri saat ini bergantung kepada dua hal. Pertama, menjadi sukses sebagai selebriti, contohnya menjadi terkenal di televisi, atau karena beruntung di YouTube. Kedua, musisi tersebut memiliki kemampuan untuk bermain musik secara live.”

Bertahun-tahun lalu, salah satu tolok ukur kesuksesan musisi adalah berapa banyak album fisik mereka yang dapat terjual, seperti kaset, piringan, atau compact disc (CD). Namun kini perkembangan teknologi, pengedaran musik, menjadi berbeda. “Menjual CD sangat sulit dilakukan pada masa sekarang,” tutur penyanyi Indonesia Afgan yang sudah menghasilkan lima album studio sejak debutnya Confession No.1 (2008).

Kini, tolok ukur tersebut didominasi oleh digital, melalui unduhan digital, layanan streaming, seperti Spotify atau Apple Music, jumlah penonton di platform berbagi video seperti YouTube, dan jumlah pengikut atau penggemar di media sosial.

music_02

“Media sosial adalah alat yang sangat penting bagi para musisi,” kata Afgan. “Banyak hal positif yang bisa kita dapatkan dari media sosial. Saya menggunakan media sosial untuk mempromosikan musik dan menjangkau lebih banyak pendengar.”

Afgan menilai bahwa kesempatan di media sosial jauh lebih besar dari penurunan penjualan album fisik. “Dulu, seseorang harus ikut kompetisi untuk bisa didengar. Sekarang menjadi lebih mudah bila ingin menjadi musisi karena sudah tersedia banyak platform yang bisa digunakan untuk mempertunjukkan karya-karya kita. Banyak penyanyi berbakat ditemukan lewat YouTube,” kata penyanyi berusia 27 tahun yang pernah berkolaborasi dengan Raisa, Rossa, Yura Yunita, dan Rayi Putra ini.

Sangat bisa dipastikan bahwa media sosial bisa membantu musisi di seluruh dunia untuk ditemukan, menjangkau pendengar yang lebih luas, dan membantu untuk mempromosikan musik mereka. Namun pada akhirnya kemampuan bermusiklah yang akan membuat musisi tersebut bertahan, di era mana pun ia berada. Akan tetapi, ada satu hal yang tidak dapat tergantikan oleh teknologi, yaitu perasaan saat berdiri di atas panggung—baik dalam ruangan kecil untuk 50 tamu undangan, atau dalam stadion yang dipenuhi teriakan puluhan ribu penggemar, menciptakan koneksi antara band dan pendengar. Java Jazz Festival, salah satu festival jazz terbesar di dunia, terus berjalan sebagai bukti dari koneksi yang tercipta melalui interaksi secara live tersebut.

“Bila musisi tersebut memiliki kemampuan untuk bermain musik secara live dan terus menjaga serta memupuk kemampuankemampuan tersebut, bisa dipastikan dia tetap hidup. Terlepas orang-orang memberi tahu bahwa musik Anda tidak komersial, musisi tetap bisa menemukan pendengarnya. Ini adalah jaminan,” pungkas Bluey.