nia_main

Nia Dinata: A Woman’s Voice

Saat film Ini Kisah Tiga Dara ditayangkan pada festival film di Tokyo dan Singapura baru-baru ini, karya sutradara Nia Dinata tersebut disambut dengan antusiasme dan rasa keingintahuan mengenai perempuan Indonesia masa kini.

nia_01

Dibintangi Shanty Paredes sebagai Gendis, Tara Basro sebagai Ella, dan Tatyana Akman sebagai Bebe, film musikal berdurasi 124 menit ini mengisahkan tiga perempuan bersaudara yang berusaha mempertahankan individualitas serta karier mereka di tengah nilai-nilai keluarga tradisional. Sebagai produser, sutradara dan salah satu penulis skenario, Nia menganggap film ini sebagai versi baru dari film klasik tahun 1956 berjudul Tiga Dara karya Usmar Ismail, yang bercerita tentang kisah tiga saudara perempuan dalam mencari pasangan hidup mereka.

Film beraliran komedi romantis tahun 2016 ini penuh dengan pesan kemandirian untuk perempuan, namun penampilan para bintang di film ini sungguh tak disangka oleh para penonton film di festival tersebut. Di film ini ditampilkan standar baru kecantikan Asia, dari rambut keriting mengembang hingga warna kulit kecokelatan. Sebagian lainnya tertarik melihat bagaimana perempuan muda, dari negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, tidak mengenakan pakaian tertutup dan bicara terang-terangan tentang pilihan hidup mereka.

Dalam bincang-bincang dengan Colours di Cine Space, bioskop dan co-working space baru miliknya di Scientia Square Park, Serpong, Tangerang, Nia mengatakan film tidak bisa digunakan untuk menggambarkan keadaan sebuah masyarakat dalam interpretasi tunggal. Ia juga menegaskan bahwa Ini Kisah Tiga Dara tidak mencoba menggeneralisasi perempuan Indonesia.

“Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya. Saya tidak bisa bilang Ini Kisah Tiga Dara mewakili perempuan Indonesia. Hal ini saya rasa perlu dipahami baik oleh orang asing maupun orang-orang Indonesia,” ujar Nia.

Nia termasuk sineas yang berani dan konsisten dalam mengkritik pandangan tradisional lewat karya-karyanya. Sarjana jurusan film di New York University ini kembali ke Indonesia pada 1994, saat produksi film nasional sangat terpuruk. Nia memulai kariernya dari dunia iklan. Di situlah Nia bertemu dengan orang-orang yang juga lulusan sekolah film, kebanyakan dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

nia_feat

“Waktu itu, kami tak begitu bersemangat membuat film, karena skenarionya harus melewati proses sensor di Departemen Penerangan. Tapi setiap kali kami selesai membuat sebuah iklan, kami selalu terusik ingin membuat film,” kata Nia. “Akhirnya setelah peristiwa 1998 (runtuhnya Orde Baru), kami merasa inilah saatnya untuk membuat film.”

Tahun 2000, Nia mendirikan perusahaan film independen, Kalyana Shira Films, dan mulai memproduksi film layar lebar. Film perdananya pada tahun 2001 yang berjudul Ca-bau-kan banyak menggambarkan budaya peranakan Tionghoa di Indonesia, yang saat itu masih jarang ditampilkan dalam bentuk film layar lebar. Tahun 2003, Nia kembali mencuri perhatian media dan langsung melejit dengan filmnya yang mengisahkan perjalanan cinta seorang gay dalam film berjudul Arisan!. Melalui filmnya, Nia juga mencoba mengangkat isu mengenai poligami lewat film yang populer tahun 2006 berjudul Berbagi Suami.

Selain membuat film drama yang menarik, Nia juga mengemukakan niatnya untuk membuat film dokumenter. “Dokumenter juga merupakan salah satu minat saya. Dokumenter sangat berbeda dengan drama, karena pemeran utamanya tidak selalu karakter manusia. Bisa tentang sekolah, desa, atau bahkan bencana alam,” katanya.

nia_02

Kalyana Shira Foundation, organisasi non-profit yang didirikan Nia tahun 2006, aktif mengumpulkan para sineas dalam lokakarya film dokumenter melalui program bertajuk Project Change yang diadakan setiap dua tahun. Beberapa film terbaru dalam Project Change adalah Pertanyaan untuk Bapak. Sebuah film dokumenter berdurasi 40 menit karya Mayk Wongkar yang mengisahkan perjalanan asisten sutradara Yatna Pelangi kembali ke rumahnya untuk menemui ayah kandung yang pernah melakukan perundungan seksual terhadap dirinya. Lalu film bertajuk Emak dari Jambi karya Anggun Pradesha dan Rikky M. Fajar. Film dokumenter berdurasi 38 menit ini bercerita tentang seorang ibu yang datang ke Jakarta untuk menemui anak laki-lakinya yang sudah menjadi transgender.

Film-film tersebut memiliki peminatnya sendiri di festival-festival film, universitas, dan Cine Space milik Nia di Serpong, yang menjadi tempat pemutaran film alternatif bagi para sineas dan penikmat film yang ingin beralih dari bioskop-bioskop yang dipenuhi film Hollywood.

Saat ini Nia juga tengah mengerjakan film dokumenter panjang pertamanya. Dia membuat sebuah film dokumenter tentang sekolah alternatif di Jakarta, yang akan rampung pada akhir Februari.

“Membuat film dokumenter itu menarik sekali, karena kita seperti mengamati kehidupan itu sendiri. Sutradara dan produser tidak bisa seperti Tuhan karena tidak ada skenario. Kita tidak bisa meminta orang-orang yang terlibat untuk berakting dengan cara tertentu. Kita hanya bisa berserah kepada Tuhan, kepada nasib,” katanya.