Nicholas Saputra: Caring for Nature

Colours berbincang dengan aktor dan traveller, Nicholas Saputra, seputar aktivitas travelling dan kepeduliannya terhadap konservasi lingkungan.

nicholas_03

Dua tahun ke belakang menjadi tahun yang sibuk bagi Nicholas Saputra. Jadwalnya cukup padat untuk syuting dan mempromosikan film-filmnya. Tahun ini ia ingin lebih punya banyak waktu untuk melihat Indonesia dan dunia. Ia mengibaratkan saat berakting layaknya gelas yang tertuang, artinya setelah mencurahkan sesuatu harus kembali diisi. Maka bagi seorang aktor, terutama bagi Nico, travelling menjadi vital—sebagai sarana mengisi energi yang kosong dan mereguk kembali inspirasi.

“Seorang aktor butuh banyak pengetahuan karena kita harus siap mendapat karakter apa saja. Buat saya observasi tentang karakter, ekspresi, dan reaksi manusia bisa didapat dalam perjalanan di kereta, di bus atau di mana saja,” beber Nico, sapaan akrabnya. Meski ia mengaku kian sulit travelling di Indonesia tanpa dikenali karena sosoknya yang kian dikenal luas, namun ia masih bisa menemukannya saat melakukan perjalanan di luar negeri atau beberapa pelosok Indonesia. “Saat orang tidak tahu siapa kita, orang akan lebih jujur menilai sikap kita dan saling menghormati satu sama lain. Interaksinya lebih tulus,” tambahnya.

Mengakrabi Dunia Konservasi
“Travelling sangat baik untuk jiwa. Ketika Anda travelling, Anda akan menjadi orang yang lebih  terbuka. Anda akan menyadari bahwa manusia tidak hanya satu jenis. Budaya dan kulturnya bermacam-macam. Begitu pula dengan alam di sekitar kita,” tegasnya. Getaran itu pula yang membawa Nico mulai bersentuhan dengan dunia konservasi sejak tahun 2005, setelah bencana tsunami melanda Aceh.

Pemeran Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta ini juga terlibat bersama The Nature Conservacy (TNC) sejak tahun 2008. Ketika itu Nico ikut memperkenalkan ruang kelas dan perpustakaan keliling di perairan Raja Ampat, Papua. Hingga saat ini ia turut aktif membantu konservasi hutan dan orang utan di Indonesia. “Ketika kita mendatangi suatu tempat, menikmati keindahannya, otomatis muncul perasaan untuk melindungi apa yang kita lihat, karena keindahan dan alam itu saling berkaitan, tidak bisa lepas. Konservasi itu penting untuk menjaga keindahan, agar terus terjaga secara berkesinambungan,” ungkapnya.

nicholas_02

Tahun lalu, Nico pun sempat merilis film dokumenter berjudul Save Our Forest Giants bekerja sama dengan Uni Eropa. Film berdurasi enam menit ini diambil di Tangkahan bagian dari Taman Nasional Indonesia yang terletak di Gunung Leuser, Sumatera Utara, yang menggambarkan populasi gajah yang kian terancam di Indonesia, akibat habitatnya yang makin tergusur untuk tempat tinggal manusia. Baginya konservasi harus berbasis masyarakat. Artinya, melibatkan masyarakat pada tiap prosesnya. “Saya selalu melihat bahwa isu soal alam tidak pernah lepas dengan manusia. Keuntungannya mutualis, dua-duanya harus mencapai keseimbangan dan harmoni. Sulit memang, tapi kita harus terus berupaya.” Lagipula menurutnya, manusia sesungguhnya secara instingtif selalu berdekatan dengan alam, hewan, tumbuhan dan lainnya. “Kita punya hewan peliharaan, suka merawat tumbuh-tumbuhan. Sebenarnya hal itu menunjukkan bahwa secara naluri kita bisa hidup berdampingan dengan hewan atau makhluk lain,” tukas Nico lebih lanjut.

Setelah lebih dari 10 tahun mengakrabi dunia konservasi, apa menurutnya ancaman terbesar lingkungan hidup? Dengan lugas Nico menjawab, ketidakpedulian. “Ketidakpedulian itu bisa terjadi karena ketidaktahuan. Dengan lebih banyak travelling, kita bisa melihat dan merasakan langsung. Jika kita hanya tinggal di kota besar terus, kita tidak tahu cara mengapresiasi sumber air. Sesekali cobalah untuk menyambangi hutan. Kita bisa mengapresiasi sungai yang bening, air yang bersih,” ucap Nico. “Masyarakat kota bukan berarti tidak butuh untuk peduli terhadap lingkungan yang jauh di luar sana, karena kota sesungguhnya tidak punya apa-apa. Sumber air dan makanan berasal dari tempat yang jauh dari perkotaan. Dan semua ini saling berkaitan satu sama lain,” sambungnya.

Di satu sisi, kesadaran anak muda khususnya, untuk bepergian mulai bermunculan dan menjadi bagian dari gaya hidup. Namun ada keprihatinan lain yang selanjutnya muncul di benak Nico. “Turisme bagaimanapun akan merusak, meskipun takarannya bisa diukur. Di sinilah pentingnya konservasi sebagai penyeimbang eksploitasi. Eco-tourism diperbanyak dan mentalitas serta kesadaran masyarakat untuk melindungi alamnya juga harus terus ditingkatkan.” Buatnya, travelling tak bisa hanya didefinisikan sebagai sekadar berlibur atau bersenang-senang, tapi dimaknai dengan penuh tanggung jawab.

nicholas_01

Lalu sesungguhnya sejak kapan travelling menjadi bagian tak terpisahkan darinya? Rupanya keinginan Nico untuk melihat dunia sudah terbangun sejak kecil. “Karena dari kecil suka menonton film, jika melihat sesuatu dari situ saya ingin segera merasakan langsung,” paparnya. Sejak kecil ia sudah sering berlibur bersama keluarga, namun pertama kali merasakan esensi travelling, terjadi saat Nico duduk di bangku 1 SMA. Ia bepergian bersama teman-temannya menjelajahi Kota Bandung. Selepas SMA ia travelling sendiri ke Inggris selama satu bulan. Sejak saat itu kakinya tak mau berhenti melangkah.

Meski kerap travelling, Nico masih memiliki banyak tabungan tempat yang hendak dikunjungi. Pada daftar teratas, di Indonesia ia ingin mengunjungi Togean dan Gorontalo, dan untuk luar negeri ia berharap bisa segera travelling ke bagian selatan Afrika dan negara-negara berakhiran “…stan”.

“Saya pernah tinggal di perkampungan antah berantah di Flores atau naik kapal yang nyaris tenggelam. Dulu saya terbilang sangat spontan. Saya bisa berbenah dan langsung menuju Amerika Latin. Hanya malam pertama dan kedua saya pesan penginapan, selebihnya saya membebaskan diri. Sekarang sudah tidak terlampau nekat, walau tetap membuka pada berbagai kemungkinan,” seru Nico sambil tertawa.

Sama halnya dengan perubahan “gaya” travelling-nya seiring waktu, pemaknaan Nico pada hakikat perjalanan turut berkembang. Travelling rupanya mengasah kepekaannya sebagai manusia, bagian yang tak terpisahkan dari alam, dari bumi.