wempy_main

Wempy Dyocta Koto: Mentoring Indonesia’s Future Leaders

Colours berbincang dengan Wempy Dyocta Koto, wirausahawan, investor, dan pembicara internasional yang ingin melihat lebih banyak orang Indonesia berhasil di panggung dunia.

wempy_feat

Lima tahun lalu, Wempy Dyocta Koto menjalani hidup yang nyaman di London. Koto berada di puncak kariernya, memimpin badan pengembangan usaha yang cukup maju, Wardour and Oxford, di mana ia menjabat sebagai chief executive. Koto mendirikan biro ini tahun 2010, setelah 20 tahun menjalani karier internasional di dunia periklanan, dan menangani sejumlah brand ternama dunia, seperti Microsoft, Samsung, HSBC, Goldman Sachs, dan Sony.

“Selama ini saya fokus membangun dan mengembangkan karier serta kehidupan seperti yang saya inginkan,” kata Koto. “Dan saya sudah punya semua itu. Kemudian, sampailah saya di tahap di mana tujuan hidup saya berubah. Istilah ‘warisan’ menjadi hal sangat penting untuk saya. Saya pun merasa terpanggil untuk kembali ke Indonesia dan melakukan sesuatu yang bisa dibanggakan bagi Tanah Air saya.”

Sebagai negara dengan penduduk terbanyak keempat di dunia, Indonesia sering dianggap sebagai “raksasa tidur”. Padahal negara ini memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, penduduk usia produktif, urbanisasi yang pesat, kelas menengah yang terus tumbuh, dan salah satu pasar digital terbesar di dunia dengan 73 juta pengguna internet pada 2015. McKinsey & Co memperkirakan Indonesia bakal menjadi ekonomi terbesar ketujuh di dunia pada 2030, menyalip Jerman dan Inggris. Akan tetapi, sebuah artikel di The Guardian menyebutkan bagaimana Indonesia masih menjadi “hal terbesar yang terlewatkan mata dunia”.

wempy_01

Koto ingin melihat lebih banyak orang Indonesia yang tampil dan bersaing di tataran internasional. Menurut Koto, “Para usahawan saat ini harus mampu memperluas cakupan mereka, melewati batas negara karena ide itu tak mengenal batas.” Apalagi di dunia internasional, tambah dia, “Penting sekali bagi para calon pemimpin masa depan Indonesia untuk juga memiliki sudut pandang dan kebijakan yang bersifat global.”

Lewat sekolah bisnis yang mengambil namanya, Koto telah berkeliling ke seluruh penjuru Nusantara guna bertemu dengan usahawan pemula dan orang-orang muda di mana semangat dan motivasi yang mereka miliki menyentuh hati pria berusia 40 tahun ini. “Hal ini menunjukkan kepada saya seperti apa Indonesia,” ujar Koto. “Kita begitu haus akan pendidikan, haus akan bimbingan. Itulah hal yang menyemangati dan mampu menginspirasi saya, dan hal itu pula yang memberikan keyakinan pada saya akan makna penting sebuah bimbingan.”

Tahun 2015, Koto menggagas “The Wempy Dyocta Koto Award”, di mana masyarakat Indonesia yang tersebar di penjuru dunia bisa mengikutinya. Award ini memberikan hadiah kepada 12 orang Indonesia dalam bentuk bimbingan dari 12 orang mentor luar biasa dan 12 mentor internasional yang inspiratif untuk bimbingan selama 12 bulan.

Koto sendiri menjadi mentor bagi sejumlah usahawan pelopor asal Indonesia yang berbakat. Muhammad Ajie Santika, pendiri dan CEO dari Tinker Games, sebuah developer hiburan digital dan mobile game, nyaris bangkrut sebelum ditangani Koto. Hanya dalam satu tahun di bawah bimbingan Koto, Tinker Games mencatat pendapatan sebesar 800.000 USD.

Anak didik Koto lainnya, Muhammad Alfatih Timur, adalah co-founder dan CEO dari KitaBisa, sebuah usaha crowdfunding (urun dana) yang pertama di Indonesia, di mana usaha ini berhasil menjaring dana hingga 4 juta USD untuk 3.000 kegiatan. Timur juga masuk bersama 16 orang Indonesia lainnya untuk kategori pemimpin muda Asia paling menjanjikan, wirausahawan berani dan penggagas perubahan dalam daftar “30 Under 30” versi majalah Forbes.

wempy_02

Lahir di kota kecil Padang Panjang, Sumatera Barat, Koto bersama keluarganya pindah ke Sydney, Australia, saat usianya tiga tahun. Di sana, Koto meraih gelar Sarjana Komunikasi dari University of Technology Sydney dan Master bidang Studi Internasional dari University of Sydney. Dia juga merupakan lulusan dari THNK School of Creative
Leadership di Amsterdam.

Walau saat ini Koto berbasis di London dan Jakarta, dia tak pernah merasa lelah. “Saya percaya salah satu investasi besar yang bisa kita lakukan adalah dengan melakukan travel,” ujar Koto. “Dengan demikian, Anda dapat melihat dunia lewat sudut pandang yang berbeda.”

“Saya suka terbang dengan Garuda Indonesia,” ujar Koto, seraya mengakui hal yang biasa dia lakukan saat di pesawat. “Saya biasanya menyelesaikan pekerjaan saya, menonton film, dan tidur. Saya banyak pergi ke berbagai tempat untuk menjadi mentor, tetapi justru ilmu saya yang bertambah. Saya ingat apa yang pernah dikatakan ibu dan ayah saya, untuk menuntut ilmu, pergilah hingga ke ujung dunia.”