Kegigihan saat pasang dan surut adalah salah satu dari banyak sikap yang harus dimiliki pelaku bisnis untuk sukses, dan kegigihan ini terlihat pada diri Nancy Margried, CEO  dan pendiri Piksel Indonesia.

Perjalanan Nancy bersama Piksel Indonesia—perusahaan payung Batik Fractal (produk fashion) dan jBatik (produk software)—dimulai saat ia dan dua temannya, Muhamad Lukman dan Yun Hariadi, menggambar tanaman, burung, dan kupu-kupu di komputer dengan menggunakan rumus matematika fraktal. “Ketika saya melihat gambarnya, mirip dengan corak batik. Lalu kami bereksperimen dengan gambar lain, yang menyerupai  corak batik tradisional,” kata Nancy.

Penemuan tersebut mendorong mereka untuk menciptakan software desain mereka sendiri, yakni jBatik. Namun, menggabungkan tradisi, seni, dan teknologi bukanlah pekerjaan yang mudah. “Kami bertanya pada diri sendiri. Bagaimana kami bisa membuat motif batik dari perangkat lunak?” kata Nancy. Maka mereka berkonsultasi dengan banyak ahli  dari berbagai bidang: matematika, seni  dan budaya di Institut Teknologi Bandung. Mereka juga berdiskusi dengan seniman  batik di Bandung, Cirebon dan Pekalongan sebelum meluncurkan software mereka.

Saat Nancy mulai memperkenalkan jBatik kepada publik tahun 2007, muncul pro dan kontra. “Salah satu yang paling menantang adalah banyak orang, terutama seniman batik, tidak setuju dengan penemuan kami. Mereka khawatir teknologi ini bakal mengurangi nilai artistik dan menghilangkan nilai sejarah dan tradisi batik itu sendiri,” kata Nancy, yang berkomitmen memberdayakan masyarakat melalui desain dan teknologi.

Nancy bahkan harus menghadapi perancang busana yang secara terang-terangan menolak jBatik. “Kami menganalisis kejadian tersebut. Kemungkinan kami tidak menjelaskannya dengan benar,” kata Nancy. Insiden tersebut memberi Nancy pelajaran untuk lebih jelas dalam merepresentasikan jBatik. “JBatik ada untuk memperkaya desain, bukan untuk menggantikan atau merusak citra batik  aksesori, suvenir, dan kreasi lainnya  dengan merek ini telah terjual di luar  negeri. “Pembeli terbesar kami berasal dari Indonesia, diikuti Malaysia, kemudian Australia, Kanada dan Prancis. Fokus kami saat ini adalah mengembangkan pasar di Belanda dan Inggris. Negara-negara di Afrika juga menjadi target saya selanjutnya. Saya melihat kesamaan antara corak batik dan kain Afrika, jadi saya yakin batik akan diterima di sana,” kata Nancy.

Selain sukses memperluas pasar di luar negeri, Piksel Indonesia juga telah menerima berbagai penghargaan atas inovasinya, antara lain Award of Excellence UNESCO (2008), 100 Inovasi Terbaik Indonesia dari Presiden RI (2008), Asia Pacific ICT Award (2008), dan Information Society Innovation Fund (ISIF) (2015). Sementara, Nancy sendiri pernah memenangkan Young Caring Professional Award (2012) dan Kartini Next Generation Award, Women as Agents of Change, Kategori Bisnis (2014).

Setelah meraih banyak penghargaan dan berhasil menjual produknya ke luar negeri, apa target Piksel Indonesia selanjutnya? “Kami menargetkan jumlah pengguna  jBatik mencapai 5.000 dalam dua tahun  ke depan. Sedangkan untuk Batik Fractal, kami berharap dapat memperluas dan memperkuat pasar kami di luar Indonesia, terutama di negara-negara Asia,” kata  Nancy, yang baru saja menyelesaikan program Master of Science di bidang Kewirausahaan Teknologi di University College London (UCL).

Sebagai pebisnis yang sering bepergian dengan pesawat terbang, Nancy mengagumi Garuda Indonesia. “Garuda Indonesia adalah salah satu maskapai penerbangan terbaik  di dunia dengan layanan prima. Saya harap Garuda Indonesia dapat mempertahankan keramahan khas Indonesia dan terus menjaga kualitas layanan dan keselamatan penerbangannya yang sangat baik,” kata Nancy, yang sering berbagi pengalaman bisnisnya di berbagai forum dan acara.