Kaimana

Siluet hiu paus besar menghalangi sinar matahari pagi yang berkilauan. Di bawahnya, sekelompok lumba-lumba berputar-putar, menari keluar masuk dari jendela bidik kamera saya. Tiba-tiba hiu paus kedua muncul entah dari mana—berenang cukup dekat sehingga saya bisa melihat sekelompok ikan emas kecil sedang berlindung di bawah sirip pektoral raksasa sang hiu. Pengalaman berada di air bersama makhluk indah seperti itu benar-benar menakjubkan—impian terindah setiap penyelam.

Kami menjelajahi Teluk Triton di  Kabupaten Kaimana dengan kapal Sequoia, kapal pesiar kayu jati yang cantik yang dibuat oleh Kevin Corcoran dan Yessi Maya Sari menggunakan teknologi canggih dan mengikuti standar Penjaga Pantai Amerika Serikat yang ketat.

Bepergian dengan “hotel terapung” seperti Sequoia jelas lebih mengasyikkan. Setiap pagi saya bangun melihat pemandangan baru keindahan alam dan budaya Papua yang memesona, “Kami ingin para tamu merasakan kenyamanan dan keamanan seperti di rumah sendiri, walau bepergian ke salah satu tempat paling terpencil di planet ini,” terang Yessi.

Apa yang dikatakannya memang benar. Hingga hari keempat dari lima hari  berlayar, kami hanya bertemu nelayan-nelayan lokal yang mencari tangkapan  harian—tak ada perahu wisata lain yang terlihat. Kami berkayak ke pantai-pantai terpencil dikelilingi tebing batu kapur  yang dramatis. Mengingatkan saya pada kepulauan Raja Ampat yang lebih populer, bedanya tempat ini tidak ramai. Di bawah laut, kami menjelajahi situs menyelam  yang dijuluki “Komodo Kecil”, karena kemiripannya dengan terumbu karang di Taman Nasional Komodo.

Tetapi, yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang di Sequoia adalah kesempatan untuk melihat ikan terbesar di dunia. Hiu paus, yang panjangnya dapat mencapai 18 m, telah dikenal oleh nelayan di Papua selama berabad-abad, tetapi baru awal  tahun 2000-an satwa ini menjadi  daya tarik wisata.

Dalam serangkaian ekspedisi eksplorasi  yang dilakukan oleh Conservation International (CI) dan World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, wawancara dilakukan dengan nelayan jaring angkat atau bagan  di Kaimana. Para ilmuwan menemukan bahwa nelayan-nelayan ini hampir setiap  hari berinteraksi dengan hiu paus ketika  memberi makan ikan besar itu dengan ikan kecil atau ikan teri tangkapan mereka.

“Sebagian nelayan bagan melakukannya karena hiu merepresentasikan leluhur  dan membawa keberuntungan; sedangkan  yang lain mengatakan, jika hiu paus berkumpul di sekitar bagan mereka  di pagi hari, mereka juga bisa mendapatkan ikan cakalang, mackerel dan ikan layar,”  jelas Abraham Sianipar, Elasmobranch Conservation Management  Specialist dari CI.

Dari wawancara dengan para nelayan, peneliti menemukan bahwa keberadaan perahu-perahu bagan menjadikan  kawasan ini salah satu tempat terbaik  di Nusantara untuk melihat hiu paus.

Kapten Sequoia, Suriani merencanakan  agar kami tiba di dekat perahu bagan di Teluk Triton sesaat sebelum matahari  terbit. Saat cahaya fajar pertama bersinar  di timur, dive master Yohardik Lumettu menjelaskan kepada kami tentang  rencana pagi itu: “Kami akan menanyakan kepada nelayan apakah mereka pernah melihat hiu paus di pagi hari—kalau ada orang yang sedang memberi makan di bagan, kita bisa menyelam bersama mereka.”

Kedengarannya sederhana, tetapi antisipasi terlihat di ruang utama Sequoia. Semua orang memeriksa ulang peralatan mereka sambil menantikan kesempatan sekali seumur hidup untuk melihat raksasa laut yang jinak ini.

Perairan Teluk Triton yang berwarna biru kobalt terlihat tenang saat kami melintas dengan perahu penjemput, sementara cakrawala menyatu dengan cahaya  keemasan langit pagi bagaikan cermin.

Sesampainya di salah satu perahu nelayan bagan, kami bertemu Akbar, nelayan  berusia 22 tahun, yang sedang menyandar pada jaring angkat yang sangat besar.  Ia dan rekannya mencoba menangkap  ribuan ikan puri—ikan perak kecil—untuk dikeringkan atau dijual sebagai umpan  untuk ikan yang lebih besar. Dive master Yohardik membeli beberapa ikan puri dari Akbar, yang akan digunakan untuk  memberi makan hiu paus.

“Pagi ini, kami sudah didatangi dua hiu paus di sini,” kata Akbar, sambil menyandar pada bingkai jaring. Di belakangnya, kami mendengar suara seperti bak mandi besar yang sedang dikuras. Hiu paus berada di permukaan untuk makan.

Pinneng, teman menyelam saya dan sesama fotografer bawah laut, terlihat gembira saat mengecek ulang tangki scuba-nya. Satu per satu, kami berenam terjun ke air untuk bertemu salah satu hewan paling menakjubkan di planet ini.

Menyelam di bawah permukaan, saya disambut kepakan ekor sabit yang sangat besar dari hiu paus sepanjang 7 m, mulutnya yang seukuran kulkas melahap ikan puri berkilauan yang dijatuhkan dari atas oleh Akbar dan teman-temannya. Walaupun sudah lebih 10 tahun menyelam dengan  ikan-ikan besar ini, detak jantung saya  tetap berdegup kencang saat berada  di air bersama mereka.

Di bawah bagan, Teluk Triton benar- benar hidup. Penyelam dan snorkeller menyaksikan dari permukaan saat sekawanan lumba-lumba muncul di  bawah untuk mengambil potongan  ikan yang dimakan oleh hiu.

Bersama Pinneng dan teman sekapal Tania di kedalaman 7 m, saya bisa mendengar suara nyaring lumba-lumba saat mamalia laut kesayangan ini berenang ke sana kemari. Kartu memori kamera saya pun terisi dengan cepat dan tidak mungkin  memotret semua yang terjadi di sini.

Kami menghabiskan hampir dua jam menyelam dan snorkelling di sekitar bagan—sampai akhirnya lumba-lumba berganti dengan sekelompok ikan kue. Rasanya luar biasa, pagi ini kami sudah melihat lebih banyak dari yang bisa dilihat sebagian  besar penyelam seumur hidupnya.

Walaupun Teluk Triton belum sepopuler tetangganya, Teluk Cenderawasih sebagai tempat melihat hiu paus, para ilmuwan yakin populasi raksasa jinak ini ada sepanjang tahun di seluruh Bird’s Head Seascape. “Kami telah mengidentifikasi 28 hiu di Teluk Triton dan sekitar 120 di Cenderawasih, hanya lima dewasa yang jantan,” kata Abraham Sianipar dari CI. “Beberapa minggu lalu, kami memberi tag satelit pada hiu paus betina pertama kami dari Kaimana, yang kami beri nama ‘Susi’ untuk menghormati Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Peneliti awam sekarang bisa melacak Susi dan hiu paus lainnya dengan aplikasi Whale Shark Tracker CI,” tambah Sianipar.

Data dari hiu paus lain yang diberi tag di Cenderawasih menunjukkan bahwa hewan ini berenang cukup jauh. “Salah satu hiu paus kami, Kodo, jantan 4 m, berenang sampai pantai timur Filipina sebelum kembali ke Raja Ampat, lalu Kaimana, kemudian mengunjungi Teluk Carpentaria di Australia dan akhirnya sampai  di Merauke, di situ tag-nya kehabisan baterai,” kata Sianipar.

Sejak penelitian dimulai tahun 2015, ilmuwan  CI telah mendapatkan pengetahuan baru.  “Kami menemukan bahwa, walaupun sebagian hewan ini bermigrasi jauh, kebanyakan dari mereka tetap berada di wilayah masing-masing sepanjang tahun,” kata Sianipar. Informasi berharga ini digunakan oleh Pemerintah Kabupaten Kaimana untuk merancang  program ekowisata berbasis paus hiu.

Melihat keberhasilan kawasan hiu paus  lainnya di seluruh dunia sebagai destinasi ekowisata populer—majalah Time pernah menobatkan Donsol di Filipina sebagai  The Best Animal Encounter in Asia—pegiat konservasi dan komunitas lokal di Bird’s  Head Seascape berharap perlindungan hewan-hewan ikonis ini akan mendorong pengembangan destinasi ekowisata baru di Indonesia.

Dinilai dari pengalaman pelayaran kami yang luar biasa di Kaimana dan Teluk Triton, saya yakin tidak lama lagi ekosistem yang menakjubkan ini bakal terkenal seperti tetangganya di utara. 134 Travel | Kaimana

From Travel Colours June 2018

5 Senses – Scent THE AIR OF KITI KITI WATERFALL

Dari tengah kehijauan hutan hujan Papua, air jernih dari air terjun Kiti Kiti menyembur ke laut. Perpaduan unik air asin dan air pegunungan ini menghasilkan semburan air dingin menggigit—dan semilir angin menyegarkan bagi para perenang serta penyelam snorkel yang menjelajahi gua tersembunyi di belakang air terjun atau laguna yang mengelilinginya.