LONDON

London punya beraneka pasar untuk semua hari dan semua kebutuhan. Ada pasar kaki lima, pasar indoor, pasar di dalam gang, lorong dan kontainer, pasar yang menjual ikan, daging, buah dan sayuran, bazar buku, pasar dengan konsep car-boot (menggunakan kendaraan), pasar kaget, bazar piringan hitam, barang koleksi dan barang antik, pasar kerajinan dan bazar seni, pasar petani,  pasar Natal dan pasar amal, pasar jajanan  kaki lima dan tentunya pasar saham.

Anda bisa memilih mulai dari pasar yang buka setiap hari, seperti Tooting, Peckham dan Southall—tempat penduduk lokal membeli pisang raja dari Karibia, gula merah dari India dan mint dari Vietnam—hingga pasar petani mingguan di kawasan-kawasan gentrifikasi seperti Islington, Hackney  dan Swiss Cottage. Para pedagang  menjajakan roti, keju, saus dan selai  buatan sendiri serta makanan organik  dan biodinamik.

Untuk makan siang, singgahlah di  Pasar Exmouth, Maltby Street Market  di Bermondsey atau Rupert Street di Soho untuk menikmati kuliner jalanan yang  sedang tren, mulai dari taco BBQ Korea  dan donat custard hingga beraneka tapas  dan kopi dingin. Pukul 4 pagi, cicipi sarapan ala Inggris di kafe-kafe yang ada di sekitar pasar subuh di Smithfield, Borough  atau Billingsgate.

Pasar ikut membentuk bahasa Inggris di London: dari pasarlah lahir bahasa slang berima cockney. Selain itu, setiap pasar juga punya julukannya sendiri. Pasar bersejarah  di Roman Road, Bethnal Green (tempat asal mula slang cockney) dikenal dengan sebutan “The Roman”, pasar Walthamstow (pasar kaki lima terpanjang di Inggris) dijuluki  “Wally Market”, sedangkan Covent Garden (awalnya pasar buah, sayuran dan bunga) pernah dijuluki “Pasar Salad Lumpur” oleh  majalah satir Punch.

Nama-nama jalan dan kawasan juga menunjukkan pengaruh budaya pasar terhadap kehidupan Kota London selama ratusan tahun. Kawasan elite Mayfair, misalnya, namanya diambil dari pasar dan festival yang ada setiap musim semi. Ada pula Cloth Fair, Haymarket, Shepherd Market, New Change (singkatan  dari “exchange”), Leather Market, dan banyak lainnya. bila Anda mengatakan ingin pergi ke

“Portobello” atau “Lower Marsh” atau “Petticoat Lane”, orang-orang sudah tahu Anda ingin berbelanja. Beberapa tempat memiliki nama yang terdengar aneh, seperti Cheapside dan Eastcheap (jalan raya di kawasan bisnis), padahal sebenarnya nama tersebut berasal dari kata dalam bahasa Inggris Kuno, yakni chepe atau ‘pasar’.

Tak jauh dari Eastcheap, ada Leadenhall, pasar yang sudah berumur 130 tahun. Dibangun oleh orang-orang Victoria dengan mengikuti konsep bangunan Royal Exchange dari abad ke-16, yang setara dengan mal di zaman modern.

Bagian depan kedai-kedai di Leadenhall masih mempertahankan bentuk aslinya, termasuk tiang gantungan berumur ratusan tahun yang digunakan untuk menggantung daging burung pegar, buntut sapi atau domba, saat pasar tersebut masih ditempati para pedagang unggas, daging dan susu. Sekarang, kedai-kedai telah berubah menjadi restoran dan toko ritel, namun pengunjung masih bisa melihat keindahan kanopi aslinya yang dibuat pada tahun 1881, hampir berbarengan dengan pembangunan pasar populer lainnya, Spitalfields.

Dahulu, Spitalfields (dekat stasiun Liverpool Street) adalah pasar buah dan sayuran yang ramai. Namun sejak menempati bangunan baru, pasar ini terkenal dengan kios benda-benda seni, fashion dan pajangan yang berjejer di antara food truck dan restoran. Dekat dengan Brick Lane (terkenal dengan kawasan “Curry Mile” yang ramai oleh restoran-restoran Asia Selatan dan pasar hipster akhir pekan), Spitalfields pada awalnya memasok buah dan sayuran ke East End London, sama seperti Covent Garden yang memasok untuk area West End. Di tengah-tengah keduanya ada Smithfield Meat Market, yang masih menempati kompleks era Victoria (dirancang oleh arsitek yang juga mendesain Leadenhall Market) dari tahun 1868. Konon, tanah di bawahnya masih dalam kondisi membeku (permafrost) sampai sekarang.

Siapa pun pasti akan suka menjelajahi pasar-pasar di London, apalagi di sekitarnya banyak makanan lezat, pemandangan bersejarah dan transportasinya sangat memadai. Berikut adalah empat pasar yang wajib dikunjungi sepanjang akhir pekan:

Kamis: Greenwich Market

Greenwich mudah dicapai dengan bus atau kereta api, namun sejauh ini cara paling tepat untuk sampai ke sana adalah dengan layanan kapal Thames Clipper yang berlayar dari sejumlah dermaga, termasuk Bankside dan London Bridge City di dekat Borough Market. Inggris adalah penguasa di laut pada abad ke-18—dan pengunjung Greenwich bisa melihat kekuatan angkatan lautnya di National Maritime Museum, Cutty Sark (kapal layar megah yang sekarang dijadikan museum), dan tentunya Royal Observatory (yang dilewati garis meridian 0 derajat dan  menjadi titik awal perhitungan waktu dunia). Greenwich adalah Situs Warisan Dunia UNESCO dan pasarnya hampir setua akademi kelautan Inggris Royal Naval College. Papan petunjuk menyebutkan pasar Greenwich sudah ada sejak 1737—pelataran beratap dan jalur berbatu menguatkan hal itu. Toko-toko kerajinan, barang koleksi  dan busana di pasar ini menghadirkan atmosfer yang menakjubkan. Biasanya  ramai pada akhir pekan, pasar Greenwich juga terkenal dengan bermacam  pilihan kuliner jalanannya yang membangkitkan selera.

Jumat: Borough Market

Dengan suasana yang mirip cerita Harry Potter, di antara jembatan kereta api yang menuju stasiun London Bridge, Borough Market adalah tempat yang menakjubkan. Pasar ini dihiasi atap melengkung, jalanan berbatu dan atap kaca bergaya Victoria dan kontemporer, dengan ratusan kios  dan toko yang menyediakan makanan segar dan masakan yang tak ada duanya. Karena letaknya dekat dengan tempat-tempat wisata utama—dari Tower Bridge, Shakespeare’s Globe, Tate Modern, HMS Belfast, hingga dek observasi lantai 72 The Shard (tertinggi di Eropa Barat)—Borough Market ramai disinggahi wisatawan yang ingin makan siang. Anda bisa bersantap ala Inggris (tiram dari Essex, sandwich daging panggang,  roti panggang dan keju, salmon asap Skotlandia dan kippers Norfolk), atau mencoba beragam hidangan dari seluruh dunia (daging rebus Etiopia, truffle Italia, koshari Mesir, jajanan jalanan dari  Thailand dan kue kering Argentina).

Sabtu: Portobello Road Market

Terkenal ke seluruh dunia setelah muncul dalam film komedi romantis tahun 1999 Notting Hill, Portobello Road memang sangat cocok dijadikan lokasi syuting film. Dengan deretan rumah warna pastel bergaya Georgia, serta toko-toko antik, restoran kecil yang trendi dan bioskop Electric Cinema

(berasal dari tahun 1910, hanya memiliki 83 kursi dan beberapa di antaranya kursi berlengan), Portobello Road adalah tempat yang paling romantis di London. Pasarnya paling bagus dikunjungi pada hari Jumat atau Sabtu. Di sini, pengunjung diajak menikmati perjalanan maraton yang dimulai di ujung selatan pasar dengan deretan kios barang antik, dilanjutkan dengan kios buah-buahan dan sayuran serta barang-barang rumah tangga di sekitar Westbourne Park Road, lalu berubah menjadi toko pakaian vintage dan bazar barang-barang koleksi di bawah jembatan layang Westway dan berakhir dengan pasar loak di depan Golborne Road. Belok kanan, pasar berlanjut dengan  kawasan komunitas Maroko utara dan Portugis yang sudah ada sejak lama. Kafe-kafenya menyediakan hidangan domba tagine khas Maroko untuk makan siang, dilanjutkan dengan kopi dan tart telur  pastel de nata khas Portugis.

Minggu: Columbia Road Flower Market

Columbia Road adalah gambaran kehidupan Kota London abad ke-21. Di sinilah warga London yang hobi bercocok tanam tumpah ruah mencari bunga potong, tanaman pot, semak, pepohonan, umbi dan bibit. Dengan begitu banyak pilihan, pengunjung bisa menghabiskan waktu seharian di sini. Sementara bagi mereka yang tidak berminat pada tanaman bisa menjelajahi toko-toko kecil lain di sekitarnya (biasanya tersembunyi di balik kios), seperti toko interior, barang bekas dan antik, toko kerajinan dan tentunya menikmati kopi, kuliner jalanan dan restoran untuk mengisi tenaga. Tak heran, Columbia Road ramai dikunjungi tidak hanya oleh peminat hortikultura, tapi juga para hipster dan penikmat kuliner. Paling pas dikunjungi antara pukul 10.00 hingga 13.00 (hanya pada hari Minggu). Di dekat situ ada Kingsland Road yang menawarkan deretan restoran Vietnam, serta Brick Lane dengan pasarnya.

5 Senses – Sight WEEKDAY MARKETS

Pasar tidak hanya ramai pada akhir pekan. Pada hari Senin, singgahlah di Covent Garden dan jelajahi kios-kios kerajinan di Apple Market. Kunjungi juga Piccadilly Market yang berlokasi di halaman Gereja St James di dekat Piccadilly Circus pada hari Selasa, untuk mencari barang antik (hari Senin makanan dan hari lainnya barang-barang kesenian dan kerajinan). Untuk hari Rabu, peminat karya sastra bisa menjelajahi kios-kios Pasar Buku (buka setiap hari dari jam makan siang sampai jam 7 malam di bawah Waterloo Bridge Queen’s Walk, kawasan pejalan kaki di tepi sungai yang dikelola oleh South Bank Arts Centre).