Medina

Madinah sejak dulu berbeda dengan  Mekah. “Konon, jika uang Anda jatuh  di sini, tidak akan ada orang yang mengambilnya. Orang-orang akan membiarkannya sehingga ketika Anda kembali, Anda bisa menemukannya  di tempat yang sama,” kata Saeed Anwar, tersenyum saat kami duduk bersama menghadap pola geometris yang  menghiasi pilar-pilar “pohon palem”  putih di halaman Masjid Nabawi.

Di atasnya, langit yang tak berawan menampakkan ribuan bintang. Udara  malam itu terasa sejuk. Suhu udara  Madinah memang sedang bersahabat.

Saeed mengunjungi kota suci Islam kedua  ini usai melakukan ibadah umrah di Mekah. Ia berasal dari India. Seperti lazimnya umat Islam dari seluruh dunia yang datang  ke Arab Saudi untuk beribadah haji dan umrah, kami berdua melengkapi “haji kecil” kami dengan mengunjungi Madinah.

Dua kota ini sama pentingnya dalam sejarah awal mula Islam, namun terasa seperti dua dunia yang berbeda. Mekah ramai dan sibuk, sedangkan Madinah tampak tenang. Mekah terasa riuh, Madinah lebih santai. Seolah-olah Madinah adalah yin dan Mekah  adalah yang.

Madinah, yang terletak hampir 500 km  dari tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW, menjadi tujuan hijrah beliau pada  tahun 622.

Penduduk Yathrib—sebutan Kota Madinah pada masa itu—menyambut gembira kedatangan rombongan Nabi dengan nyanyian dan tabuh gendang. Mereka pun berlomba-lomba menawarkan tempat  tinggal kepada Nabi Muhammad SAW.  Agar tak ada siapa pun yang tersinggung,  Nabi membiarkan unta kesayangannya, Qaswa, yang memilih. Di mana pun  unta betina itu berhenti, di situlah beliau akan tinggal dan membangun masjid.

Tempat Qaswa berlutut—dulunya  kebun kurma milik dua anak yatim—sekarang menjadi tempat Masjid Nabawi berdiri, tepat di jantung Madinah.  Awalnya dibangun sederhana dengan  batu bata, batang dan daun pohon  kurma, kini Masjid Nabawi dapat menampung 1 juta jemaah selama  puncak musim haji.

Di kota inilah Nabi mengembangkan  Islam dengan pesat dan banyak momen penting terjadi di sini. Itulah mengapa  tahun tibanya Nabi di Madinah menjadi  awal dari kalender Islam. Nabi Muhammad SAW tidak pernah kembali lagi ke Mekah  hingga beliau wafat di Madinah  pada tahun 632.

Jasadnya dimakamkan di dalam  mausoleum di bawah Kubah Hijau Masjid Nabawi, bersama para sahabatnya, seperti khalifah Abu Bakar dan Umar. Tempat ini menjadi situs penting bagi para peziarah yang berkunjung ke Madinah.

Dengan begitu banyak tempat suci dan monumen di Madinah, tak heran bila  kota ini dicintai para peziarah.

“Kota ini banyak berubah dalam beberapa tahun terakhir, banyak situs bersejarah hilang. Ada perubahan yang bagus dan ada yang tidak. Tapi yang pasti, sekarang jauh lebih mudah untuk sampai ke situs-situs penting,” jelas Saeed, sementara dua  burung pipit cokelat bermain di lantai  marmer yang dingin di hadapan kami.  Saya mengangguk setuju.

Dua burung itu terbang bersama. Mereka tidak takut terbang rendah di antara jemaah, karena tahu tidak akan ada yang menyakiti mereka di sini. Tempat ini suci.

Seorang pria tua berbaju putih panjang, membawa kantong kuning, perlahan  berdiri. Saat ia melintas menuju pintu  besi hitam yang selalu terbuka, tercium aroma kasturi yang kuat. Ia menghampiri salah satu petugas kebersihan asal Bangladesh yang sedang bersandar pada sapunya, menyalaminya dan terlihat memberikan beberapa rial Arab Saudi.

Di jalan raya di belakang kami, bus wisata bertingkat warna merah berhenti di halte. Hari sudah larut dan di dek atas tampak sebuah pemandangan lazim: penumpang yang bersandar ke jendela dengan mata terpejam. Di London, bus ini seperti bus nomor 25 tujuan Oxford Circus. Bedanya,  di sini tujuannya tempat-tempat suci.

Di pinggiran utara kota yang dinaungi Gunung Uhud, bus berhenti di bekas  lokasi Pertempuran Uhud yang menjadi  pukulan terbesar selama kepemimpinan  Nabi Muhammad SAW di Madinah. Kemudian, bus menuju perhentian 9, bekas lokasi Pertempuran Khandaq, di mana 3.000  umat Islam berhasil mempertahankan  kota mereka melawan 10.000 orang  musuh dengan membangun parit.

Keluar ke arah barat, bus membawa pengunjung ke Masjid Qiblatain,  yang mengingatkan bahwa dahulu umat Islam salat menghadap ke Yerusalem.

Di masjid inilah Nabi menerima wahyu untuk mengubah arah kiblat ke Mekah.  Untuk ke Masjid Nabawi, pengunjung bisa turun di Bab Al Salaam, salah satu dari beberapa gerbang masjid yang dulu merupakan bagian dari tembok kota.

Bus wisata adalah cara paling mudah  untuk berkeliling Madinah, termasuk ke tempat-tempat wisata konvensional, seperti Al Noor Mall, mal mewah berbentuk oval  di jalan lingkar King Abdullah yang ramai.

Bus juga berhenti di Al Manakh Square (perhentian 3), tempat belanja tradisional penduduk Madinah. Di dalam dan di sekitar persimpangan yang ramai ini terdapat toko-toko yang menjual kurma lokal yang terkenal paling enak di seantero Arab.

Rute bus dimulai dan berakhir di Masjid Nabawi, tempat di mana pada hari yang menentukan di tahun 622, Qaswa sang  unta berhenti di antara pepohonan kurma, dan akhirnya Yathrib menjadi Al Madinah  Al Munawarah—kota yang bercahaya— dan kota suci bagi seluruh umat Islam.

From Travel Colours June 2018

Resapi aroma rempah kopi tradisional Saudi, yang disebut kahwa. Dibuat dari campuran biji kopi, kapulaga dan cengkeh, aroma Arab klasik ini akan membawa Anda kembali ke zaman “Arabia Felix”. Anda bisa menemukan tempat yang menyediakan minuman tradisional ini di hampir
setiap sudut Kota Madinah.