Oman

Benteng Nizwa berdiri bak istana dalam Kisah 1001 Malam. Menaranya membubung ke langit biru yang cerah. Gerbang besarnya dapat dilewati lima unta berjajar sekaligus. Sedangkan 24 celah di sekitar menara dulunya adalah tempat meriam yang digunakan untuk melumpuhkan para perompak gurun yang mengincar persimpangan ini. Banyak yang ingin menguasainya karena daerah ini menjadi rute perdagangan antara Dubai  dan Ibu Kota Oman, Muscat.

Pasar tradisional di Nizwa menyediakan segala kebutuhan, mulai dari cangkir tembaga buatan tangan, teko kopi, rempah-rempah, barang-barang kulit, sampai belati tajam untuk berjaga-jaga di jalan menuju Abu Dhabi. Pasar ini juga menjual kurma  di dalam ember, serta sirup kurma,  yang ratusan tahun lalu direbus dan dilemparkan ke penyerang Benteng Nizwa.

Pada Jumat pagi, masyarakat suku setempat turun ke pasar abad pertengahan ini untuk menjual sapi dan kambing untuk pesta pernikahan dan barbecue di gurun. Kadang-kadang unta masih digunakan sebagai “kapal gurun”. Alat transportasi ini sudah ribuan tahun dipakai melintasi Semenanjung Arab. Bahkan, mobil baru menggantikan unta sebagai alat transportasi di Oman pada 1960-an.

Karena bensin di sini lebih murah daripada air mineral, saya memilih mengendarai jip Toyota. Dengan populasi hanya 4 juta, yang tersebar di wilayah seukuran Jerman,  jalan tol negara ini sangat lengang. Jumlah wisatawannya juga tidak banyak: 3 juta per tahun, jauh dibandingkan 15 juta yang mengunjungi negara tetangga, Arab Saudi dan UEA. Hal ini memungkinkan Oman merintis pariwisata ramah lingkungan yang menyuguhkan warisan-warisan budaya terbaik. Salah satunya adalah oase Falaj Daris yang dilindungi UNESCO.

Falaj adalah sistem irigasi kuno yang dibangun dengan tangan 1.500 tahun lalu. Airnya disalurkan ke kebun-kebun kurma dan pohon lada yang menciptakan kehijauan di gurun belukar. Karena airnya hanya digunakan untuk irigasi, bukan untuk minum, pengunjung boleh berenang di kanalnya. Anak-anak suka menyelam dan memetik kurma untuk camilan siang. Falaj Daris juga mengalir di bawah Benteng Nizwa, 10 km ke selatan dari oasis ini. Sebaliknya, sumber air irigasi ini terletak 30 menit ke arah utara.

Jebel Akhdar adalah puncak tertinggi di Arab Timur. Namanya berarti ‘Gunung Hijau’.  Di sini, hujan mengairi ladang persik, kenari, aprikot dan anggur. Di ketinggian 3.000 m, pemandangannya terlihat begitu indah dari dalam mobil—apalagi dengan bersepeda. Setiap tahun, para peserta Tour of Oman (perlombaan sepeda yang diadakan oleh Tour de France) mendaki rute ini. Pembalap top Chris Froome dan Vincenzo Nibali pernah memenangkan lomba yang berlangsung seminggu ini.

 

Saya berada di Jebel Akhdar untuk menginap  di sebuah hotel yang merepresentasikan visi pariwisata Oman dan Arab modern. Berada di puncak gunung, Hotel Alila memadukan lantai batu dan teknik konstruksi tradisional Oman dengan furnitur tembaga buatan tangan  serta kolam renang mewah.

Selain yoga pagi dan meditasi di bawah  bintang, hotel ini juga memperkenalkan para tamu dengan penduduk setempat untuk merasakan Oman yang sesungguhnya. Saya mengikuti pendakian bersama pemandu selama lima jam melewati kehijauan Jabal Akhdar, lalu mencoba Via Ferrata, jalur pendakian tebing yang dulu menjadi satu-satunya akses  ke pegunungan di sekitarnya.

Fajar memancarkan cahaya keemasan di atas lembah hijau. Jip saya mengikuti matahari selama empat jam menuju Samudra Hindia. Topografi Oman yang beragam terlihat di sepanjang rute ini. Tebing menjulang hingga formasi batuan Wadi, lalu deretan pohon kelapa, dan jalanan aspal yang berkelok-kelok seperti kaligrafi Arab di awal perjalanan saya.

Kulinernya pun beragam. Masakan di pedalaman antara lain haree (bubur gandum) dan machboos (nasi goreng dengan kacang pinus dan kismis sultana). Sementara masakan pesisirnya adalah tuna segar yang dibumbui kapulaga dan asam, warisan kerajaan Oman yang dulu membentang hingga pulau rempah-rempah Zanzibar.

Kehidupan lautnya yang kaya bisa disaksikan di Ras Al Jinz, kawasan paling timur negara ini. Paus bungkuk, hiu paus dan lumba-lumba berenang di laut hangat yang menghadap ke Iran dan Pakistan. Saya ke sini untuk melihat ribuan penyu tempayan, penyu sisik dan penyu hijau bertelur di pantainya.

Pada tengah malam, seorang pemandu membangunkan saya dari tenda safari  di Pusat Penangkaran Penyu Ras Al Jinz. Kami bergabung dengan sekelompok turis ekowisata untuk menyaksikan pemandangan paling luar biasa: induk-induk penyu berukuran besar bertelur dalam cekungan berpasir, sementara tukik yang baru  menetas berlarian ke laut.

Bila Anda bertanya tentang Oman,  biasanya agen perjalanan akan memberi gambaran Gurun Wahiba, bukit pasir  merah setinggi ombak yang membentang sejauh mata memandang. Topografinya seperti perpaduan Star Wars dan Lawrence  of Arabia, dengan jejak ular, rubah gurun  dan burung nasar yang diterpa angin  gurun di malam hari. Gurun ini menjadi rumah bagi sekitar 3.000 penggembala Bedouin, dengan pola makan tradisionalnya yang terdiri atas susu unta, kopi,  daging kelinci dan kurma.

Karena ini Oman, akomodasi saya pun bintang lima. Saya menginap di Desert Nights Camp yang bagaikan fatamorgana  di lautan pasir. Stafnya yang memakai serban menawarkan handuk dingin dan teh mint kepada tamu yang baru turun dari mobil 4×4 jeep. “Tenda” mereka seperti pondok, dengan bantal beanbag dan karpet untuk bersantai sambil merencanakan petualangan  Anda di gurun.

Kehidupan lautnya yang kaya bisa disaksikan di Ras Al Jinz, kawasan paling timur negara ini. Paus bungkuk, hiu paus dan lumba-lumba berenang di laut hangat yang menghadap ke Iran dan Pakistan. Saya ke sini untuk melihat ribuan penyu tempayan, penyu sisik dan penyu hijau bertelur di pantainya.

Pada tengah malam, seorang pemandu membangunkan saya dari tenda safari  di Pusat Penangkaran Penyu Ras Al Jinz. Kami bergabung dengan sekelompok turis ekowisata untuk menyaksikan pemandangan paling luar biasa: induk-induk penyu berukuran besar bertelur dalam cekungan berpasir, sementara tukik yang baru  menetas berlarian ke laut.

Bila Anda bertanya tentang Oman,  biasanya agen perjalanan akan memberi gambaran Gurun Wahiba, bukit pasir  merah setinggi ombak yang membentang sejauh mata memandang. Topografinya seperti perpaduan Star Wars dan Lawrence  of Arabia, dengan jejak ular, rubah gurun  dan burung nasar yang diterpa angin  gurun di malam hari. Gurun ini menjadi rumah bagi sekitar 3.000 penggembala Bedouin, dengan pola makan tradisionalnya yang terdiri atas susu unta, kopi,  daging kelinci dan kurma.

Karena ini Oman, akomodasi saya pun bintang lima. Saya menginap di Desert Nights Camp yang bagaikan fatamorgana  di lautan pasir. Stafnya yang memakai serban menawarkan handuk dingin dan teh mint kepada tamu yang baru turun dari mobil 4×4 jeep. “Tenda” mereka seperti pondok, dengan bantal beanbag dan karpet untuk bersantai sambil merencanakan petualangan  Anda di gurun.

From Travel Colours June 2018

5 Senses – Sight MUSCAT FISH MARKET

Konsep Pasar Ikan yang baru di Muscat memadukan gaya modern dan klasik. Pada 2017, perusahaan desain Norwegia Snøhetta membangun atap mirip UFO bergaya Arab untuk menaungi 100 pedagang ikan dari matahari terik. Hasil tangkapan laut menjadi objek menarik untuk difoto. Ikan kakap raksasa dan tuna dari Samudra Hindia diangkut oleh para nelayan yang bertelanjang kaki dan dijual ke restoran-restoran di Muscat. Pengunjung juga bisa mencoba kafe seafood-nya yang baru.