Raja Ampat

Dengan pemandangan megah, kekayaan laut yang menakjubkan dan perairan yang tenang, Kepulauan Raja Ampat Indonesia adalah tempat yang sempurna untuk mencoba wisata kayak dengan kapal rekreasi.

Memandang dari atas Pulau Wayag, bendera Indonesia yang berkibar tertiup angin sepoi-sepoi menjadi pengingat bahwa tempat yang cantik ini berada di dunia. Di bawah langit yang perlahan memanas, lapisan awan lembut memancarkan warna keemasan, sementara jalinan pulau-pulau kapur berhutan menjulang dari laut yang berwarna biru kehijauan seperti ekor hewan mitos. Keringat yang mengucur dan pendakian yang licin pagi itu terbayar dengan panorama keindahan surgawi.

Pulau Wayag adalah ikon Kepulauan  Raja Ampat, sebuah gugusan pulau di khatulistiwa yang terdiri atas 1.500 lebih pulau kecil, teluk dan beting di ujung  barat laut Provinsi Papua Barat. Kuartet pulau-pulau utamanya, yakni Misool, Salawati, Batanta dan Waigeo, membuat nama Raja Ampat, yang berarti ‘Empat Raja’, mendunia.

Dapat diakses melalui kota pelabuhan Sorong yang ramai di Papua Barat,  Raja Ampat memang bukan destinasi termudah untuk dicapai. Meski begitu, pemandangannya yang luar biasa, dengan pulau-pulau berselimut hutan, pantai berpasir halus, rangkaian laguna dan gua serta perairan yang jernih berkilauan, menjadikan Raja Ampat salah satu kepulauan paling memesona di seantero Asia Tenggara.

Daya tarik perairan surgawi ini membuat pendayung kayak profesional, petualang  dan “ahli ekspedisi” Matt Edwards jatuh hati. Pria berdarah Kanada-Australia ini tengah berkemah di selatan Raja Ampat saat ia mendengar cerita tentang pulau di sebelah utara bernama Wayag, yang bagaikan  surga bagi para pendayung. Ia langsung menyewa perahu nelayan setempat  untuk membawanya ke sana, bersama  empat pasangan petualang lain.

“Saat pertama kali sampai di Wayag, kami terpana melihat kecantikannya,” cerita Matt. “Saya sudah berkeliling dunia dan melihat tempat-tempat indah, tetapi ini lebih dari yang lain. Saya seperti anak kecil yang bermimpi pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi siapa pun dan menemukan Shangri-La.”

Perjalanan yang luar biasa Setelah puas mengeksplorasi Wayag, Matt dan teman-teman menghabiskan dua minggu berikutnya mengayuh kayak untuk kembali ke Raja Ampat Selatan.

Perjalanan kembali itu luar biasa dan sulit, kami melewati beberapa penyeberangan panjang,” kata Matt. “Saat itu muncul ide menggunakan kapal rekreasi sebagai kapal induk untuk berlayar antarpulau di Raja Ampat, lalu menjelajahi masing-masing pulau dengan kayak.”

Dari situ, lahirlah konsep kayak dengan kapal rekreasi atau liveaboard. Lewat perusahaan miliknya, Expedition Engineering, kini Matt membawa para petualang menjelajahi pulau-pulau Raja Ampat dengan kapal pinisi yang dilengkapi kabin ber-AC, pancuran air panas, kursi berjemur dan makanan. Setiap kali kapal berhenti, perahu-perahu  kayak diturunkan dari kapal.

“Inilah cara terbaik untuk mengeksplorasi Raja Ampat,” ujar pemandu Expedition Engineering asal Australia, Toby Story. “Mendayung dengan tenang melintasi pulau-pulau yang spektakuler ini, tanpa suara dan bau mesin, Anda bisa menikmati bagian alam paling liar dan indah, sekaligus berolahraga.”

Jelajah ekuator

Dari dek kapal rekreasi Euphoria yang berayun di bawah terik matahari, terlihat Pulau Ekuator yang merupakan barisan bukit kapur mencuat tinggi. Dasarnya tersapu oleh perairan Samudra Pasifik berwarna biru kehijauan, sementara permukaannya dihiasi guratan dan gua serta hutan lebat.

Ketika kapal mendekati garis pantai, tampak beberapa teluk terpencil. Lautan dan batuan dipisahkan oleh pasir kuning berkilauan. Erosi ombak yang mengikis permukaan bawahnya membuat bukit-bukit kapur terlihat seperti batu melayang yang puncaknya diselimuti hutan hujan.  Di atas kepulauan terpencil ini, burung-burung cakalang elok terbang melingkar  di langit seakan mengawasi kedatangan  kami di habitat mereka.

Dibantu oleh kru Indonesia yang antusias, perahu-perahu kayak diturunkan dari kapal Euphoria dan berayun lembut di air yang tenang. Penumpang kapal—dengan beragam usia dan kemampuan mendayung—segera mengayuh ke pantai di bawah pengawasan Matt dan Toby. Berpandu alat GPS anti-air, kelompok ini memulai penyeberangan ekuatorialnya dengan berfoto. Dayung diangkat tinggi-tinggi, sementara perahu kayak aneka warna bergoyang dibuai gelombang laut.

Keistimewaan yang ditawarkan kayak liveaboard tentu saja jelajah perairan yang menantang fisik, namun kegiatan ini sifatnya opsional. Sebagian orang sanggup mendayung kayak tiga kali dalam sehari, tetapi ada juga yang tidak ingin mencoba sama sekali. Setiap malam, penumpang diberikan briefing mengenai kegiatan untuk keesokan hari, yang juga meliputi kunjungan ke desa-desa setempat dan pedalaman untuk melihat air terjun dan alam liar.

Teluk-teluk yang jernih dan kanal pedalaman Raja Ampat biasanya tenang, meski pada perairan lepas pantai terkadang berombak. Jika cukup berani, pendayung bisa menyeberangi gelombang Pasifik yang bergelung di tepian utara.

“Ini memacu adrenalin,” kata Denis Weily, seorang pendayung kayak berpengalaman dari Australia, setelah mengarungi serangkaian ombak di bawah bimbingan Toby. “Badan kami basah, tetapi kami puas.”

Kelompok ini mengakhiri perjalanan sorenya dengan mengayuh di perairan biru hutan bakau di pedalaman Pulau Ekuator. Berbeda dengan hutan bakau pada umumnya, perairan yang merendam hutan bakau ini bebas dari endapan lumpur dan sedimen dan merupakan habitat kehidupan laut yang menakjubkan.

Raja Ampat adalah rumah bagi 35 spesies bakau. Akarnya yang sebagian terendam berfungsi menyokong pertumbuhan terumbu karang. Saat para pendayung menengok ke bawah, kawanan ikan tampak berkilauan oleh cahaya matahari, sementara ikan pemanah bersiaga di dekat permukaan untuk memangsa serangga dan kadal yang hinggap pada akar pohon di atas permukaan, dengan cara menyemburkan air.

“Ke mana pun mata memandang, Anda akan melihat kehidupan di Raja Ampat,” kata Denis. “Karena Anda sendiri yang mengendalikan kayak, Anda bebas berhenti untuk menikmati keindahan.”

Keindahan Dua Dunia

Sebagian besar ekspedisi kapal rekreasi juga menawarkan kesempatan untuk menjelajahi alam bawah laut Raja Ampat, yang bisa dibilang lebih fantastis lagi. Pendayung kayak biasanya membawa peralatan snorkelling sendiri agar bisa langsung terjun ke air.

Terletak di jantung Segitiga Terumbu Karang, lautan luas dengan pulau-pulau yang dikelilingi Filipina, Timor dan Papua Nugini, Raja Ampat diyakini memiliki keanekaragaman biota laut terbesar di dunia, dengan banyak sekali spesies endemik. Tiga perempat varietas karang dunia ada di sini, 10 kali lipat dari yang terdapat di Karibia. Arus laut yang kuat membawa bibit karang melintasi Samudra Hindia dan Pasifik dan membantu merevitalisasi ekosistem terumbu karangnya.

Setiap hari, para pendayung kayak dari kapal Euphoria disuguhi kekayaan alam Raja Ampat. Untuk mereka yang ingin snorkelling, lautnya yang sejernih kristal menawarkan pemandangan deretan terumbu karang lunak dan keras. Hiu, kura-kura, pari manta, ikan kakatua, ikan wrasse, ikan damsel, ekor kuning dan banyak sekali jenis lainnya hidup di taman bawah laut yang begitu indah, dengan keragaman yang tak ada duanya.

Namun, tak hanya dunia bawah lautnya yang menggoda untuk dijelajahi. Wisata Kayak, yang berlangsung hingga tiga hari, juga mengajak Anda ke desa-desa setempat dan Namun, tak hanya dunia bawah lautnya yang menggoda untuk dijelajahi. Wisata Kayak, yang berlangsung hingga tiga hari, juga mengajak Anda ke desa-desa setempat dan menyisir jalur pedalaman untuk menikmati air terjun dan alam liar.

“Di atas maupun di bawah air, Raja Ampat benar-benar istimewa,” kata Matt. “Wisata kayak dari perahu liveaboard adalah cara yang tepat untuk menyusuri salah satu tempat paling memesona dan sempurna di planet ini. Semua petualang wajib ke sini.”

From Travel Colours September 2018