Yanesen

Berdiri di depan kedai bunga kecil miliknya,  Shizuo Kotake mengenakan T-shirt bertuliskan frasa bahasa Inggris “salt of the earth”, yang berarti ‘orang yang rendah hati dan sederhana’. Kotake (67) sendiri tak menyadari arti frasa tersebut karena kemampuan bahasa Inggris-nya yang terbatas. Namun, ia tersenyum dan mengangguk ketika  saya bertanya lewat seorang penerjemah  apakah ia setuju dengan sebutan itu.

“Di sini banyak orang seperti itu,” katanya,  merujuk pada ribuan penduduk Yanesen, salah satu daerah tertua dan paling sederhana di Tokyo. Kotake pindah ke Yanesen 25 tahun silam untuk membuka toko, dan ia sangat bangga dengan daerah tempat tinggalnya. Seperti para tetangganya, ia mencintai ketenangan dan kehidupan yang lebih santai, semangat gotong royong dan gaya hidup tradisional di daerah ini.

Jika Tokyo melesat dengan kecepatan kereta peluru, Yanesen bergerak dengan kecepatan becak. Tidak seperti pusat Kota Tokyo, di Yanesen tak ada gedung pencakar langit yang gemerlap, lampu neon berkilauan atau jalan lebar dengan keramaian yang menyesakkan. Sebaliknya, tempat ini istimewa karena kesederhanaannya. Di sini  ada banyak sekali kuil, taman-taman mungil, pemandian umum, toko buku yang menarik,  pub izakaya yang nyaman, toko-toko seni  milik keluarga dan jalan kecil yang diapit  rumah-rumah kayu tradisional.

Tempat ini bukan Tokyo yang dikenal orang-orang dari kartu pos atau acara televisi dan film. Tokyo yang metropolis dan modern itu seperti ada di dunia paralel di masa depan. Bagi Kotake dan tetangganya, suasana Jepang kuno membuat mereka merasa nyaman di Yanesen. Keautentikan ini pula yang menarik banyak pengunjung yang ingin melihat sisi lain Tokyo yang lebih tenang.

Tur berjalan kaki menjadi pilihan sebagian besar pengunjung Yanesen. Kawasan ini sangat nyaman bagi pejalan kaki dan pesepeda karena ukurannya yang mungil. Lalu lintasnya pun lengang dan hanya sedikit bangunan yang tingginya lebih dari empat lantai. Biasanya tur berkisar antara dua jam hingga sehari penuh, termasuk mengunjungi restoran-restoran sederhana, galeri seni dan museum-museum kecil serta beberapa kuil utamanya.

Namun begitu, butuh waktu seminggu untuk menjelajahi semua kuil di Yanesen. Meski panjangnya tidak lebih dari 1,5 km, daerah ini punya lebih dari 50 kuil dan menjadi pusat agama di Jepang sejak pertengahan 1600-an. Kala itu, Keshogunan Tokugawa, pemerintah militer feodal terakhir Jepang, memerintahkan pemindahan banyak kuil ke Yanesen.

Pada masa itu, Yanesen—yang namanya berasal dari gabungan tiga kawasan pinggiran, Yanaka, Nezu dan Sendagi—adalah bagian dari Shitamachi, kawasan terbesar di Tokyo.

Dahulu, anggota shogun tinggal dalam kemegahan Istana Edo, yang sekarang disebut Istana Kekaisaran, sementara kalangan bangsawan Tokyo menghuni daerah-daerah elite di sekitar istana. Di luar kawasan itu, ada Shitamachi, daerah petani dan buruh.

Lebih dari 300 tahun berlalu, tak ada tempat lain di Tokyo yang memiliki situs keagamaan sebanyak Yanesen. Hanya beberapa menit setelah turun di stasiun kereta Nippori, satu dari tiga stasiun yang menyediakan akses mudah ke Yanesen, selain stasiun Sendagi dan Nezu, saya sudah berada di pekarangan Kuil Tennoji yang rindang. Sepasang suami istri Jepang sedang memandangi patung perunggu Buddha besar, bagian terpenting dari tempat ibadah ini.

Didirikan pada 1274, Tennoji adalah salah satu situs keagamaan tertua di daerah tersebut. Sempat ditutup oleh Keshogunan pada akhir 1600-an, namun dibuka kembali beberapa tahun kemudian, dan sejak itu menjadi salah satu kuil Buddha terbesar  di utara Tokyo. Kuil ini berada di puncak bukit yang diapit oleh stasiun Nippori dan taman pemakaman Yanaka yang luas. Dengan lebih dari 7.000 makam, Yanaka memiliki daya tarik tersendiri karena  sejarah dan kemegahan alaminya. Tempat  ini begitu indah pada musim sakura  di bulan Maret atau bulan November  ketika pohon-pohon memancarkan  warna hangat musim gugur.

Saya datang di antara dua puncak musim tersebut dan taman pemakaman ini  masih terlihat indah, diselimuti kehijauan.  Di sinilah pembaringan terakhir tokoh-tokoh terkenal, termasuk seniman, penyanyi, politisi, penulis, ilmuwan, penyair, atlet  dan pemimpin militer. Salah satu yang  paling terkenal adalah Tokugawa  Yoshinobu, shogun Jepang terakhir.

Lokasi lain yang juga memadukan sejarah dan alam dengan apik adalah Kuil Nezu. Didirikan lebih dari 1.900 tahun lalu, beberapa bagian kuil ini terdaftar sebagai aset budaya nasional, termasuk bagian honden (bangunan suci), haiden (ruang ibadah), heiden (ruang persembahan) dan romon (gerbang dua tingkat). Terletak di tengah hutan rimbun, dihiasi kolam ikan koi, tapak batu kuno serta terowongan gerbang warna merah cerah,  Kuil Nezu menawarkan pemandangan spektakuler. Tempat ini paling menarik dikunjungi selama “Festival Bunga Azalea”, setiap akhir April hingga awal Mei, yang menampilkan bunga-bunga bermekaran dalam berbagai warna, dari merah muda sampai ungu, putih sampai jingga. Begitu cantiknya sampai para seniman, dari pelukis  hingga fotografer, datang beramai-ramai  untuk mengabadikannya.

Selain situs-situs keagamaannya yang megah, Yanesen juga memikat para peminat seni. Daerah ini sudah lama dikenal sebagai pusat kerajinan tradisional Jepang, seperti tougei (tembikar), shodo (kaligrafi), takeami (anyaman bambu) dan ikebana (merangkai bunga). Pengunjung dapat mencoba membuat kerajinan tersebut didampingi para ahli di Pusat Informasi Wisata dan Budaya Yanesen. Untuk kelas ikebana 90 menit, tarifnya mulai dari JPY4.850 (sekitar Rp620 ribu) per orang, kelas shodo 60 menit mulai dari JPY3.850 (sekitar Rp490 ribu) dan sesi tougei dua jam JPY4.850 (sekitar Rp620 ribu).

Takeami adalah seni paling populer di Yanesen, dilihat dari banyaknya toko di sepanjang jalur perbelanjaan Yanaka Ginza yang menjual produk anyaman bambu. Ada keranjang, sandal, anting, patung, sumpit, bahkan sarung HP. Secara keseluruhan, lebih dari 70 toko berjejer di jalur ini, termasuk kafe, toko buku, restoran, juga toko seni dan kerajinan yang menempati ruko-ruko yang sudah ada dari tahun 1900-an. Selain itu, ada kedai ikan milik keluarga yang menyuplai produknya  ke restoran-restoran sushi, serta beberapa toko permen tradisional Jepang, seperti amezaiku, permen yang diukir dengan tangan menjadi beragam bentuk rumit.

Shigemi Buseki (49), mengelola toko takeami keluarganya yang sudah berdiri di Yanesen selama satu abad. Sopan dan bicaranya lembut, ia mengajak saya berkeliling sambil menjelaskan teknik tradisional untuk membuat produk mereka. Saya mengatakan kepada Shigemi bahwa bisnis semacam ini sangat cocok dengan kawasan bersejarah di Tokyo ini. Ia pun setuju. “Yanesen memang istimewa,” katanya. “Satu-satunya tempat di Tokyo (di mana) gaya hidup tidak banyak berubah. Rasanya seperti terhubung dengan masa lalu. Saya suka itu. Saya berharap keadaannya tetap seperti ini untuk waktu yang lama.”

From Travel Colours July 2018

5 Senses – Sound IZAKAYAS

Dengarkan suara-suara tawa serak dan percakapan riuh di dalam izakaya, pub tradisional Jepang, di Yanesen. Tempat berukuran kecil dengan suasana akrab ini menyajikan makanan lezat, ditemani bir dan sake, arak Jepang yang populer. Walaupun biasanya orang Jepang pendiam di tempat umum, tidak demikian di izakaya. Datanglah dan nikmati suasananya.