martabak_main

Feeding The Nation

Martabak Munch

Martabak memang dibawa dari tanah Arab, namun ketika sampai di Indonesia martabak mendapatkan penyesuaian dan menjadi jajanan favorit bagi mereka yang menyukai kelezatan rasanya.

Words by Arya Arditya

martabak_01

Terkadang, di siang atau sore hari, ada saat-saat kita merasa ingin mengudap sesuatu, dan martabak adalah camilan
yang terlintas di benak. Akankah membeli martabak di siang hari ataukah tunggu sampai malam tiba? Kebanyakan orang langsung memesan martabak, dan menyisihkannya untuk dimakan lagi sebagai camilan setelah makan malam. Martabak yang tampak garing di luar namun lembut di dalam, akan memikat selera Anda.

Ada dua jenis martabak, manis dan asin, yang keduanya cukup mampu untuk menggoyang lidah. Martabak asin berasal dari Semenanjung Arab dan biasa ditemukan di negara-negara Saudi hingga Malaysia dan Thailand. Dalam bahasa Arab, martabak ini dikenal dengan nama mutabbaq yang berarti ‘dilipat’, merujuk pada cara pembuatan martabak, di mana adonan yang telah dilebarkan, diberi isi dan kemudian dibungkus dengan membuat lipatan.

martabak_02

Di Indonesia, adonan untuk bahan martabak ini terbuat dari tepung, minyak sayur, air dan garam. Tanpa membutuhkan waktu lama, sang penjual martabak bisa menjadikan adonan tersebut lapisan yang sangat tipis dan kemudian diletakkan di atas wajan datar yang sudah diberi minyak, hingga adonan tersebut setengah matang. Isi martabak lalu ditaruh ke atas adonan tersebut, dilipat berbentuk segi empat, lalu dibiarkan hingga benar-benar matang. Setelah diangkat dari wajan, martabak dipotong-potong—Anda bisa mengambil potongan yang di pinggir karena rasanya yang lebih garing — lalu disajikan bersama dengan saus yang terbuat dari cuka dan kecap serta acar timun, bawang merah dan cabai hijau.

Isi martabak yang biasanya digunakan adalah cincangan daging sapi atau kambing, kentang, daun bawang dan kocokan telur. Bila ditambahkan jumlah telur, maka martabak biasa menjadi martabak spesial dengan ukuran yang lebih besar dan tentunya rasa yang lebih enak. Untuk itulah, martabak jenis ini biasa disebut sebagai martabak telor. Bumbu kari biasanya ditambahkan ke dalam daging, pengaruh dari India yang mungkin masuk ke Indonesia lewat jalur perdagangan di Sumatera Utara. Tetapi martabak memang lebih didominasi pengaruh Arab dengan rasa yang lebih kepada aslinya ketimbang kari India.

martabak_03

Sementara itu martabak manis merupakan bentuk lain martabak, camilan yang sangat berbeda. Di beberapa daerah di Indonesia martabak jenis ini dikenal dengan nama Terang Bulan, sama dengan Apam Balik bila di Singapura dan Malaysia, serta dikenal dengan Chin Loong Pau di Tiongkok. Mungkin saja, Chin Loong Pau yang berasal dari Tiongkok ini adalah variasi dari kue bulan yang biasa ditemukan saat Festival Musim Semi. Martabak manis ini terbuat dari adonan rasa vanila yang dituangkan ke atas wajan panas lalu dibuat menjadi lapisan yang lebar sehingga garing di bagian pinggirnya.

Untuk bagian atasnya, biasanya diberikan tambahan berupa campuran mentega, gula, kacang goreng yang dihaluskan, taburan cokelat, susu kental manis, dan parutan keju. Tekstur martabak yang tebal dan berongga dengan bagian dalam yang lembut menjadikan martabak kudapan di malam hari yang tak boleh dilewatkan. Digunakannya keju dan taburan cokelat (hagelslag dalam bahasa Belanda) merupakan pengaruh kolonial pada kuliner Indonesia.

martabak_feat

Baik jenis manis atau asin, martabak akhir-akhir ini mendapatkan sentuhan kontemporer di mana para pedagang martabak dan juga para chef mulai bereksperimen dengan beragam isi seperti daging sapi kualitas teratas, mozzarella, cokelat Kit Kat cair atau selai kacang Nutella.

“Menurut saya, ada semakin banyak bahan-bahan baru yang digunakan,” ujar chef dari Jakarta yang sedang naik daun, Fernando Sindu. “Saya pernah melihat martabak isi smoked beef, dan saya rasa nanti akan ada martabak isi daging lobster, walaupun saya yakin martabak seperti yang ada sekarang juga tetap digemari.”

Baik martabak klasik maupun bentuk inovasi baru, pastikan Anda mencicipi martabak khas lokal saat berkunjung ke
Indonesia. Tapi ingat, Anda akan ketagihan.

aryaaditya

Arya Arditya

Lahir di Jakarta dalam keluarga berdarah Jawa, Arya tumbuh dewasa di kampung halaman ibunya, Yogyakarta — jantung kebudayaan Jawa — sebelum kembali ke Jakarta mengejar karier jurnalisme. Ia gemar menjelajah pelosok Nusantara: menghirup hawa dingin di dataran tinggi, bermandi mentari di pesisir dan pulau-pulau kecil, dan tak lupa menikmati hidangan khas setempat.