janet_main

Chef’s Insight

Janet DeNeefe

Setiap chef tentu memiliki kekhasannya masing-masing. Kami memberikan pertanyaan yang sama setiap bulannya untuk mengenal lebih dekat para chef terkemuka Indonesia.

Kapan pertama kali Anda memasak?

Saya masih ingat waktu pertama kali berada di dapur dengan kedua tangan saya masuk ke dalam adonan, dan muka (dan juga lantai) yang dipenuhi tepung saat mencoba membuat cinnamon rolls. Saya tak ingat umur berapa saat itu, tetapi di usia 12, saya terkenal dalam keluarga besar DeNeefe sebagai anak yang pandai membuat pavlova dengan topping
markisa atau stroberi.

Apa aroma yang Anda sukai di dapur?

Saya sangat menyukai aroma kelapa yang disangrai. Aroma kelapanya mengingatkan saya akan butter cake yang baru saja
dikeluarkan dari oven.

Seandainya Anda tak menjadi seorang chef, apa profesi lain yang akan Anda lakoni?

Dulu, saya pernah bercita-cita untuk menjadi seorang seniman. Sebenarnya saya mengambil jurusan seni dan banyak lukisan saya yang terpampang di Casa Luna dan Indus. Pertama kali tinggal di Ubud, saya pernah membayangkan akan melukis setiap pagi dan setelah itu, bersantai.

Apa bumbu andalan Anda?

Saya memiliki 25 bumbu andalan, tetapi asam jawa adalah yang utama buat saya. Asam jawa sangat lezat untuk Osso Bucco dan segala jenis casseroles isi daging.

Apa menu Anda tadi malam?

Saya suka bereksperimen dengan menu lokal dan memberikan sejumlah modifikasi. Tadi malam saya makan pepes ikan salmon di Indus—ikan salmon yang dibumbui dan diberi kemangi serta dibungkus daun pisang lalu dipanggang selama tujuh menit.

Apa yang bisa membuat Anda begitu inspiratif?

Ubud! Aura kreatif Ubud ini membuat saya selalu bersemangat mulai pagi hingga pagi lagi, dan ide itu seperti terus datang setiap waktu.

Apa masakan Indonesia kesukaan Anda?

Sebuah pertanyaan yang sulit dijawab. Tapi salah satu masakan Bali kesukaan saya adalah bebek panggang. Menurut saya, bebek ini sama enaknya dengan rendang, dan membutuhkan perhatian khusus. Saya menyukai komposisi bumbunya, aromanya dan juga proses memasaknya yang lama untuk membuat daging yang terasa lembut di lidah.

Apa destinasi wisata Anda berikutnya?

Semoga Malta bisa menjadi destinasi saya berikutnya. Malta ini adalah kampung halaman nenek saya dan saya selalu berharap bisa berkunjung ke sana. Mudah-mudahan di sana saya bisa bertemu dengan para kerabat, lalu belajar memasak makanan tradisional Malta dan jeda sejenak dari segala surel!