edge_wilderness_main

Feeding The Nation

The Edge of Wilderness

Words Will Meyrick

Terletak di timur Sumbawa, sekitar satu jam dari Bali lewat pesawat, segala yang ditawarkan Sumba: pemandangan alam yang masih asli, budaya yang indah dan hidangan sederhana yang lezat akan membuat Anda bersyukur bahwa tempat ini masih menjadi rahasia di antara para wisatawan.

Saya menginjakkan kaki di Pulau Sumba untuk menjajal hidangan khas dari tempat dengan budayanya yang menarik serta mencoba menginap di hotel terbaik dunia versi majalah Travel + Leisure.

edge_wilderness_in2

Nihiwatu, di tepi Laut Timor, adalah sebuah kemewahan di tengah tanah purba. Didirikan di tahun 1989, resor yang kerap memenangkan penghargaan ini (satu-satunya di pulau ini) diam-diam telah berkembang menjadi salah satu tujuan legendaris para peselancar andal dan pelancong penyuka petualangan dari seluruh dunia.

Berdiri di tengah alam pulau yang cantik dengan keindahan bukitnya yang berbatu, resor ini adalah tempat liburan favorit bagi penyuka kemewahan bernuansa alam. Pemilik asli Nihiwatu, Claude Graves asal Amerika, mendirikan properti ini bersama Yayasan Sumba (www.sumbafoundation.org) dengan visi untuk melindungi dan melestarikan budaya Sumba yang unik, serta memberdayakan komunitas lokal agar dapat mandiri dan juga mendukung keluarga mereka. Resor ini telah mempekerjakan lebih dari 90% warga Sumba lokal, sebuah tim yang menjunjung semangat hospitality.

edge_wilderness_in4

Panorama Sumba sungguh luar biasa, tapi tanahnya kering, dan jenis pertanian yang berkembang di sini menggambarkan kurangnya asupan air di tanahnya. Warga Sumba menanam jagung dan ubi, serta menggembala kerbau. Mereka tinggal di rumah panggung beratap jerami, saling berbagi dan hidup seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka selama bertahun-tahun; mereka juga masih menggunakan jasa kuda untuk transportasi, dan mengurbankan kerbau saat perayaan syukuran hasil bumi dan laut.

Walau terdapat keluarga bangsawan, tradisi penyembahan leluhur, kain tenun nan indah dan kekayaan berdasarkan jumlah kuda yang dimiliki, makanan di Sumba ternyata cukup simpel namun bergizi, dengan menonjolkan rasa alami dari bahan-bahan yang digunakan. Tiap hidangan menggunakan bumbu yang tak terlalu banyak, seperti lada, serai dan lengkuas. Tidak seperti di pulau lain di Indonesia, Sumba tidak mengekspor bumbu, tapi ada banyak bunga-bunga yang bisa dimakan di sini, yang tidak dikonsumsi oleh orang Bali.

Tree House Mamole

Bunga pepaya dan jantung pisang yang disajikan bersama ubi dan jagung merupakan pengganti nasi sebagai makanan utama. Namun kita juga bisa menemukan nasi jagung di seluruh penjuru pulau, yaitu nasi yang dicampur butiran jagung. Hidangan sederhana ini dilengkapi ayam kampung atau hasil tangkapan laut, seperti gurita, landak laut dan makarel, yang dimasak dengan kari atau sup dan disajikan sebagai menu utama hari itu. Saya juga menikmati sashimi dari ikan hasil tangkapan saya saat bertualang di laut terbuka—laut di sekitar Sumba sangat dalam dan menyimpan banyak ikan. Pesona Sumba, bagi saya, terletak pada lanskap alamnya yang masih asli tak tersentuh dan akses luar biasa untuk memancing, berselancar, trekking, berkuda dan petualangan budaya.

edge_wilderness_in3

Jika Anda ingin menjelajahi cita rasa lokal dalam konteks modern, Nihiwatu menawarkan pengalaman bersantap yang berkualitas, dengan menggunakan bahan lokal terbaik hasil sendiri, entah ikan segar hasil tangkapan laut, sayuran dan kacang-kacangan dari tiga kebun organik milik hotel, maupun beragam menu panggang dan bakar dari peternakan hewan milik hotel, atau pizza yang
diproses langsung dari oven berbahan bakar kayu dan cokelat organik dari pabrik cokelat milik seseorang bernama Charly.

Selama kami tinggal di Nihiwatu, kantor pusat Yayasan Sumba, kami sama-sama mengagumi Sumba, pulau dan warganya, dan saya melihat bagaimana Nihiwatu tidak mengubah Sumba untuk mengikuti standar pariwisata massal, melainkan mendukung kelestarian warisan budayanya melalui berbagai program yang bertujuan untuk menyokong pendidikan, penyakit dan kemiskinan. Terlihat bagaimana Sumba membutuhkan tokoh-tokoh pemimpin yang kuat yang bisa mempertahankan keunikan pulau hingga jauh ke masa depan tanpa meninggalkan kebanggaan Sumba.

will_meyrick

Will Meyrick

Berdarah Skotlandia, beraksen Australia dan tinggal di Indonesia, “chef masakan pinggir jalan” Will Meyrick tak mudah didefinisikan. Meyrick telah berpengalaman lebih dari 25 tahun, dengan
sejumlah penghargaan yang berhasil diraih dan empat restoran laris miliknya, termasuk restoran yang baru saja dibuka Hujan Locale di Ubud Bali. Minatnya yang besar terhadap wisata kuliner menginspirasinya untuk terus berkeliling Nusantara dan sekitarnya.
www.willmeyrick.com