raditya_dika_main

Anas Syahrul Alimi: Ready to bring over Andrea Bocelli!

Interview by Vega Probo

Keunikan pertunjukan tersebut bukan semata nama besar artis yang tampil, melainkan juga lokasinya yang menempati selasar bangunan cagar budaya. Ini tak terlepas cita-cita Anas selaku arsitek konser: mengangkat warisan budaya Indonesia ke mata dunia melalui konser musik. Selain memagnet banyak wisatawan, juga mendongkrak perekonomian daerah.

Sederet artis dunia yang pernah berpentas di Indonesia sepanjang satu dekade belakangan, antara lain Kenny G, Sarah Brightman, Diana Krall, Yanni, Calum Scott, dan Anggun di Candi Prambanan, Yogyakarta; Mariah Carey di Candi Borobudur, Magelang; David Foster di bekas pabrik gula Colomadu, Surakarta; serta Westlife di Kuil Sam Poo Kong, Semarang.

raditya_dika_in2

“Tahun depan, saya berharap bisa membawa Andrea Bocelli ke Indonesia,” kata Anas, yang sejak lama memang terpikat oleh sang penyanyi pop tenor tunanetra, terlebih setelah melihat aksinya di Toskana (Tuscany), Italia, pada 2008. “Saya juga ingin mendatangkan Adele, Red Hot Chilli Pepper, Norah Jones, Billie Eilish. Itu [artis-artis] yang paling saya favoritkan.”

Musik, bagi pria yang pernah merintis karier sebagai wartawan dan membangun bisnis penerbitan buku ini, tak ubahnya kebutuhan primer. Selain menyiapkan sejumlah konser di Tanah Air, ia juga melanglang buana untuk menonton beberapa konser. Paling rutin, setiap tahun, ia terbang ke Inggris untuk menyaksikan Glastonbury Festival dan British Summer Time Hyde Park.

“Saya sangat menikmati wisata musik. Nah, satu hal yang perlu digerakkan di Indonesia adalah wisata musik. Saya pikir, peran negara harus hadir untuk mewujudkan itu,” kata Anas. Lebih jauh, ia menegaskan pentingnya pihak terkait—stake holder—untuk berpikir secara parsial, tidak integral. “Harus ada peran negara yang lebih signifikan, misalnya menjadi sponsor.”

Ke depan, Anas berharap, event yang digelar oleh Ricomm tak hanya menciptakan suatu branding internasional, melainkan sekaligus memunculkan strategi budaya di tingkat global. Dukungan pemerintah, menurut Anas, bisa menekan biaya produksi, yang dengan sendirinya juga membuat harga tiket lebih terjangkau, sehingga lebih banyak orang bisa menikmati konser.

Selain musik, penggagas Mocosik Festival ini juga merambah ranah film bersama rumah produksi Alimi Pictures. Pada Februari 2020, Anas, yang menjabat sebagai eksekutif produser, siap menayangkan film perdana berjudul Terima Kasih Emak, Terima Kasih Abah. Ini merupakan reuni para pemeran sinetron dan film Keluarga Cemara, masih dibintangi Adi Kurdi, Novia Kolopaking, dan lain-lain.

Meski sehari-hari sibuk di dunia hiburan, alumnus Fakultas Psikologi Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta ini mengaku masih sempat melakoni hobinya: beranjangsana dari kafe ke kafe untuk menyesap kopi. Tiga kafe favoritnya, yaitu Marisini Coffee di Yogyakarta, Les Deux Magots di Paris, Perancis, dan Mother Monster di Plaza Indonesia, Jakarta.

“Saya kan orangnya soliter, suka menyendiri. Saya selalu menyempatkan ngopi dari kafe ke kafe. Lalu, di situ muncullah ide-ide. Boleh dibilang, mungkin sebagian besar ide saya bikin konsep konser itu muncul saat ngopi di kafe,” kata penyuka sajian klasik Americano dan latte ini, yang merangkap jabatan sebagai event consultant, juga advertising, strategic and political consultant.

Tak hanya mengonsep konser, Anas juga merancang platform penjualan tiketnya. “Garuda Indonesia kan memiliki banyak member GarudaMiles, sementara Ricomm mempunyai banyak event. Lalu, muncullah ide menjalin kerja sama dengan Garuda Indonesia, menjual tiket melalui kanal GIA Events, untuk mengakomodasi kepentingan pemegang GarudaMiles yang juga gemar menonton konser,” kata pemegang kartu GarudaMiles Platinum sejak 2010 silam ini.

Soal layanan Garuda Indonesia, Anas menilai, “Perfect! Sudah memenuhi kebutuhan dan mendukung aktivitas saya sebagai pebisnis. Lounge-nya juga nyaman dan apik, membuat saya rileks dan santai, tanpa perlu antre.” Saat ditanya soal program GarudaMiles yang paling menarik, owner Sate Afrika dan CEO ARCHPolitica ini pun berseru, “Redeem miles! Ha ha ha.”