Fuel for Soldiers

 

Culinary Delights From Across the Archipelago

Ada yang istimewa di bulan ini. Momen di mana rakyat Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan-nya yang jatuh pada 17 Agustus.

Words by Vikaria Lestari, Photography by Helen Yuanita

Mengenang jasa para pahlawan bangsa selama masa perjuangan untuk membebaskan negara dari cengkeraman kolonialisme, langsung terlintas mengenai bekal makanan yang biasa dibawa para pejuang selama hidup di hutan dan gunung, yang kadang hingga berbulan lamanya. Logikanya, bekal makanan tersebut haruslah dari mbahan yang mudah didapat, tidakmgampang basi dan mengenyangkanmserta bergizi tentunya. Sejumlah makanan yang populer selama masam perjuangan untuk merdeka di tahun 1945 ternyata tetap bertahan hingga kini dan memiliki penggemarnya.

Makanan Pengganti Nasi

Nasi merupakan makanan mewah, karena kaum kolonial menentukan tanaman mana yang boleh ditanam penduduk. Untuk menggantikan nasi, penduduk di Aceh pun beralih ke janeng (Dioscorea Hispida Dennst) atau umbi gadung bagi mereka yang tinggal di Bali dan Jawa, untuk membuat makanan bernama krabe janeng. Umbi yang mudah ditemukan di bawah pohon besar di hutan ini sebenarnya mengandung racun. Namun janeng banyak memberikan manfaat bagi kesehatan bila diolah dengan benar.


Dibutuhkan proses cukup panjang untuk menghilangkan racun dari janeng. Setelah dikupas lalu dipotong tipis dan panjang, janeng dicuci hingga air cuciannya tampak jernih. Janeng pun direbus hingga mendidih selama lebih dari 30 menit lalu disaring. Janeng yang sudah masak itu kembali dibersihkan lalu dimasukkan dalam karung goni dan direndam dalam air mengalir selama enam hingga 10 jam untuk menghilangkan racunnya. Janeng pun kembali direbus dan kini aman untuk dikonsumsi. Janeng biasa disajikan bersama parutan kelapa dan gula. Di zaman modern ini, janeng atau umbi gadung biasa diolah menjadi keripik gadung, keripik dengan cita rasa gurih yang mudah ditemukan di sebagian besar kota di Jawa.

Singkong juga dimanfaatkan masyarakat di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk membuat penganan bernama tiwul. Singkong yang telah dikupas itu dijemur dan dijadikan tepung sebelum kemudian dikukus.Tiwul biasa disuguhkan bersama parutan kelapa dan gula merah. Seiring perjalanan waktu, tiwul pun berkembang menjadi camilan populer, bahkan dijual dalam kemasan instan agar mudah dibawa dan juga disiapkan. Anda pun dapat memilih tiwul dengan rasa cokelat atau keju. Sungguh menggoyang lidah!

Masyarakat yang tinggal di Madura dan sejumlah kota di Pulau Jawa tentunya tidak asing dengan nasi jagung. Biji jagung dihancurkan hingga seukuran beras lalu direndam air selama 10 hingga 12 jam. Setelah itu, buliran jagung dihaluskan kembali hingga menjadi tepung. Setelah ditambahkan air, tepung jagung tersebut dikukus lalu disuguhkan bersama lauk-pauk. Nasi jagung kini juga tersedia dalam kemasan instan, sehingga Anda hanya cukup menambahkan air panas dan mengukusnya.

Tidak Mudah Basi


Penganan khas Aceh lainnya yang tidak mudah basi adalah keumamah, yang tahan disimpan hingga dua tahun lamanya. Selama masa perjuangan melawan penjajah, keumamah bisa dimakan langsung ataupun dihangatkan dahulu dalam air panas. Keumamah terbuat dari ikan tongkol yang diasinkan. Setelah dilumuri garam, tongkol direbus lalu dijemur selama tiga hingga empat hari hingga keras seperti kayu. Keumamah juga bisa ditambahkan ke dalam gulai, ditumis atau dicampurkan dengan sambal.

Dange atau sagu panggang adalah makanan khas masyarakat Luwu, Sulawesi Selatan. Di Maluku atau Papua, makanan ini dikenal dengan nama lempang sagu. Penganan khas berwarna putih tipis berbentuk segi empat ini biasa dinikmati bersama ikan panggang, kuah ikan atau cukup dicelupkan ke dalam air panas atau teh. Penganan ini selain mampu memberikan rasa kenyang seperti nasi, juga tidak mudah rusak selagi disimpan dalam suhu ruangan.

Bahan Makanan Unik

Tanah liat mungkin tidak terkesan menggugah selera, tetapi ternyata menjadi bahan utama untuk ampo yang berasal dari Tuban, Jawa Timur. Ampo tidak dibuat dari tanah liat biasa tetapi tanah liat hitam yang lembut, tidak berisi pasir, kerikil ataupun batu. Tanah liat hitam dibentuk menjadi segi empat besar dengan bantuan air dan palu dari kayu.

Tanah liat mungkin tidak terkesan menggugah selera, tetapi ternyata menjadi bahan utama untuk ampo yang berasal dari Tuban, Jawa Timur. Ampo tidak dibuat dari tanah liat biasa tetapi tanah liat hitam yang lembut, tidak berisi pasir, kerikil ataupun batu. Tanah liat hitam dibentuk menjadi segi empat besar dengan bantuan air dan palu dari kayu.

Tanah liat tersebut kemudian disayat tipis dengan pisau bambu hingga menyerupai gulungan biskuit egg-roll. Dijemur selama 30 menit, ampo kemudian dibakar hingga berwarna cokelat kehitaman. Ampo bagus untuk mengobati masalah pencernaan dan rasa tidak enak badan. Cara pembuatan ampo memang sangat sederhana, tetapi camilan khas Tuban ini ternyata juga dijual melalui jasa internet. Tampaknya di era global ini, hampir semua yang Anda butuhkan bisa didapatkan cukup dengan mengeklik.

Dan terserah bagaimana Anda merayakan hari istimewa bangsa ini—ditemani hidangan, keluarga dan teman—saya ingin mengucapkan, “Dirgahayu Republik Indonesia!”

 

 

Vikaria Lestari

Penulis dan penerjemah berdarah Jawa, Vikaria Lestari memiliki minat khusus dalam bidang pelesiran, kuliner dan membaca. Salah satu hobinya adalah mengamati keunikan kuliner serta destinasi wisata, yang dirasa cukup menarik untuk dibagikan lewat tulisan.  Karya yang telah dipublikasikan antara lain, sejumlah novel terjemahan dari penulis laris Amerika serta beragam artikel mengenai pelesir dan gaya hidup.