iko_main

Iko Uwais: The Silat Master

Colours berbincang dengan tokoh laga terkemuka Indonesia mengenai kecintaannya pada pencak silat dan kariernya dalam seni peran baik di dalam dan luar negeri, maupun dalam kehidupan.

Interview by Anais Budiman

Jumlah aktor Indonesia yang bermain dalam film produksi internasional terus meningkat. Hal ini merupakan cerminan positif peningkatan kualitas bintang film lokal yang ditawarkan Indonesia. Salah satu bintang paling terang di antaranya adalah Iko Uwais.

iko_in

Iko Uwais menembus arus utama kesuksesan berkat perannya sebagai Rama dalam film thriller laga non-stop Indonesia berjudul The Raid: Redemption yang tayang tahun 2011. Disutradarai oleh Gareth Evans, The Raid berhasil mencapai kesuksesan yang sangat berarti dalam segi finansial, disambut hangat di panggung dunia serta mendapatkan berbagai penghargaan internasional untuk
sebuah film Indonesia. Film ini menjadi proyek kerja sama kedua Gareth dan Iko, mengikuti debut film mereka, Merantau, yang dirilis tahun 2009.

Sebagai salah satu film seni bela diri terbesar dalam beberapa dekade ini, The Raid menonjolkan plot cepat yang sederhana dan linear diselingi dengan koreografi silat tingkat lanjut yang sangat menegangkan. Dalam film ini Rama membasmi puluhan penjahat yang menghalangi jalannya, menggunakan keahlian bela diri pencak silat Indonesia. Iko bersinar sebagai seniman bela diri brilian dalam adegan pertarungan tanpa senjata dengan energi dan intensitas yang terlihat jelas.

Komitmennya terhadap seni peran tak luput dari perhatian. Usai The Raid, Iko berlanjut ke peran figuran singkat dalam film perdana yang disutradarai Keanu Reeves berjudul Man of Tai Chi. Walaupun hanya peran figuran singkat, namun membantu meningkatkan profil aktor bela diri ini. Ia pun kembali ke Indonesia untuk pengambilan gambar The Raid: Berandal, film kedua dari sekuel The Raid, yang juga memperoleh banyak sekali ulasan positif, terutama bagi adegan pertarungan yang koreografinya lagi-lagi dirancang oleh Iko dan rekannya sesama aktor, Yayan Ruhian.

iko_in2

Iko mengatakan bahwa dirinya antusias untuk mempromosikan pencak silat ke tingkat dunia melalui adegan pertarungan bergaya brutal. Karena telah mempelajari seni bela diri sejak berusia 10 tahun, Iko secara khusus menghormati dan menghargai pencak silat. Ia dilatih oleh kakeknya, H. Achmad Bunawar, seorang guru silat dan pendiri Padepokan Silat Berantai di Jakarta, yang selama bertahun-tahun mengasah keterampilan Iko sampai menjadi cukup baik untuk bergabung dengan tim nasional pencak silat. Ia akhirnya menjalani tur bersama tim nasional Inggris, Prancis, Rusia, Azerbaijan, dan Kamboja untuk memperkenalkan dan menampilkan seni bela diri pada kultur lainnya.

“Di samping merupakan pertunjukan seni bela diri dan berbagai teknik serta gerakannya, pencak silat itu sendiri merupakan suatu bentuk seni,” jelas Iko. “Ini seperti pertunjukan seni ketika postur yang anggun diiringi musik berirama tradisional untuk menandakan perubahan posisi atau langkah. Ini sungguh indah.” Keindahan itu masih tampak jelas dalam adegan pertarungan bertempo cepat yang koreografinya dirancang oleh Iko dan Yayan. Adegan pertarungan tersebut bak memiliki irama.

“Adegan pertarungan perlu terlihat senyata mungkin, jadi setiap tindakan dan reaksi harus diperhitungkan dengan hati-hati. Kami membutuhkan sekitar tiga bulan proses praproduksi untuk melakukan perencanaan, membuat storyboard, dan merancang koreografi adegan pertarungan untuk seluruh film. Kemudian ketika tiba waktunya untuk pengambilan gambar, jika Anda bekerja dengan seorang perfeksionis seperti Gareth Evans, kalau ada pukulan yang mendarat tidak tepat atau terlihat lemah, bersiaplah untuk diminta mengulang adegan dari sudut pandang yang sama setidaknya 20 kali,” kata Iko sambil tertawa.

iko_in3

Dedikasi pada keahlian ini membuat kedua film tersebut begitu digemari hingga menginspirasi sutradara J. J. Abrams untuk melibatkan Iko, Yayan, dan Cecep Arif Rahman (dari film The Raid 2) dalam film terbesar pada dekade ini, Star Wars: The Force Awakens. Abrams adalah penggemar dari kedua film tersebut. Seperti dikutip pada situs Slashfilm, Abrams pernah berkata, “Saya tahu kita membutuhkan pemeran untuk satu adegan, dan sangat menyenangkan jika ada sekelompok orang yang bisa diajak bekerja sama. Kemudian kesempatan tersebut datang, dan saya pun membatin, ‘Tuhan, apakah kira-kira para pemeran utama The aid tersebut bersedia?’ Dan saya pun takjub karena ternyata mereka bersedia, dan mereka luar biasa. Mereka tampil dan melakukan
pekerjaan hebat.”

Trio The Raid ini diberi peran sebagai Kanjiklub, sebuah kelompok gangster galaksi. Iko tak menyangka bisa seberuntung ini. “Star Wars merupakan karya sinema global, dan saya dipercaya untuk menjadi bagian kecil dari itu. Abrams begitu baik dan mengobrol dengan Harrison Ford selama proses pembuatan film adalah sesuatu yang tak bisa saya lupakan.”

Trio ini bahkan dipercaya Abrams untuk merancang koreografi adegan pertarungan mereka sendiri, dan masukan Iko untuk adegan duel lightsaber juga sempat dipertimbangkan, walau akhirnya
dipotong oleh sutradara karena dianggap terlalu brutal.

iko_feat

Setelah percobaan pembajakan pesawat Millenium Falcon, Iko langsung beralih ke banyak proyek menarik berikutnya, termasuk membintangi Headshot, sebuah thriller karya duo sutradara Indonesia, Mo Brothers, Mile 22 yang dibintangi Mark Wahlberg dan juara MMA Ronda Rousey, Beyond Skyline, sekuel dari epik invasi alien Beyond Skyline di tahun 2010, dan tentu saja kolaborasi terbarunya dengan Gareth Evans, sebuah drama gangster berjudul Blister.

Kala tak sedang membuat storyboard pertarungan, melakukan pengambilan gambar, atau berlatih, Iko tetap membumi dengan menghabiskan waktu bersama istri dan putrinya, Atreya.

Saat ditanya apakah menjadi aktor laga terbesar di negara ini telah mengubah kehidupannya sehari-hari, jawabnya adalah tidak.

“Tak banyak yang berubah. Saya masih merasa aneh ketika ada orang yang ingin berfoto bersama saya, karena saya tidak pernah merasa sebagai seorang selebriti. Saya memiliki keluarga kecil dan kami senang bepergian, itu pun tak jauh dari Jakarta. Untuk berekreasi, kami biasanya pergi keluar kota, tak ada yang istimewa.”