joey_main

Joey Alexander: From The Heart

Raih dua nominasi untuk Grammy Awards, pianis jazz Joey Alexander Sila adalah sosok muda berbakat. Di usianya yang ke-12, musisi kelahiran Bali ini mendapatkan kehormatan pentas di depan legenda jazz Herbie Hancock dan mantan Presiden AS Bill Clinton.

Interview and photography by Binsar Napitupulu

joey_feat

“Jazz bagi saya adalah kebebasan berekspresi, gaya saya—saya suka improvisasi dan kandungan swing-nya. Jika tidak mengandung swing, berarti itu bukan musik jazz,” kata Joey. Ketika sudah berbicara mengenai kecintaannya terhadap jazz dan memainkan tuts-tuts piano, orang seakan lupa bila Joey masihlah tergolong anak-anak.

Dengan bakat bermusiknya yang alami, Joey mulai bermain piano di saat usianya masih enam tahun. Karena hiperaktif, orang tuanya—Deny dan Fara—membelikannya keyboard mini untuk menyalurkan kelebihan energinya. Ayahnya, seorang musisi sekaligus penyuka jazz, mengajarkan anaknya sejumlah nada-nada dasar. Dalam waktu satu tahun, Joey berhasil menguasai nada-nada jazz yang kompleks hanya dengan mendengarkan lagu-lagu jazz koleksi ayahnya. Menurut Joey, Duke Ellington, Charlie Parker dan Thelonious Monk adalah orang-orang yang memberinya pengaruh besar di awal dia mengenal musik jazz.

“Joey selalu ingin berimprovisasi. Guru pianonya tak terlalu senang bila Joey mencoba berimprovisasi dalam permainan Chopin dan Tchaikovsky. Saya tahu bila Joey ingin bebas. Dia ingin sungguh-sungguh bermain jazz karena jazz memberinya kebebasan dalam berekspresi,” ungkap ayahnya.

joey_03

Joey mulai berekspresi pada jam sessions di atas panggung di seluruh Indonesia. Video yang menampilkan dirinya langsung tersebar dan menyita perhatian dari Wynton Marsalis, manajer dan direktur artistik Jazz pada Lincoln Centre (JALC) di New York. Terkesan dengan penampilan Joey, Marsalis pun kemudian mengundang Joey, yang saat itu berusia 10 tahun, untuk tampil pada gala tahunan mereka, ajang terbesar dalam setahun yang mereka adakan.

Kebolehan Joey langsung mendapatkan perhatian sehingga kemampuan Joey dalam bidang jazz pun menjadi buah bibir. Konser itu akhirnya mengubah hidupnya. Keluarganya lalu pindah ke New York, dan Marsalis menjadi mentornya.

Joey pun memulai tur keliling dunianya, tampil dalam pertunjukan jazz dan mendapatkan penggemar. Dalam hitungan bulan sejak Joey pindah ke New York, dia langsung membuat rekaman album pertamanya, My Favourite Things, yang menempati list teratas Billboard 200 dalam charts Jazz Album dan Traditional Jazz Album serta mendapatkan nominasi untuk Grammy dalam dua kategori (Instrumental Jazz Album dan Best Improvised Jazz Solo), menjadikan Joey nominator paling belia dalam kategori jazz.

joey_02

Joey adalah penampil termuda yang pernah diundang untuk bermain di Newport Jazz Festival, ajang terbesar bagi para musisi jazz. Para penonton Newport sangat kritis, tetapi Joey mampu menarik kekaguman para penonton—sebuah ajang unjuk gigi bagi kemampuannya dalam berimprovisasi dan kedewasaan dalam menerjemahkan musik jazz lewat gaya yang unik dan personal.

Walaupun memiliki bakat yang luar biasa, Joey tetap seorang anak yang rendah hati dari Bali. Dia juga merasa jengah bila disebut sebagai anak ajaib.

“Saya menghargai itu. Tetapi buat saya, saya hanya ingin disebut sebagai musisi jazz. Musik yang saya mainkan datang dari hati, bukan dari teknik atau apa pun. Dari hati, dan itulah jazz. Datang dari jiwa.”

www.joeyalexandermusic.com