thomas_main

Thomas J. Berghuis: Indonesia Needs a Contemporary Museum

Thomas J. Berghuis, mantan Direktur Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN)
berbincang dengan Colours mengenai kecintaannya pada seni Indonesia dan pandangannya mengenai museum kontemporer.

thomas_01

Bagi Thomas J. Berghuis, mantan Direktur Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN), seni tidak bisa berdiri sendiri secara eksklusif karena seni memiliki tanggung jawab terhadap komunitas atau masyarakat di sekitarnya. Direncanakan untuk dibuka tahun 2017 di Jakarta, Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara, atau yang biasa disebut MACAN akan menjadi museum pertama di Indonesia yang didedikasikan bagi seni modern dan kontemporer. Salah satu figur penting dalam terwujudnya museum ini adalah Thomas J. Berghuis, yang pernah bekerja sebagai kurator untuk karya seni Tiongkok di Guggenheim Museum, New York.

Meski hanya sempat menjabat selama satu setengah tahun sebagai Direktur Museum MACAN, Berghuis telah bersinggungan dengan dunia seni rupa di Indonesia sepuluh tahun terakhir. Berghuis pertama kali terlibat dalam dunia seni di Indonesia pada 2006, di mana ia bekerja dengan kelompok kurator asal Indonesia dalam sebuah workshop.

Sejak itulah, Berghuis tak asing lagi dengan sejumlah kurator andal Indonesia seperti Enin Supriyanto, Rifky Effendy, dan Reza Afisina dari Komunitas Ruang Rupa—salah satu komunitas seni yang terkenal di Indonesia.

thomas_02

“Saya pergi ke Bandung, Jakarta dan Yogyakarta di mana saya akhirnya bertemu dengan Farah Wardhani, salah satu pendiri Indonesian Visual Art Archives (IVAA). Saya banyak belajar dan bercakap-cakap dengan seniman, kurator dan kolektor yang bekerja di industri seni,” katanya.

Berghuis menerangkan sejak awal tahun 2000, dia juga telah banyak berdiskusi dengan beberapa seniman Indonesia
seperti Heri Dono yang cukup sering datang ke Australia dan seorang seniman pertunjukan kontemporer, Arahmaiani. Berghuis cukup dekat dengan Arahmaiani karena riset utamanya saat itu terkait dengan seni pertunjukan.

“Setiap satu atau dua tahun sekali saya mengunjungi Indonesia untuk berbagai keperluan mulai dari seminar, simposium, konferensi, riset ataupun pameran,” kata Berghuis. Menurut dia, dunia seni di Indonesia cenderung dinamis dan terus berkembang, karenanya Berghuis merasa tertantang untuk bisa melakukan lebih banyak hal bagi dunia seni Indonesia.

Berghuis menyadari betul bahwa ada tantangan tersendiri yang harus dihadapi oleh museum-museum di Indonesia.
Indonesia memiliki banyak museum, baik yang dikelola oleh swasta ataupun pemerintah. Namun, menurut Berghuis, di museum seharusnya tak ada lagi batasan antara seniman dan pencinta karya seni, museum harus menjadi tempat di mana orang bisa menghargai hasil karya seni dan berinteraksi di dalamnya.

“Direktur museum dan orang-orang yang bekerja untuk sebuah museum harus menyadari sepenuhnya bahwa begitu museum dibuka, maka museum itu menjadi institusi publik,” ujar Berghuis pada Colours.

thomas_03

Pesan bagi Seniman Muda
Berghuis melihat perkembangan zaman turut memengaruhi pola pikir seniman yang tumbuh di tengah-tengahnya. Seniman yang lahir di era modern, atau akrab dikenal dengan generasi Millenial, memiliki banyak tekanan sosial dan eksistensialisme. Namun, Berghuis memiliki saran bagi seniman generasi Millenial ini. “Lakukan komitmen atas pilihanmu menjadi seniman. Para seniman muda di industri kreatif harus paham bahwa bagian dari proses adalah
kemampuan yang didapatkan dari pengalaman dan untuk itu semestinya tidak perlu sebuah piala,” kata dia menegaskan.

Gemar Wisata
Melancong bukan hanya sekadar hobi bagi Berghuis, tapi justru merupakan bagian dari kehidupannya sebagai seorang kurator. “Saya pernah menggunakan pesawat Garuda Indonesia untuk penerbangan langsung Amsterdam–Jakarta dan saya menikmatinya,” kata Berghuis. Sejumlah tempat yang sangat ingin dia kunjungi antara lain adalah Amerika Latin dan Flores di Nusa Tenggara Timur.