yori_main

Yori Antar: Cultural Treasures

Colours berbincang dengan Yori Antar, seorang arsitek Indonesia berwawasan modern yang dikenal berani mendobrak batasan dan mengangkat budaya tradisional Indonesia dalam kolaborasi kreatif.

Interview by Denverino Dante

yori_in2

Semua bermula dari pertemuan kebetulan antara Yori Antar, direktur sebuah biro arsitektur Han Awal & Partners, dengan seorang asing di Nepal pada tahun 2008. Yori ditanya, “Mengapa Anda justru ke Nepal, padahal ada demikian banyak keindahan di Indonesia?” Kemudian wisatawan asing itu bercerita tentang berbagai destinasi di Indonesia, yang banyak di antaranya belum pernah didengar oleh Yori. Sebagai seorang arsitek, Yori pergi ke berbagai belahan dunia untuk menemukan inspirasi, namun pertemuan ini memicu semangatnya lebih menjelajahi Nusantara, tempat asalnya.

Setelah pulang, Yori mulai fokus ke dalam negeri. Dia pun menemukan banyak “permata” arsitektur yang sebelumnya, tak disadarinya. Salah satu kekaguman pertamanya adalah Wae Rebo di Desa Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, sehingga Yori mengumpulkan tim beranggotakan 15 staf untuk mengunjungi destinasi nan jauh di mata ini. Tujuannya simpel, mencari inspirasi sambil mempelajari aliran arsitektur mereka. Proses pencarian ini, bagaimanapun, terbukti cukup rumit. Setelah dua hari mencari dan berkeliling dengan mobil, kemudian berjalan kaki hingga 6 jam, Yori dan timnya tiba di Wae Rebo di mana rumah adat (disebut Mbaru Niang) yang tadinya masih ada 7 telah berkurang menjadi hanya 4. Jika penduduk setempat mengizinkan, Yori ingin membantu membangun kembali Wae Rebo.

“Walaupun pada awalnya beberapa warga mencurigai kedatangan kami, tak berapa lama, penduduk desa pun berteman dengan kami,” ucap lulusan Teknik Arsitektur Universitas Indonesia itu. “Kepala desa bahkan mengatakan bahwa kami dari Jakarta ini dianggap seperti ‘tetua’ mereka.

yori_in3

”Begitu warga desa menerima bantuan Yori ini dengan tangan terbuka, program Rumah Asuh pun lahir. “Untuk program (Rumah Asuh), kami tidak menyewa kontraktor ataupun tim ahli dari Jakarta. Kami justru mengerahkan penduduk setempat untuk mencipta dan membangun sesuai cara nenek moyang mereka,” kata Yori. “Kami tidak datang untuk mengubah cara hidup mereka, tapi kami tetap menyarankan pentingnya melestarikan lingkungan, termasuk menanam kembali pohon-pohon yang telah ditebang untuk membangun rumah ini.”

Program Rumah Asuh juga diupayakan menjadi solusi untuk masalah lazim yang menimpa rumah adat di Indonesia: dokumentasi yang memadai. Sebelum Yori datang, semua keterampilan membangun rumah adat Wae Rebo diwariskan dari generasi ke generasi secara lisan. Seiring berjalannya proses membangun, warga desa melibatkan para pemudanya sehingga mereka ikut berkenalan dengan teknik tersebut kemudian dapat melanjutkan warisan Wae Rebo ini.

Yori mengundang mahasiswa-mahasiswa arsitektur untuk mendokumentasikan keseluruhan proses. Mereka pun datang dilengkapi kamera digital, laptop, dan bahkan drone, yang merekam penduduk setempat membangun rumah menggunakan perangkat sederhana.

.“Ini semacam ‘benturan peradaban’,” ungkap Yori. “Kesempatan hidup bersama mereka membuat kami melihat bahwa membangun rumah melibatkan banyak upacara yang tujuannya tidak bisa dipahami kebanyakan orang modern—namun, memang itulah cara hidup mereka.”

DCIM103GOPRO

Pada akhirnya, program Rumah Asuh bukan sekadar kegiatan membangun rumah adat —ini justru menjadi suatu proyek budaya, melalui pintu masuk arsitektur, untuk menjelajah aneka aspek lain dari budaya setempat. Dengan cepat, bukan hanya mahasiswa arsitektur lagi yang terlibat, tetapi juga mahasiswa antropologi, kedokteran, bahasa, dan seni. Temuan-temuan menarik direkam dan diterbitkan dalam bentuk buku Pesan dari Wae Rebo. Kini cara hidup khas Wae Rebo menjadi sebuah buku terbuka yang telah diarsipkan dan dapat dipelajari semua orang.

Kedatangan Yori Antar ke Wae Rebo telah memberi dampak mendalam bagi masyarakat di sana. Berkat perjalanan ekspedisinya, desa yang nyaris terlupakan ini kemudian menjadi destinasi kegemaran untuk wisata eksotis, setara dengan Pulau Komodo dan Raja Ampat. Arus masuk wisatawan yang ingin merasakan cara hidup Wae Rebo pun menjadi sumber pendapatan bagi penduduk setempat.

“Sebelum kami datang, orang-orang di Wae Rebo merasa terdorong untuk meninggalkan cara hidup tradisional mereka untuk mengadopsi cara hidup modern,” ungkap putra arsitek Han Awal yang merancang Gedung DPR ini. “Kini mereka bangga merangkul warisan tradisi, dan orang-orang dari penjuru dunia datang untuk merasakan sendiri tradisi itu dengan mereka.”

Pamungkas untuk kerja keras bersama ini adalah penganugerahan Award of Excellence dari UNESCO Asia-Pacific Heritage Awards untuk Pelestarian Warisan Budaya tahun 2012 kepada Wae Rebo.

Yori memperkirakan, jumlah suku bangsa di Indonesia melebihi 560—terbanyak di dunia. “Bayangkan jika semakin banyak budaya tradisional yang kita ungkap lalu dokumentasikan. Indonesia, alih-alih mengimpor budaya asing, justru akan menjadi inspirasi arsitektur dan tradisi bagi dunia. Sesungguhnya kita berada di atas ‘peti harta karun budaya’. “Wawasan tentang tradisi lokal telah memperkaya proyek-proyek baru buatan Yori dan timnya. Kini biro arsitekturnya bahkan telah menyandang reputasi sebagai biro rujukan untuk rancangan-rancangan “tradisional-tinggi”.

yori_in

Tak hanya didukung oleh banyak dermawan dan juga Kementerian Pariwisata, program Rumah Asuh telah diadopsi oleh Departemen Pendidikan menjadi program Rumah Budaya. Ditargetkan mengembangkan hingga 90 desa per tahun, program ini telah menuai keberhasilan di Sumba dan Sumatera Barat. Dalam upaya menyebarkan kecintaan dan penghargaan terhadap arsitektur tradisional Indonesia, Yori mendorong dibukanya mayor Arsitektur Nasional di universitas-universitas besar. Selain itu, ia menggelar kontes pula bagi mahasiswa arsitektur, sarjana arsitektur, serta firma arsitektur ternama dengan tujuan meningkatkan kesadaran arsitektur tradisional di kalangan “pembangun” di Indonesia.