Livi Zheng: Bali Beats in Hollywood

Sudah delapan bulan, sineas dan produser film Livi Zheng mondar-mandir ke dua benua, Amerika dan Asia untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia.

Interview by Megiza

Film Bali: Beats of Paradise memang baru dijadwalkan tayang pada 22 Agustus di bioskop-bioskop Indonesia. Namun lakon tentang musisi yang juga menjadi guru besar gamelan asal Bali, I Nyoman Wenten, sudah berhasil memikat pemerhati film di Hollywood, Korea hingga Tiongkok.

Kisah pertemuan budaya antara alat musik tradisional Indonesia dengan genre musik funk yang berakar dari komunitas Afrika-Amerika pada pertengahan 1960-an itu tak disangkasangka mendapat perhatian besar pasar film Amerika dan Asia. Lewat tangan Livi Zheng nama Indonesia, terlebih Bali, kini kian jadi perhatian dunia.

Namun, jalan sukses sineas yang memiliki latar belakang sebagai atlet wushu peraih podium satu berbagai kejuaraan dunia ini ternyata tidak mulus begitu saja. Impian Livi yang ingin terus membawa nama Indonesia ke industri film dunia lewat karya-karya layar lebarnya ternyata sempat diremehkan banyak orang di Hollywood.

“Pertama waktu membuat Bali: Beats of Paradise, saya ingin untuk pasar internasional, karena kalau orang Indonesia semua sudah tahu gamelan. Awal aku cerita, people don’t think that it’s a good idea. Tapi saya tetap believe in the project,” tutur Livi.

Perempuan jebolan jurusan Produksi Film dan Televisi dari University of Southern California ini mengungkapkan, hasratnya untuk membuat film tentang gamelan bermula dari permintaan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Los Angeles untuk membuat teaser konser gamelan Bali di LA.

Awalnya konsep yang dibuat hanya untuk format film pendek dan bercerita tentang tokoh profesor yang juga guru besar gamelan yang mengajar di UCLA dan California Institute of Arts. Tetapi, seiring perjalanan produksi itu Livi menyayangkan jika kisah tentang salah satu budaya Indonesia ini hanya dibuat sebagai film pendek.

Apalagi setelah dia mengetahui suara gamelan juga digunakan dalam film Avatar, serial Star Trek, hingga permainan Mario Bros keluaran Nintendo. Tak hanya itu, pelajaran tentang permainan musik yang diajarkan di kampus-kampus ternama seperti Harvard, MIT University dan Berkeley juga membuat Livi percaya diri film ini akan mendapat sambutan positif.

Keyakinan Livi akan daya tarik film yang menampilkan keindahan Desa Panglipuran, Tanah Lot, Pura Besakih dan Desa Sading ini akhirnya berbuah manis ketika mendapat funding untuk produksi. Kesepakatan dengan sponsor untuk pembuatan film, membuat ia makin percaya diri untuk melahirkan karya itu.

Keberuntungan tak sampai di situ. Pemeran utama lainnya yakni Judith Hill, penyanyi yang juga pernah berduet dengan Michael Jackson ternyata kala itu sedang mencari komposer gamelan untuk proyek pribadinya. Akhirnya perkenalan antara I Nyoman Wenten dengan Judith Hill digagas Livi untuk meramu film layar lebar kelima yang diproduksinya itu.

“Di Amerika responsnya bagus. Di USA, mereka tertarik karena ini kebudayaan dan kesenian yang sangat baru. I think they’re very interested. Bahkan kami diundang screening di Walt Disney, hingga akhirnya saya sekarang direkrut sebagai Walt Disney USA Consultant for Southeast Asia,” ungkap Livi yang kini bersiap membesut dua film berjudul The Santri dan Sabai Nan Aluih. Kita tidak sabar untuk melihat proyek berikutnya dari sineas Indonesia yang berbakat ini.