Shinta Witoyo Dhanuwardoyo : Indonesian Digital Trailblazer

Mengantongi pengalaman sebagai tech entrepreneur selama 23 tahun, Shinta Witoyo Dhanuwardoyo adalah seorang perintis yang keahliannya telah diakui oleh banyak kalangan.

Interview by Yani Lauwoie

Pendiri sekaligus CEO dari Bubu. com agensi digital full service yang berbasis pada pelayanan data ini memiliki satu mimpi besar: membantu Indonesia menjadi pemain besar pada bidang teknologi digital, baik untuk tingkat regional maupun global.

Karier Shinta pada bidang teknologi digital berawal ketika dia bekerja sebagai graduate assistant di laboratorium kampusnya saat dia menempuh pendidikan MBA di Universitas Negeri Portland di Amerika Serikat.

“Saya terkagum-kagum dengan apa yang bisa dilakukan internet. Saya percaya internet akan lebih besar dari apa yang saya lihat pada waktu itu,” kenang Shinta, yang sebelumnya menyelesaikan gelar sarjana interior/arsitektur di Universitas Oregon.

Berdasarkan keyakinan tersebut, pada tahun 1996 Shinta memutuskan untuk mendirikan Bubu.com, yang awalnya merupakan perusahaan pengembang situs. Shinta yang tidak memiliki latar belakang pendidikan formal yang terkait dengan bidang ini, belajar secara autodidak melalui internet dan praktik langsung. Hal tersebut bukan masalah baginya, tetapi meyakinkan klien merupakan pekerjaan yang sangat menantang.

“Saat itu internet tidak sebesar seperti sekarang. Jadi, saya harus mendidik klien saya terlebih dahulu tentang apa itu internet dan mengapa mereka membutuhkan situs untuk bisnis mereka,” ungkap Shinta. “Mencari staf juga merupakan tugas yang sulit karena saat itu Indonesia tidak memiliki banyak profesional teknologi digital,” tambahnya. Meskipun menghadapiberbagai tantangan, dia tidak pernah goyah dalam komitmennya untuk membuka jalur digital di Indonesia.

Selain dari Bubu.com, Shinta pernah menjabat sebagai CEO Plasa.com (sekarang Blanja.com), e-commerce milik Telkom Indonesia, dari tahun 2008 hingga 2010, menjabat sebagai Managing Partner di Nusantara Ventures, sebuah perusahaan teknologi perintis dana modal di Indonesia, dari tahun 2011 hingga 2013, dan ikut mendirikan Silicon Valley Asia Technology Alliance, sebuah organisasi nirlaba (berbadan hukum pada tahun 2014) yang misinya adalah untuk menjembatani kolaborasi antara industri teknologi Indonesia dan Silicon Valley.

Kayanya pengalaman Shinta dalam teknologi digital sejalan dengan kemajuan Bubu.com. Pada tahun 2001, Bubu.com memulai Bubu Awards, sebuah kompetisi bergengsi di kancah digital Indonesia. Setelah 10 tahun kemudian, Bubu Awards berkembang menjadi IDByte, acara digital terbesar di Indonesia, yang tujuan utamanya adalah untuk menempatkan Indonesia di peta digital global.

IDByte telah menghadirkan para pemimpin dan eksekutif dari perusahaan teknologi digital terkemuka dunia, seperti Facebook, Google, Amazon dan Twitter, pada satu panggung di Indonesia. Shinta mengatakan bahwa IDByte berikutnya akan diadakan pada bulan September tahun ini.

Bubu Awards dan IDByte adalah dua dari banyak inovasi yang telah diinisiasi Bubu.com. Maka tidak mengherankan bahwa perusahaan ini dinobatkan sebagai 100 perusahaan paling inovatif di Asia dan 100 perusahaan top dunia pada tahun 2011 oleh perusahaan media Amerika Serikat, Red Herring.

Sementara itu, Shinta sendiri telah menerima banyak penghargaan, termasuk di antaranya 99 Most Powerful Women 2017 dari GlobeAsia dan Inspiring Women Honor Roll 2013 dari majalah Forbes Indonesia. Dia juga memegang jabatan bergengsi sebagai Head of Digital Biz, E-Commerce & Startups di KADIN.

Ibu yang memiliki dua putri ini tentunya merasa sangat bersyukur atas segala hal yang telah ia capai. Tapi impian terbesarnya adalah untuk bangsa. Itulah sebabnya dia aktif sebagai mentor dan angel investor di beberapa startup.

Shinta juga berencana untuk meluncurkan situs yang fokus pada pembangunan ekosistem startup Indonesia. “Situs ini akan menghubungkan semua ekosistem yang dibutuhkan startup, termasuk angel investor dan venture capital. Kami akan menyediakan informasi untuk membantu startup berkembang,” jelasnya.

Shinta berharap semua yang dilakukannya dapat berkontribusi untuk membuat Indonesia menjadi pemain besar di kancah digital. Saat ini Indonesia lebih dikenal secara global sebagai pengguna teknologi digital yang besar daripada sebagai pencipta atau penyedia.

Saya ingin melihat startup Indonesia sukses di regional maupun global. Sudah waktunya Indonesia dikenal lebih dari sekadar konsumen digital,” tutur Shinta.

Jadwalnya yang sangat padat membuat Shinta sering bepergian dengan pesawat terbang. Dia sering terlihat menggunakan pesawat Garuda Indonesia. “Selain dari pesawat-pesawatnya yang selalu dalam kondisi baik, saya sangat suka dengan pelayanannya, terutama keramahan dari para awak kabinnya,” kata Shinta sebelum menutup wawancara kami.