Sebangau

Dengan penerbangan kurang dari dua jam, Anda dapat meninggalkan hiruk pikuk Jakarta menuju tepian Sebangau di Kalimantan, yang terkenal dengan orang utannya. Di sini, Stephanie Brookes melakukan penjelajahan sungai yang eksotis.

Words by Stephanie Brookes

Photography by David Metcalf

 

Sebagai rumah bagi populasi terbesar orang utan di dunia, Sebangau di Kalimantan paling menarik dijelajahi lewat sungainya. Di sinilah, Stephanie Brookes melakukan sebuah perjalanan yang eksotis.

Saya memulai perjalanan ke Taman Nasional Sebangau saat hari beranjak senja. Bau tanah dari hutan rawa gambut menyambut, sementara saya memegang obor dengan erat, berusaha agar tidak tersandung dan jatuh ke rawa hitam di kedua sisi jalan yang sempit. Sadar bahwa tempat ini adalah sarang macan tutul, saya terus merapat dengan pemandu perjalanan kami. “Jangan bicara dan hati-hati melangkah,” pesannya. “Papan-papan ini bisa pecah sewaktu-waktu, tetapi jangan takut, ada saya di sini.”

Setelah beberapa menit, kami menjumpai pohon besar tak jauh dari jalur rawa gambut. “Ini salah satu tempat di mana tim kami merekam kehidupan hewan nokturnal di hutan ini,” sang pemandu menjelaskan kepada kami dengan suara pelan. “Kalau beruntung, kita bisa melihat macan tutul malam ini,tetapi biasanya mereka menjaga jarak dari manusia. Orang utan sudah ada di sarangnya, di ketinggian pohon. Tetapi, kita masih bisa melihat tarsius atau rubah terbang.” Ia lalu menjelaskan bahwa taman rawa gambut seluas 5.300 km2 yang terletak di Kalimantan Tengah ini memiliki beragam jenis satwa liar, termasuk 116 spesies burung dan 166 spesies flora.

Setelah itu, kami meneruskan perjalanan dalam senyap. Pemandu mendengarkan dengan saksama suara hutan, suara serangga dan gemerisik dedaunan yang bisa berarti ada ular atau burung.

Ia sesekali berbisik untuk menjelaskan tentang beberapa spesies penghuni hutan yang kurang dikenal, termasuk tumbuhan karnivora kantong semar, yang dinamakan demikian karena bentuknya menyerupai kantung. Serangga yang hinggap di tumbuhan ini akan terperangkap oleh cairan lengket
di pangkalnya, untuk kemudian dicerna.

Sampai di satu titik, sang pemandu berhenti dan memberi isyarat kepada kami untuk mendengar ke arah utara. Dari kejauhan, kami bisa mendengar suara samar-samar, yang menurut pemandu kami adalah suara kera ekor babi.Keahliannya itu membuat saya kagum. Sementara kami terus memasang telinga,
ia menunjuk ke cabang pohon di dekatnya, dan tampak sesosok orang utan sedang memanjat ke puncak kanopi hutan.

Setelah berjalan lebih jauh, kami mendengar suara bekantan yang khas. “Itu mungkin suara induk bekantan sedang memanggil keluarganya untuk pulang karena hari mulai malam,” jelas sang pemandu. Karena itu pula, kami memutuskan kembali ke penginapan. Malam itu, kami tidur di kabin hutan taman nasional. Usai menyantap makan malam lezat buatan penduduk setempat, kami beristirahat ditemani paduan suara
serangga dan burung yang unik.

Tempat yang sangat terpencil di taman nasional ini dapat diakses melalui Palangkaraya, Ibu Kota Kalimantan Tengah. Untuk sampai di sini, kami menempuh perjalanan empat jam dengan van ber-AC dari Bandara Palangkaraya sampai pelabuhan Jahanjang, di Sungai Katingan. Dari situ, kami menaiki perahu Spirit of Kalimantan yang megah, yang membawa kami ke Sebangau untuk menghabiskan tiga malam di atas sungai. Spirit adalah tongkang tradisional Kalimantan yang sudah dimodifikasi dengan apik dan merupakan salah satu armada milik WOW Borneo yang dioperasikan oleh Gaye Thavisin, warga negara Australia yang sudah 20 tahun tinggal di Kalimantan Tengah, bersama rekan bisnisnya Lorna Dowson-Collins.

Setelah bermalam di kabin hutan, keesokan harinya kami menggunakan kano untuk menjelajahi anak-anak sungai dan melihat danau air hitam. Dalam perjalanan, kami menjumpai sekelompok bekantan dan mencoba mendekati mereka dengan perlahan. Selama beberapa menit, kami menyaksikan kawanan monyet bersuara garau ini melompat jauh dari pohon ke pohon, lalu berayun dengan lihai di antara cabang-cabang pohon yang tipis.

Sambil mengobrol, awak perahu menjelaskan bahwa banyak penduduk desa setempat yang sudah dilatih oleh World Wildlife Fund (WWF) di seluruh kawasan pelestarian hutan. Ia sendiri lahir di sebuah desa kecil di kawasan itu, yang bernama Karuing. “Saya sudah delapan tahun bersama WWF,” ujarnya bangga. “Mereka menyerahkan Layanan Taman Nasional untuk sementara waktu selama transisi dan sekarang pemeliharaan taman nasional dan tugas-tugas lainnya ditangani komunitas lokal kami. Kami semua senang melakukannya dan kami bekerja secara bergiliran, supaya semua mendapat pengalaman dalam mengumpulkan data ilmiah, melacak satwa liar yang bermigrasi dan memantau aktivitas lainnya di dalam hutan. Kami beralih ke ekowisata karena ini berkelanjutan untuk masa depan kami.”

Melihat matahari mulai tenggelam, kami pun kembali ke Spirit of Kalimantan. Keesokan harinya, perahu bergerak menuju Sungai Katingan yang luas. Perjalanan dalam kecepatan lambat ini kami nikmati dengan bersantai memandangi aneka tumbuhan pakis di tepi sungai dan mengagumi indahnya burung enggang yang terbang melintasi langit.

Esok paginya, perahu berlabuh di dekat Baun Bango, desa suku Dayak di tepi taman nasional. Begitu mendarat, kami segera mencari tuan rumah desa, yakni Pak Alwi. Hanya ada satu jalan utama di desa ini, dan rumah Pak Alwi sudah berdiri lebih dari 140 tahun, jadi tidak sulit menemukannya. Pak Alwi duduk di berandanya menunggu kami. Rumah kayunya yang indah menampilkan balok-balok kayu ulin dan lantai kayu asli, yang sepertinya bisa bertahan 100 tahun lagi. Pak Alwi, yang lahir dan tinggal di rumah tersebut sepanjang hidupnya, mengajak kami masuk.

Deretan kecapi bersandar di salah satu dinding rumahnya. Pak Alwi mengambilnya sambil tersenyum semringah. “Kecapi ini saya buat sendiri,” katanya penuh semangat, dan ia pun mulai memainkan sebuah lagu Dayak untuk kami. Saat musik tradisional yang mendayu-dayu ini mengalun, pemuda Dayak pemandu kami ikut bernyanyi dalam bahasa aslinya. Sungguh sebuah momen yang indah. Dua suara, orang tua dan pemuda Dayak, ini menyatu dalam harmoni, menyihir kami dengan keindahannya.

Malamnya, kami disuguhi hidangan yang luar biasa dari tumbuhan hutan, sayuran, sup rebung, ikan sungai lokal tahoman, serta nasi putih dan tahu. Pak Alwi lalu mengundang kami untuk bermalam di desa, dan saya pun mengiyakan, walaupun sebenarnya kami bisa tidur di atas perahu. Setelah mendengar beberapa cerita rakyat dari tuan rumah, saya pun tertidur lelap, memimpikan petualangan yang akan kami lakoni esok hari.

Jakarta to PALANGKARAYA


Lama Penerbangan 1 hour, 20 mins

Frekuensi 14 penerbangan per minggu

Book Now

Koran River Trip

Bila waktu Anda terbatas, pilih perjalanan sehari menjelajahi Sungai Koran. Dari Bandara Palangkaraya hanya 10 menit menuju pelabuhan Kereng Bangkirai, di mana Anda bisa mengunjungi kantor Taman Nasional Sebangau. Setelah itu, perjalanan dengan perahu motor selama 45 menit akan membawa Anda sampai ke hutan. Anda bisa menjelajah dengan didampingi pemandu, berkano, atau berenang di perairan yang bersih. Ada perkemahan eco-jungle di mana Anda bisa bermalam di kabin berkapasitas maksimum enam orang.

Local Dayak Tour Guide:
Mrs Yun Pratiwi
www.centralborneoguide.com /package/sebangaunp-tour
For more information on Sebangau National Park, go to www.tnsebangau.com