tangkahan_main

Ambon: Of Spice and Song

Secara historis dikenal sebagai Kepulauan Rempah, kini Maluku menjadi gudangnya penyanyi berbakat. Valentino Luis menjelajahi kekayaan musik, keindahan alam, dan situs-situs bersejarah di Ambon dan sekitarnya.

Words by Valentino Luis

Suasana Sibu-Sibu Café persis seperti ekspektasi saya. Hangat dan hidup. Begitu turun dari angkot di Jalan Said Perintah saya masuk ke ruangannya yang bercat merah. Poster-poster berbagai ukuran melekat di dindingnya dan hanya menyisakan sedikit bagian kosong.

tangkahan_02

Poster-poster tersebut menampilkan foto paraselebritas, penyanyi, bintang film, pesepak bola, musisi, serta tokoh-tokoh berdarah Ambon lainnya. Ruth
Sahanaya, Glenn Fredly, Broery Marantika, Andre Hehanusa adalah segelintir nama top yang mewakili Ambon di panggung hiburan Indonesia. Sedangkan Daniel Sahuleka, Sharita Sopacua, Kim Sababone (Vengaboys), dan The Tielman Brothers merepresentasikan Ambon di kancah dunia. Lekatnya Ambon dengan dunia hiburan, khususnya musik, memang bukan hal baru. Orang-orangnya terkenal memiliki musikalitas yang tinggi, sampai-sampai UNESCO menobatkan Ambon sebagai “kota musik” pada Oktober lalu.

“Sulit bagi kami hidup tanpa musik. Tidak ada suara yang buruk, tidak ada musik yang jelek, asalkan bisa diharmonisasi,” kata Alson Pisarahu, pemuda setempat yang menemani saya beberapa hari di Ambon. Kami duduk mendengarkan alunan lagu etnik sembari menyesap kopi Rarobang, yang dicampur serai, jahe, dan kenari.

tangkahan_02

Satu jam sebelumnya saya dan Alson menghabiskan waktu di dekat Kantor Gubernur Maluku, saat para pemuda bermain sepak bola di lapangan depan kantor gubernur, sementara yang lain ber-jogging dan bermain voli di lapangan sebelahnya. Kami berfoto di depan tulisan besar “Ambon Manise” berwarna merah. Terdapat pula Monumen Thomas Matulessy, pahlawan lokal yang lebih dikenal dengan sebutan Kapitan Pattimura, dan dikenang karena perlawanannya terhadap Belanda pada awal abad ke-19.

Di seberang jalan, Benteng Victoria peninggalan Portugis dari abad-17 terbuka bagi pengunjung. “Nama aslinya Nossa Senhora Annucida, namun berganti Victoria ketika Belanda merampasnya tahun 1605. Dua abad kemudian, benteng ini jadi saksi eksekusi mati Thomas Matulessy,” urai Alson. Konon, Benteng Victoria menjadi cikal bakal tumbuhnya kota Ambon.

tangkahan_02

Di sebelah benteng, sebuah monumen lain berdiri di tengah jalan. Monumen Gong Perdamaian namanya. Situasi di Ambon kini memang damai dan kondusif. Berbagai kegiatan digalakkan untuk memacu semangat kreatif anak-anak muda, khususnya melalui olahraga dan seni. Ini menjadi langkah penting untuk menghapus trauma akibat kerusuhan silam, sekaligus menumbuhkan pola pikir positif pada generasi muda.

Saya datang ke Ambon sendirian, dan sama sekali tidak ada kekhawatiran di benak saya sejak pertama kali menjejakkan kaki di Bandara International Pattimura. Bahkan kesan pertama sangat menyenangkan. Saya menumpang angkutan kota yang memainkan lagu-lagu romantis khas Ambon. Saya jadi mengenal nama-nama penyanyi populer mereka seperti Doddy Latuharhary dan Mitha Talahatu. Sewaktu kecil, saya hanya mengenal Joice Pupella dan Nanaku Group. Saya begitu menyukai kedekatan orang-orang Ambon dengan musik. Apalagi, didukung pemandangan lautan di Teluk Ambon yang meliuk aduhai.

tangkahan_02

Alson mengajak saya menginap di rumah keluarganya di Desa Nusaniwe. Rumahrumahnya dibangun di lereng bukit. Sepintas mengingatkan saya pada Kota Lisbon di Portugal. Konsep perumahan di sini memang sederhana, namun menyuguhkan keindahan matahari terbit yang tak ada duanya.

Tidak puas memandangi dari lereng kampung Nusaniwe, kami pergi ke Gunung Nona. Melewati hutan rimbun, sampailah kami di lokasi yang menyajikan panorama Kota Ambon. Saya bisa melihat dengan jelas Jembatan Merah Putih membentang lebih dari 1 km. Jembatan terpanjang di wilayah Indonesia Timur ini menghubungkan pusat Kota Ambon dengan Poka.

Selain kotanya, keindahan Ambon sempurna berkat pulau-pulau kecil di sekelilingnya. Salah satu yang terkenal adalah Pulau Seram. Tak seperti namanya, pulau ini menyimpan keindahan layaknya surga.

Sebagai salah satu pulau terbesar di Provinsi Maluku, daya tarik utama Pulau Seram adalah Pantai Ora. Namanya ramai dibicarakan di dunia maya, dan saya langsung suka ketika melihat foto-foto Pantai Ora di internet, dan langsung memasukkannya sebagai destinasi yang wajib saya sambangi bila ke Ambon.

tangkahan_02

Untuk mencapai Pantai Ora tidaklah mudah, namun saya begitu bersemangat pergi ke sana. Dari Ambon, saya naik kapal feri cepat di Pelabuhan Tulehu. Butuh waktu dua jam menyeberangi lautan, lalu ke pusat Kota Masohi untuk mendapatkan mobil tumpangan ke kampung Saleman.

Selepas dataran Masohi, mobil membawa saya melewati jalanan terjal dan berliku khas Pulau Seram. Kiri kanannya dijejali hutan rimbun yang subur, dengan pepohonan tinggi yang dililit tanaman rambat. Lembah dan ngarai sempit muncul silih berganti. Aroma tetumbuhan menebar di mana-mana. Sebentar-sebentar panorama tersaji, ditimpali bayangbayang bukit nun jauh. Tiba di Saleman, sampan membawa saya ke Pantai Ora.

Sore atau pagi adalah waktu yang pas untuk meluncur di atas lautnya yang bening dan tenang. Ketika kami sampai, kawanan burung melesat dari lereng berselaput kabut. “Itu burung Lusiala,” kata Pak Udin, pemilik sampan. “Cuma muncul menjelang magrib.” Pantai Ora yang berpasir putih semakin jelas terlihat. Lambaian nyiur dengan deretan rumah-rumah inap terapung kian mendekat, menyambut saya.

tangkahan_02

Koral yang membentang di sepanjang Pantai Ora seakan baru selesai diciptakan Tuhan. Karangnya subur dan bermacammacam ikan terlihat jelas dari dermaga. Rasanya seperti menatap akuarium raksasa. Latar kawasan pesisir ini adalah perbukitan kapur yang menjulang gagah, diselingi tebingtebing karst, seperti Hatu Pia, Hatu Supun, dan Hatu Gurita.

Sebenarnya, ada tiga pulau di antara Ambon dan Seram, yakni Pulau Haruku, Saparua, dan Nusa Laut. Ketiganya memiliki pantai serta peninggalan-peninggalan sejarah yang layak didatangi. Di Pulau Haruku, terdapat Benteng Nieuw Zeelandia (tahun 1655) tepat di tepi laut. Sedangkan Pulau Saparua punya Benteng Duurstede (1676), yang dibangun di atas karang tinggi sehingga pengunjung mesti mendaki untuk masuk ke dalamnya. Lalu, Pulau Nusa Laut dengan Benteng Beverwijk (1654).

tangkahan_02

Keberadaan benteng-benteng tersebut merangkai kekayaan historis Ambon dan wilayah Maluku secara umum. Bahkan, Kepulauan Maluku adalah daerah dengan jumlah benteng kolonial terbanyak di Indonesia, yakni hampir 40 benteng. Inilah peninggalan masa silam saat Kepulauan Rempah menjadi magnet dunia pada abad pertengahan. Spanyol, Portugis, Belanda, dan Inggris pernah memperebutkannya selama berabad-abad.

“Kini, orang-orang datang bukan lagi untuk mencari rempah, melainkan menelusuri cerita dan menghidupkan nostalgia masa lalu. Apa pun alasannya, kami menyambut dengan cara yang sama, lewat alunan musik dan nyanyian,” kata Alson pada senja sehari sebelum saya meninggalkan kotanya.

Jakarta to Ambon


Flight Time 3 hour 10 minutes

Frequency 7 flights per week

Book Now

From Colours February 2020

icon_sound

5 Senses – Touch
Ambon Bay Festival

Acara tahunan yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia menampilkan pertunjukan musik serta tarian budaya selama beberapa hari. Diadakan sekitar bulan Agustus, dengan tema utama kekayaan bahari.