Amsterdam

Nikmati paduan keindahan ikonis dan perjalanan ke tempat-tempat urban yang seru di kota klasik Eropa.

Words Thessa Lageman

Feri berangkat dari belakang stasiun sentral, menyeberangi sungai lebar IJ menuju NDSM Wharf. Sama seperti saya, beberapa penumpang lain membawa sepeda, termasuk pasangan lanjut usia dan seorang ayah yang memboyong balita di kursi belakang.

Mentari muncul dari balik awan saat feri tiba di tujuan. Layanan feri ini adalah satu dari beberapa transportasi gratis yang menghubungkan pusat kota Amsterdam dengan daerah di utara. NDSM adalah bekas galangan kapal yang disulap menjadi pusat budaya yang ramai oleh komunitas seniman. Saya berkeliling dengan sepeda sambil berhenti di sana-sini untuk memotret beragam karya seni jalanan nan semarak. Di belakang Crane Hotel Faralda yang dihiasi grafiti, ada Noorderlicht Café, rumah kaca yang menjadi kafe. Saya menyantap burger vegetarian lezat di tamannya yang menghadap ke sungai.

Selanjutnya, saya bersepeda sejauh 3 km melewati kawasan industri dan perumahan yang sepi menuju A’DAM Tower. Sesekali saya berhenti untuk memeriksa Google Maps, karena sekarang ada larangan menggunakan ponsel saat bersepeda. Menara yang baru dipugar tersebut berlokasi di bekas kantor Shell yang dibangun tahun 1966, di sebelah bangunan putih futuristik Museum Film EYE. Liftnya, yang dilengkapi musik dan permainan cahaya, mengantar saya ke dek observasi, yang menyuguhkan keindahan pemandangan kota.

Sebelum itu, saya memulai pagi dengan melayari kanal. Wisata perahu satu jam melintasi bagian tertua dan paling indah di Amsterdam adalah cara terbaik untuk mengawali kunjungan saya ke ibu kota Belanda. “Sebagian besar kanal dibangun abad ke-17, pada Zaman Keemasan Belanda,” kata pemandu wisata saat kami melewati beberapa dari 1.281 jembatan di kota ini. Ia juga menjelaskan bahwa banyak rumah dagang di sini ukurannya sangat kecil untuk mengurangi beban pajak.

Kemudian saya bersepeda ke taman Westerpark dengan ekstra hati-hati, mengingat sang pemandu mengatakan bahwa setiap tahun lebih dari 10.000 sepeda diangkat dari dalam kanal. Di halaman taman yang rimbun, berdiri Westergasfabriek. Dibangun tahun 1883, bekas pabrik gas ini sekarang menjadi pusat budaya dan dihuni beberapa kafe dan restoran yang menarik.

Keesokan hari, saatnya saya menikmati wisata budaya, dimulai dari Anne Frank House. Museum yang menakjubkan ini sangat populer, karena itu saya membeli tiket lebih dahulu secara online. Di sini, dalam persembunyian, Anne Frank yang berusia 13 tahun mulai menulis catatan hariannya yang terkenal, selama ia dan keluarganya bersembunyi dari Nazi semasa Perang Dunia II. Hanya ayahnya yang berhasil selamat dari perang.

Distrik Jordaan di sekitarnya, yang berdiri sejak abad ke-17, dahulu merupakan permukiman kelas pekerja, namun kini menjadi salah satu daerah paling mewah dan trendi di Amsterdam. Sambil berjalan-jalan, saya menemukan banyak galeri seni yang memikat, butik-butik mungil dan pub yang nyaman. Saya membeli oleh-oleh di pusat perbelanjaan yang disebut Negen Straatjes (sembilan jalan kecil).

Saat tiba waktunya makan siang, saya menuju Foodhallen, bekas depot trem yang kini meriah dengan 21 kedai makanan. Sulit menentukan pilihan, tetapi akhirnya saya membeli taco Meksiko yang lezat. Bangunan ini juga memiliki bioskop, hotel, dan beberapa toko kecil yang menjual karya desain khas Belanda dan barang-barang kuno

Museum Van Gogh di Museum Square adalah tujuan utama saya berikutnya. Agar tidak ada yang terlewat, saya memesan tiket jauh sebelumnya. Di sini, Anda tidak cuma disuguhi pemandangan, potret diri dan karya-karya lain dari pelukis pasca-impresionis yang luar biasa ini, tetapi Anda juga dapat mengetahui lebih banyak tentang sang seniman, yang hidupnya di dunia hanya 37 tahun.

Di sebelahnya ada Rijksmuseum, di mana Anda akan dibuat kagum oleh karya-karya besar para pelukis Zaman Emas seperti Rembrandt, Frans Hals dan Johannes Vermeer. Museum ini juga punya suguhan lainnya, seperti koleksi keramik biru-putih Delftware. Total, ada 8.000 karya seni dan benda bersejarah dari tahun 1200 sampai 2000 yang dipamerkan di sini.

Hari itu saya tutup dengan mengunjungi taman terbesar dan paling terkenal di kota ini, Vondelpark, yang terletak di sebelah barat Museumplein. Dibuka tahun 1865, taman ini dahulu adalah taman pribadi untuk kalangan atas hingga tahun 1953. Kini, taman tersebut menjadi tempat sekelompok teman bersantai dan menikmati malam musim panas yang menyenangkan. Banyak dari mereka berpiknik di dekat kolam yang dihiasi angsa, sementara pengendara sepeda, pelari dan sekelompok pemain sepatu roda lalu lalang di taman.

Di Blue Tea House, yang menempati paviliun Modernis berbentuk cincin yang dibangun tahun 1937, saya menyesap teh min segar. Dari dekatnya, terdengar alunan lagu-lagu riang. “Ada konser di teater terbuka di sana,” kata pelayan menjelaskan. “Pergilah menonton.”

Jakarta to Amsterdam


Frequency 6 times a week

Flight time from Jakarta is 13 hours 20 mins.

Book Now

From Colours September 2019

icon_taste

5 Senses – Taste
Cheese

Belanda terkenal akan keju (kaas). Untuk mengenal berbagai varian keju—dan mencoba beberapa— kunjungi Amsterdam Cheese Museum atau pasar Albert Cuyp.