Archipelago Journal Bintan

Selama bertahun-tahun, pulau terbesar di Kepulauan Riau ini bagai terbagi dalam dua dunia yang berbeda: kawasan resor eksklusif di bagian utara dan tanah yang belum terjamah di selatan. Tetapi, Bintan kini memasuki babak baru seiring wisatawan mulai mengeksplorasi keragaman di seantero pulau ini.

Words by Jonathan Evans

Satu dekade lalu, di tengah pemulihan dari kemandekan ekonomi pada awal 2000-an, Bintan lebih dikenal sebagai surga lapangan golf dan resor keluarga: semacam versi tepi pantainya Singapura, kota besar terdekatnya. Akan tetapi, beberapa tahun terakhir ini, pengembangan pariwisata mulai merambah seluruh pulau, termasuk pembangunan resor megah, fasilitas olahraga dan ekowisata. Pos pemeriksaan antara kawasan resor dan daerah pedalaman pun tak lagi seperti garis pemisah yang mencolok.

Satu dekade lalu, di tengah pemulihan dari kemandekan ekonomi pada awal 2000-an, Bintan lebih dikenal sebagai surga lapangan golf dan resor keluarga: semacam versi tepi pantainya Singapura, kota besar terdekatnya. Akan tetapi, beberapa tahun terakhir ini, pengembangan pariwisata mulai merambah seluruh pulau, termasuk pembangunan resor megah, fasilitas olahraga dan ekowisata. Pos pemeriksaan antara kawasan resor dan daerah pedalaman pun tak lagi seperti garis pemisah yang mencolok.

Sekarang, di terminal ferinya ada “boat-el” (hotel kapal) Doulos Phos, kapal delapan lantai yang telah mengarungi lautan dunia selama 96 tahun, sebelum akhirnya berlabuh di sebuah pulau pribadi dan disulap menjadi hotel terapung yang dilengkapi museum bahari. Februari lalu, The Residence Bintan dibuka di Kijang. Hotel mewah pertama di luar area resor pulau ini menyediakan sepeda bagi setiap tamu untuk menjelajahi keindahan lokasinya. Bandara internasional yang sudah lama direncanakan juga sedang dalam pengerjaan, dengan landasan pacu sepanjang 3 km untuk menarik minat operator penerbangan nasional, agar jumlah wisatawan ke Bintan per tahun dapat meningkat pesat dari angka satu jutaan yang tercatat pada 2018.

Sebenarnya, tak sulit menemukan kekayaan pulau yang sarat sejarah ini. Tak jauh dari Bintan Resorts ke arah barat, terbentang pemandangan magis Gurun Pasir Busung—bekas area penambangan dekat Kota Tanjung Uban yang sekarang sepi dan dihiasi kolam-kolam berwarna biru (Telaga Biru). Di pesisi timur, terdapat Desa Panglong, tempat orang-orang laut membuat perahu kayu dan jaring nelayan, di sebelah tungku raksasa untuk membakar pohon bakau untuk menghasilkan arang.

Suasana kehidupan tradisional seperti itu menghiasi sepanjang pesisir timur Bintan, dengan pemukimannya yang tenang dan tak ramai penduduk. Meski luas Bintan dua kali lipat luas daratan Singapura, populasinya jauh lebih sedikit. Di Desa Kawal, di antara rumah-rumah perahu dan kapal nelayan usang, para pembuat perahu menyediakan tur sunset melintasi hutan bakau berusia seabad yang mengapit sungai, diterangi pesona cahaya kunang-kunang. Di Pantai Trikora yang membentang puluhan kilometer, berjejer saungsaung kayu, kelong, resor sederhana dan tempat-tempat bersejarah, termasuk Gua Santa Maria dari abad ke-18 di Telok Dalam. Di sini, berdiri patungpatung batu kapur yang mengisahkanpenyaliban Kristus (di 14 lokasi) di jalur mendaki yang berujung pada sebuah kapel kecil.

Keragaman agama, suku, dan bangsa yang merajut Bintan selama ratusan tahun telah menorehkan jejak abadi pada lanskapnya. Di barat daya Bintan bangunan-bangunan spiritual unik menghiasi ibu kota Kepulauan Riau, Tanjungpinang. Masing-masing memiliki latar belakang sejarah yang menarik. 500 Lohan, misalnya, pemandangan surealis di belakang kuil Buddha ini menampilkan ratusan patung figur Arahat—mereka yang telah mencapai pencerahan—yang diukir rumit dan berbeda satu dengan lainnya.

Perjalanan singkat dengan perahu pompong dari dermaga di Tanjungpinang akan membawa Anda ke dua tempat yang kaya arsitektur bersejarah. Pertama adalah Penyengat, yang dahulu merupakan pusat budaya kerajaan Johor-Riau Melayu. Jalan-jalan sempitnya yang membelah pemukiman, melewati halaman dan makam—paling enak dijelajahi dengan menumpang becak motor.

Makam-makam di sini didominasi warna kuning terang, termasuk makam Raja Ali Haji, seorang penyair dan sejarawan lokal yang diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Di sini pula berdiri Masjid Raya Sultan Riau yang dibangun pada tahun 1844 menggunakan putih telur sebagai semen, dan menyerupai kastil dalam dongeng Disney jika dilihat dari tepi laut.

Lima menit menyeberangi perairan, ada Senggarang, sebuah pemukiman Tionghoa di ujung barat Bintan. Penduduk di sini tinggal di rumah-rumah panggung di dekat pelabuhan di seberang Wihara Dharma Sasana, kompleks kuil yang terbuka untuk umum, dengan gerbang merah tuanya yang cantik. Namun, yang paling unik di Senggarang adalah sebuah kuil kecil yang dibangun dua abad lalu oleh seorang kapitan, yang kini diselimuti akar pohon banyan besar, dan diyakini mendatangkan keberuntungan bagi mereka yang berkunjung.

Pemandangan-pemandangan unik ini berpadu sempurna dengan panorama spektakuler di rekor-resor di Bintan. Di area taman petualangan Treasure Bay di resor Natra Bintan, pengunjung bisa menginap ala safari di tenda-tenda mewah yang sangat nyaman di pinggir Crystal Lagoon, kolam renang outdoor terbesar di Asia Tenggara. Sementara, Sanchaya yang dibuka lima tahun lalu adalah salah satu hotel paling indah di Indonesia, lambang keanggunan bergaya kolonial, yang berdiri di sepanjang pantai pasir putih dan kaya dengan koleksi buku dan seni. Di dekatnya, Plaza Lagoi menyuguhkan galeri 3D yang terinspirasi budaya lokal (Rumah Imaji), taman yang dihuni beragam satwa liar Indonesia (Lantern Park) dan bar koktail trendi (Yeah! Lounge).

Pengembang juga mulai merambah destinasi ekowisata dengan resor dan kondominium yang dirancang menyatu dengan keindahan alam pulau ini. Salah satunya Haven Lagoi Bay, sebuah resor terpadu yang terdiri atas sebuah hotel mewah, suite hunian dan pusat konvensi, dengan lokasi yang unik di tengah pertemuan laut, sungai, dan danau. Jembatan sepanjang 7 km juga sedang dibangun untuk menghubungkan Bintan dengan kota industri tetangganya, Batam. Jika dulu pulau terbesar di kepulauan Riau ini lebih dikenal dengan hotel-hotel dan pantai eksklusif untuk liburan akhir pekan, sekarang pulau ini menawarkan pengalaman yang jauh lebih beragam dari sekadar resor wisata. Kini, sebagai destinasi yang lengkap dengan wisata alam, sejarah dan kemewahan, nama Bintan pun kian bersinar.

Jakarta to Tanjungpinang


Flight Time 1 Hours 10 minutes

Frequency 7 flights per week

Book Now

From Colours November 2019

icon_taste

5 Senses – Taste
Tanjungpinang Street Markets

Pasar-pasar makanan tradisional di ibu kota buka pada pagi dan malam hari. Pasar pagi di Jalan Pasar Ikan dan Jalan Plantar II menjual segala macam, dari buah-buahan segar hingga rempah-rempah, kerupuk gonggong dan makanan laut kering, seperti ikan bilis yang sangat populer. Sementara, pasar malam Rimba Jaya, yang buka pukul 6 sore, adalah gudangnya street food, seperti sate dan pisang goreng keju.