Archipelago Journal : Bunaken

Bunaken, yang berarti ‘tempat mendarat’, di utara Sulawesi adalah pulau surga nan menakjubkan, yang tersohor dengan keindahan bawah laut dan pantai pasir putihnya yang masih alami.

Words by Valentino Luis

Dalam hitungan kurang dari sepuluh menit, joran pancing yang dipegang Pak Antameng tiba-tiba melengkung. “Kena!” gumam pria itu senang. Dengan cekatan ditariknya senar pancing dan saya melihat seekor ikan cakalang bertubuh tambun keperakan, menggelepar. “Di sini banyak ikan seperti ini, makanya saya senang kemari,” ujarnya. Saya bertemu Pak Antameng tadi pagi di Pantai Pangalisang, sebelah timur Bunaken, dekat penginapan. Tanpa sungkan, saya meminta agar diperkenankan menumpang sampannya mengikuti ke mana ia hendak memancing.

Lokasi memancing kesukaan Pak Antameng berada di utara Bunaken, tepatnya di Tanjung Parigi. “Leluhur kami, penduduk pertama Bunaken tinggal di Tanjung Parigi. Mereka berasal dari Kepulauan Sangihe, terletak di antara Sulawesi dengan Filipina,” terangnya. Pak Antameng juga memberi tahu bahwa masih ada sumur tua peninggalan leluhurnya di Tanjung Parigi. “Ketika Belanda mengusai Manado dan pulau-pulau sekitar, penduduk Tanjung Parigi diperintahkan untuk pindah bermukim di sebelah selatan Bunaken,” katanya lagi.

Saya tiba di pulau ini kemarin. Hanya butuh waktu setengah jam dengan kapal cepat untuk menjangkau Bunaken dari Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara. Kapal yang menyeberangkan saya tidak hanya memanjakan mata dengan pemandangan pulau vulkanis Manado Tua, namun juga hamparan terumbu karang yang bisa ditilik begitu jelas. Banyak kapal cepat rute Manado- Bunaken memiliki kaca tembus pandang di bagian dasarnya, sehingga penumpang leluasa menikmati pemandangan bawah laut. Kapal jenis katamaran ini bermunculan di daerah ini seiring populernya Bunaken sebagai loka wisata bahari.

Bunaken disebut-sebut sebagai pionir wisata laut di Indonesia, khususnya penyelaman. Pulau berbentuk seperti pangkal kaki anjing greyhound ini sudah tersohor puluhan tahun dalam catatan para penyelam, jauh sebelum destinasi lain seperti Komodo, Weh, Wakatobi, Alor, Togian atau Raja Ampat dikenal. Bermula pada pertengahan tahun 1970-an, setelah sekelompok penyelam asing melakukan eksplorasi bawah laut, Bunaken lantas menjadi primadona lantaran kekayaan hayati serta struktur tebing karangnya yang menakjubkan

Tahun 1991, Taman Nasional Bunaken diresmikan, dengan area seluas of 890 km². Hanya tiga persen yang berupa daratan, yakni pulau Bunaken sendiri dan empat pulau yang mengapitnya. Kehidupan laut yang begitu kaya, dengan setidaknya 3.000 spesies ikan dan hampir 400 jenis karang.

Kontur karang di dalam laut Bunaken terdiri atas tebing-tebing terjal serta gua yang menyembunyikan macam-macam ikan langka. “Perairan kami ini adalah tempat hidupnya ikan Raja Laut. Dulu, ikan itu dianggap angker, namun sekarang justru jadi idola pengunjung,” Pak Antameng berkisah. Yang dimaksudnya dengan ikan Raja Laut tak lain adalah Coelacanth, ikan raksasa yang dapat tumbuh lebih dari 2 m, lebih tua daripada Dinosaurus dan sebelumnya dianggap punah enam puluh juta tahun lampau. “Saya pernah melihat videonya namun belum pernah menangkap sendiri. Kadang saya berkhayal menjumpai Raja Laut,” katanya menerawang.

Kendati telah berpuluh tahun populer sebagai destinasi wisata, Bunaken tidak mengalami perubahan drastis. Pulau ini masih didominasi zona hijau dan permukiman warga terkonsentrasi di tanjung selatan, berdampingan dengan pusat informasi penyelaman, penginapan, dan kafe-kafe. Sementara, kebanyakan resort memilih tempat-tempat sunyi di pesisir. Demikian pula di pulau-pulau sekitarnya. Misalnya, Pulau Siladen, yang dikitari terumbu nan subur dan pasir putih bersih. “Sebagian besar lahan Siladen masih kosong. Penginapan di sini hanya ada enam, cukup untuk pulau kecil kami,” kata Sarah Sangari, pemilik Jonaths Cottage, saat menyambut saya tiba di pulau mereka. Siladen hanya seluas 31,25 hektare dan menyenangkan untuk berjalan-jalan santai, tidak ada kendaraan bermotor di sini. Pemandangan mentari terbenamnya pun begitu indah untuk dinikmati setelah seharian menjelajahi hamparan pantai pasir putih bersih di sisi timur yang sunyi.

Menilik ke utara, ada Pulau Mantehage yang dikerubungi hutan mangrove luas. “Mantehage itu lebih luas hutan bakau ketimbang daratannya,” kata Sarah terbahak. Tidak ada aktivitas wisata di sana, alam berkelindan apa adanya. Tetapi, Pulau Nain di sebelah timur belakangan ini mencuri perhatian para pejalan lantaran hamparan karangnya begitu luas, ditambah pasir timbul nan membentang panjang. Malah, paket-paket perjalanan kini memilih Pulau Nain sebagai persinggahan pertama sebelum berpungkas di Pulau Bunaken.

Dihantui rasa penasaran, saya memutuskan untuk mendatangi Pulau Nain. Area laut dangkalnya amat luas, sehingga saya seolah mengapung di atas kolam raksasa berair pirus. Mayoritas penduduknya adalah orangorang Bajo yang masyhur sebagai pelaut ulung. Rumah-rumah panggung mereka berjajar di tepi barat pulau, menjulur hingga ke laut. Zainal, salah satu penduduk, mengatakan bahwa nenek moyang orang Bajo telah mendiami pulau ini sejak tahun 1900. Ia mengajak saya ke Sumur Jere, sumber air tawar yang katanya tak pernah kering dan punya khasiat khusus. “Bagi pasangan yang susah punya keturunan, bisa minum air dari sumur ini,” katanya bersungguh-sungguh.

Zainal dan keluarganya bekerja sebagai nelayan sekaligus petani rumput laut. Hampir semua warga Pulau Nain melakukan hal serupa. Mereka gemar membuat ikan Roa (Hemirhampus sp) yang kaya rasa dan cocok sekali dimakan dengan sambal. Tatkala saya mengatakan ingin melihat pasir timbul, Zainal sangat antusias. Diajaknya beberapa keponakan kecil dan kami pun meluncur dengan sampannya ke sisi tenggara pulau. “Kami menyebutnya Pantai Dosa,” kata dia, yang enggan menjelaskan lebih lanjut. “Itu cerita masa lalu,” pungkasnya singkat.

Saat kami tiba, Pantai Dosa telah dikerubuti pengunjung. Tapi karena laut sedang surut, kami bisa menikmati pasir timbul yang cukup panjang dan tetap merasa seperti tidak ada pengunjung lain selain kami. Banyak anak muda dari Manado menjual paket wisata ke sini. Mereka membawa serta payung pantai atau sofa tiup sebagai pelengkap berfoto bagi tetamunya. “Kadang ada yang berkemah di Pulau Nain Kecil,” ujar Zainal sembari menunjuk ke arah timur laut. Di dekat tempat kami berdiri terdapat titik penyelaman berjuluk Jalan Air Point, yang kerap kali didatangi kawanan Pari (Gymura spp).

Namun dari kelima pulau, titik penyelaman terbanyak tetap dimiliki Pulau Bunaken, dengan setidaknya delapan belas situs. Kapal-kapal yang membawa grup penyelam hilir-mudik menjadi pemandangan lazim, pasalnya semua sudut pulau tersebut punya daya pikat tersendiri. Lekuan 1-3, Celahcelah dan Sachiko’s Point adalah tiga dari sekian titik penyelaman yang paling diminati.

Meski sudah beberapa hari menjelajahi kawasan ini, saya belum merasa puas. Saya pun berjanji untuk kembali dan mengunjungi Pulau Manado Tua, karena pulau itu adalahcikal bakal peradaban sebelum Manado berpindah ke daratan Sulawesi.

Terlebih, sebagai pencinta gunung, saya tergoda untuk mendaki lereng hingga mencapai puncaknya. Kata Pak Antameng, begitupun Zainal, Manado Tua memiliki hutan lindung yang dipenuhi burung-burung, juga koral menakjubkan di kakinya. “Raja Laut, ikan purba yang saya ceritakan itu, lebih sering dijumpai di sana,” kata Pak Antameng. “Kalau kamu datang lagi, barangkali kita bisa ke sana bersama.”

For further information, please visit www.garuda-indonesia.com

Jakarta to Manado


Flight Time three hours.

Frequency14 times a week

Book Now

From Colours July 2019

icon_scent

5 Senses – Taste
Woku Belanga

Kuliner di Bunaken serupa dengan Manado, namun dengan ciri khasnya sendiri. Menggunakan ikan dari lautnya sebagai bahan utama, Woku Belanga adalah sup dengan campuran rempah serta tiga jenis dedaunan beraroma, yakni daun salam, daun jeruk dan daun pandan. Paling nikmat disantap hangat usai berenang atau menyelam.