Archipelago Journal Mentawai

Terletak 160 km sebelah barat Padang, Kepulauan Mentawai adalah tempat berlibur yang sempurna untuk keluarga. Tommy Schultz bergabung dengan keluarga MacKenzie dan Tamai untuk menikmati detoksifikasi digital selama 10 hari dengan berselancar, menyelam, menyisir pantai dan menjelajahi pulau-pulau di sekitar Togat Nusa Retreat yang begitu memesona.

Words by Tommy Schultz

Ombak muncul bagai garis gelap di cakrawala Sumatra dan membesar saat mendekati perahu kecil kami. Samudra Hindia di sekeliling kami berwarna pirus gelap, tenang tanpa embusan angin. Tampak kerdil di hadapan gelombang laut yang menjulang, Flynn MacKenzie, 10 tahun, meluncur di bawah beningnya ombak.

“Yeeeeew!” teriak Jake, ayah Flynn. Perahu riuh oleh sorak-sorai kala sosok kecil itu keluar dari ombak menuju air yang tenang.

“Ombak itu tiga kali di atas kepalanya,” kagum Jake sembari tersenyum bangga sebagai ayah. Liburan ke Kepulauan Mentawai sudah menjadi agenda tahunan keluarga MacKenzie selama delapan tahun.

“Pulau ini luar biasa,” tambah Jake, yang seumur hidupnya mencintai olahraga selancar dan laut, sekaligus pemilik toko peralatan selancar Drifter Surf Shop yang legendaris di Bali. Tampaknya, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

“Anak-anak sibuk sekali bermain selama mereka di Mentawai. Mereka tidak punya waktu untuk bermain telepon genggam atau tergoda teknologi digital—kami senang di sini karena alasan-alasan sederhana.”

Mentawai menawarkan sesuatu yang kini sangat langka di dunia, yakni waktu berkualitas bersama keluarga, tanpa gangguan email dan telepon pintar yang terus berbunyi. Demi “detoksifikasi digital”, banyak keluarga seperti MacKenzie datang ke pulau ini untuk melupakan sejenak perangkat digital mereka dan menghabiskan waktu bersama
anak-anak.

Mendayung kembali ke perahu dengan senyum selebar Samudra Hindia, Flynn melempar tos pada Temma Tamai, kawannya berselancar dan snowboarding sejak lama. Keluarga MacKenzie dan Tamai terbang ke Padang masing-masing melalui Bali dan Tokyo. Selama bertahun-tahun, keluarga yang gemar berkeliling dunia ini sering berlibur bersama, tetapi baru kali ini mereka mengunjungi Togat Nusa Retreat.

Dibangun seluruhnya dari kayu apung dan barang-barang daur ulang dari laut, Togat Nusa Retreat adalah karya Johnny dan Ainsley Ocean. Menempati Pulau Pitojat seluas 12 hektare dan hanya melayani delapan tamu dalam satu waktu, Togat Nusa adalah tempat impian para pencinta pulau, dikelilingi pasir putih dan dinaungi pepohonan palem menjulang. Pulau Pitojat diselimuti hutan lebat yang dipenuhi pohon buah-buahan dan satwa liar lokal. Ombak selancar yang sempurna bisa ditemukan tepat di depan restorannya, sementara terumbu karang di sekitarnya adalah surga bawah laut untuk perenang snorkel.

Aktivitas di sini padat, dimulai dari sarapan ringan pukul 6 pagi, yang dilanjutkan dengan kegiatan pagi hari, biasanya naik perahu menuju ombak atau pantai tersembunyi.

Pagi ini, kami bersiap-siap untuk wisata pulau yang dipandu Johnny,salah satu pakar tempat-tempat tersembunyi di Kepulauan Mentawai.

Flynn dan Temma mendengar ada ombak selancar yang bagus di pantai yang akan kami kunjungi. Keduanya sibuk memoles papan selancar dan membaluri tubuh mereka dengan tabir surya, sambil buru-buru mengunyah sarapan. Dengan kaki telanjang, mereka berlomba menyusuri jalan setapak di hutan yang berliku menuju tempat perahu Johnny berlabuh.

Hampir satu jam berlalu, kami pun tiba di sebuah teluk yang indah. Hamparan pasir putihnya kontras dengan warna hijau tua pepohonan palem. Tidak terlihat kapal lain saat Johnny berlabuh di lepas pantai.

Sesampai di pantai, semua orang langsung berpencar mencari aktivitas yang paling mereka sukai. Istri Jake, Vanessa dan ibu Temma, Makiyo menemani si kembar MacKenzie, Ziggy dan Hanalei mencari cangkang kerang, sementara para ayah, Jake dan Taro, ikut meluncur ke air bersama Johnny dan Ainsley untuk berselancar.

Rasanya seperti menggunakan mesin waktu, kembali ke masa sebelum adanya ponsel pintar, saat di mana keluarga bisa berlibur di pantai selama berjam-jam tanpa khawatir tidak menjawab telepon atau email, benar-benar offline.

Jake dan Flynn mendayung kembali ke pantai untuk makan siang quesadillas buatan dapur Togat Nusa.

Sambil berbaring di pasir usai berselancar, Jake mengatakan, “Kami senang sekali di sini. Inilah tempat di mana kamu tidak perlu khawatir soal waktu, di mana kamu bisa kembali segar, menyatu dengan alam dan keluarga.”

Menyaksikan semua orang bahagia di bawah matahari Mentawai, Ainsley menambahkan, “Kami belajar bersyukur dan menghargai apa yang kami miliki. Kehidupan di sini sederhana; kami ingin kembali ke masa lalu… dan itulah yang kami dapatkan.”

35 times a week to Padang


Jakarta is 1 hour 20 minutes.

Book Now

From Colours September 2019

icon_sight

5 Senses – Sight
The Milky Way

Berjarak lebih 100 km dari kota terdekat, Kepulauan Mentawai adalah salah satu tempat terbaik di Indonesia untuk menyaksikan keindahan galaksi Bimasakti.