Archipelago Journal :Southeast Sumbawa

Hanya 40 km dari Taman Nasional Komodo nan legendaris, Sumbawa Tenggara menyuguhkan keindahan pantai-pantai pasir putih dan hamparan terumbu karang.

Words by Tommy Schultz

Tommy Schultz menyeberangi Selat Sape bersama sineas dan pegiat lingkungan kenamaan Valerie Taylor. Dengan kapal Seven Seas, mereka menjelajahi pelosok Indonesia yang indah dan jarang dikunjungi ini.
“Bila saya dan teman-teman ingin melihat karang dan ikan-ikan yang cantik, kami datang ke Indonesia.”

Valerie Taylor, 82 tahun, mengenang hidupnya yang penuh petualangan, menjelajahi tempat-tempat paling indah di dunia bersama suaminya Ron. Pasangan inilah yang merekam adegan bawah air dalam film-film Hollywood klasik, seperti Jaws dan The Blue Lagoon.

Saya dan Valerie menumpang Seven Seas, sekunar pinisi tradisional Bugis, salah satu kapal pesiar pertama yang mengadakan safari scuba diving ke pelosok-pelosok Indonesia. Kami datang untuk menjelajahi sudut negara kepulauan ini, yang bahkan belum pernah dikunjungi sang penjelajah veteran, Valerie.

Tadi malam, kami menyeberangi Selat Sape dari Taman Nasional Komodo dan tiba di pelabuhan di Sumbawa Tenggara.

Di sebelah utara, puncak Pulau Sangeang mengukir cakrawala dengan kerucut vulkaniknya yang memesona. Di selatan, garis pantai Sumbawa mengelilingi kami, dengan teluk berbatuan beku terjal yang melindungi dari terjangan ombak Samudra Hindia dari Antarktika. Pantai selatan Sumbawa terkenal di kalangan peselancar dunia berkat ombaknya yang sempurna.

Pagi harinya, kami menikmati sarapan nasi goreng lezat yang dihidangkan panas-panas oleh Totok, chef berbakat asal Bali.

Lonceng kapal berbunyi saat Tobias, lelaki Flores bertubuh kekar yang akrab disapa “Big John”, menyeru kami dari perahu kecil yang sudah menunggu. Waktunya kami turun dari “kapal induk” Seven Seas untuk menjelajahi laguna-laguna tersembunyi dan perairan berbatu yang terlalu dangkal untuk perahu pinisi ini.

Langit Sumbawa begitu cerah, bak kubah berwarna biru kobalt. Dilihat dari pepohonannya yang kering dan lereng bukit kecokelatan, tampaknya tempat ini sudah lama tak diguyur hujan.

Big John tersenyum lebar sambil mengemudikan perahu tender bermesin ganda memintasi pantai. Kami bisa melihat kebun koral aneka warna di dasar perairan dangkal ini. Setelah 15 menit perahu berlayar, biru nila Laut Flores berganti dengan warna safir berkilauan.

Mendekati lengkung pantai berpasir putih, perahu kami dikelilingi perairan biru terang yang lebih mirip kolam renang bintang tujuh ketimbang sebuah pulau terpencil.

Tidak ada manusia lain yang terlihat saat kelompok kecil kami melompat keluar dari perahu tender. Kaki telanjang kami mendarat di permadani pasir putih selembut tepung gula. Tak terlihat ada jejak lain di sini.

Kami menghabiskan berjam-jam yang mengasyikkan, menyusuri pantainya, berenang di air yang jernih dan terjun dari haluan perahu yang bersandar di laguna.

Obrolan kami di pantai membahas terumbu karang yang kami jumpai sebelumnya.

Seperti apa rasanya scuba diving di sini? Supaya tidak penasaran, kami pun kembali ke kapal untuk makan siang sekaligus bersiap untuk menyelam sore hari.

Aroma pedas ikan kari dibungkus daun pisang, karya Chef Totok, memenuhi dapur, sementara semerbak angin laut Sumbawa menyegarkan ruang makan.

Valerie yang sudah tak sabar ingin menyelami lagi perairan Indonesia, menceritakan sensasi kebebasan luar biasa yang ia rasakan saat berada di bawah air.

“Rasanya seperti sedang terbang. Saya tidak berenang, melawan, atau mengendalikan—saya hanya melayang. Menyelam adalah petualangan penuh keajaiban dan keindahan.”

Selama delapan dekade mempelajari dan menjelajahi lautan, ia pernah muncul di sampul majalah National Geographic (dua kali!) dan menerima gelar kesatria dari Kerajaan Belanda atas upayanya melestarikan laut.

Memang sungguh mengasyikkan bagi semua tamu di perahu ini dapat bertualang bersama Valerie. Sambil menyantap ikan kari buatan Totok,
kami mengobrol tentang apa yang mungkin kami temukan pada penyelaman sore hari.

Setelah istirahat sejenak usai makan siang, lonceng kapal berbunyi lagi, tanda waktunya menyiapkan perlengkapan selam. Tank-tank oksigen dimuat ke dalam perahu tender dan Big John kembali mengambil alih kemudi.

Ia mengantar kami ke sebuah teluk tersembunyi. Airnya yang dangkal berkilauan di bawah sinar matahari sore.

Setelah memeriksa ulang kamera bawah air saya, terjunlah saya ke taman karang Sumbawa yang spektakuler.

Saya meluncur melewati bentang karang warna-warni, dihiasi ikan tropis yang melesat dan meliuk-liuk di dalam lindungan terumbu. Saya melihat cahaya di area terumbu karang yang dangkal sangat cocok untuk foto bawah air. Sinar matahari yang masuk menciptakan efek cahaya katedral.

Tiba-tiba, tampak garis-garis lengkung dari sekelompok hiu sirip hitam muda, yang menandakan bahwa terumbu karang di sini sehat. Hewan-hewan tersebut sedang berburu kawanan sarden. Ikan bersisik perak ini berkilauan diterpa cahaya matahari terakhir hari itu.

Saya mendengar mesin perahu John bergemuruh, tanda bahwa kami harus kembali ke kapal sebelum hari makin gelap.

Di dek atas sekunar, Valerie duduk menatap matahari Sumbawa terbenam, menikmati perubahan warna langit dari kuning mangga, menjadi merah sambal, sampai menghitam segelap arang.

Ia kembali mengingat hal-hal penting dalam hidupnya yang penuh petualangan, kecintaannya pada lautan, dan benang merah yang menyatukan semuanya.

“Kecintaan saya pada laut muncul seketika, tanpa rencana. Begitulah, sampai sekarang,” katanya. “Kehidupan saya sangat menyenangkan. Betapa beruntungnya saya.”

Jakarta to Labuan Bajo


Flight Time3 hours 15 minutes

Frequency 7 flights per week

Book Now

From Colours October 2019

icon_sight

5 Senses – Touch
Powder-fine Sand

Bagaikan berjalan di hamparan tepung gula, pantai-pantai pasir putih tersembunyi di Sumba Tenggara termasuk yang paling indah di Indonesia. Di bawah terik cahaya matahari siang, fotografer perlu menyesuaikan level kecerahan pada kamera untuk menyeimbangkan warna terang pantai-pantai seputih kapur ini.