Beijing

Ibu kota Tiongkok melesat pesat di abad ke-21. Namun begitu, masih ada ruang di kota metropolitan modern ini untuk menikmati suasana lawas yang lebih santai.

Words and photography by Mark Parren Taylor

 

Beijing memang tak hentinya membangun dan memoles diri. Restoran, pusat perbelanjaan dan hotel baru terus bermunculan. Meski demikian, kota ini tak pernah menanggalkan sejarahnya… sejarah yang begitu terasa kala kaki menjelajah di antara ruang-ruang istana yang sunyi dan jalan-jalan yang sepi.

Setiap pagi, petugas upacara memasuki Lapangan Tiananmen dengan gerakan anggun dan presisi layaknya sekelompok penari balet. Mereka mengawal bendera Tiongkok, yang dikibarkan tak hanya di jantung Kota Beijing, tetapi juga di seluruh negeri.

Para petugas bergerak menuju tiang bendera nan megah, dengan disaksikan kerumunan orang, tak kira cuaca. Mereka menggait “bendera merah berbintang lima” pada tali, lalu dengan heroik melemparkannya ke udara dan mengereknya hingga ke puncak.

Gerbang Tiananmen (dekat stasiun kereta bawah tanah Tiananmen East) berada di sisi utara alun-alun dan menjadi latar belakang ikonis dalam upacara pengibaran bendera pagi.

Gerbang ini, dan dua gerbang raksasa lain, dilalui pengunjung sebelum memasuki Kota Terlarang (en.dpm.org.cn), istana kekaisaran berumur 600 tahun yang sekarang menjadi museum. Pengunjung yang tiba saat pintu baru dibuka pada pukul 8.30 pagi, biasanya akan menjumpai halaman utamanya masih dalam keadaan lengang… setidaknya selama beberapa menit

Tempat ini benar-benar sebuah kemegahan luar biasa dan berlimpah, dengan ruangruang menakjubkan, keindahan yang tak lekang oleh waktu, juga lorong dan halaman yang tak terhitung jumlahnya (nyaris 1.000 bangunan). Begitu luasnya, tak jarang pengunjung sendirian saat menjelajahi ruang-ruang terpencil atau koridor yang tersembunyi.

Dari gerbang utara beranjak ke utara, ada Taman Jingshan. Bukit di tengahnya menyuguhkan hamparan pemandangan kompleks istana kuno dan kota, baik tua maupun modern, di luar kompleks. Dari sini, jalan mengarah ke Menara Drum dan Menara Lonceng. Tetapi, sebelum itu, jelajahi dulu hutong: jalur dan gang yang dahulu mengelilingi Kota Terlarang dan menjadi pusat perdagangan dan bisnis yang menghidupkan kota (terutama istana).

Sebagian besar kawasan mirip perkampungan ini telah dihancurkan dalam 20 tahun terakhir. Dari perkiraan 6.000 hutong yang ada seratus tahun lalu, hanya 600 yang tersisa. Untungnya, hutong yang masih ada mampu mempertahankan atmosfernya yang unik dan menyegarkan, di antara jalan-jalan kota yang padat dan mal-mal yang ramai.

Singgahlah di Nanluoguxiang (dekat stasiun kereta bawah tanah Nanluoguxiang), sebuah hutong yang direvitalisasi dengan deretan butik, kafe dan jajanan kaki lima. Di sini, Anda akan menemukan barang-barang kerajinan tangan dan busana, bersebelahan dengan pedagang es krim dan warung kopi.

Tak jauh dari ujung utara Nanluoguxiang, berdiri Menara Drum (dekat stasiun kereta bawah tanah Shichahai), yang menjadi penanda waktu sejak tahun 1272. Menara ini mudah dijumpai dan suaranya membahana. Pada jam-jam tertentu, sejumlah pemain perkusi dengan energik menabuh barisan drum.

Pendakian ke puncak menara cukup memacu denyut jantung. Tangga batunya mengilap, curam dan tidak beraturan. Namun, semua itu terbayar oleh keindahan pertunjukan drum dan pemandangan hutong di sekitarnya.

Di dekat menara, ada Yaoji (311 Gulou Dongdajie) yang menyajikan makanan lokal, yang dahulu mungkin menjadi penghangat badan para penabuh drum kekaisaran kala musim dingin menggigit. Selain terkenal dengan hidangan chaogan, sup hati kental, inilah tempat terbaik untuk menikmati zha jiang mian, mi pekat dilumuri daging cincang dengan tauco. Sungguh memuaskan lidah.

Di sudut lain kota Beijing, Huguosi Snacks (93 Huguosi Dajie, stasiun kereta bawah tanah Ping’anli) menawarkan hidangan bersejarah, yang dahulu dibawa oleh muslim Hui melalui Jalur Sutra. Makanan khasnya antara lain chaogeda (pangsit goreng dengan acar sayur) dan baodu (babat goreng). Tempat ini juga menyediakan kue-kue klasik untuk dibawa pulang, seperti tang’erduo (kue simpul goreng) dan ketan gulung isi kacang merah yang dinamakan lüdagun (atau ‘keledai berguling’).

Untuk membakar kalori setelah menyantap bermacam makanan lezat, beranjaklah ke Istana Musim Panas (stasiun kereta bawah tanah Xiyuan), yang terbuka untuk pengunjung sampai pukul 8 malam dari bulan April hingga Oktober. Istana ini dahulu adalah tempat favorit keluarga kekaisaran pada musim panas, dengan pemandangan indahnya matahari terbenam. Istana Musim Panas Lama di dekatnya pun tak kalah romantis dan pernah menjadi kediaman kaisar di abad ke-19 (sebagian bergaya Eropa). Sayangnya, istana tersebut dihancurkan oleh pasukan asing pada 1860. Bangunan menakjubkan yang sarat ukiran, air mancur dan ruang-ruang pertemuannya luluh lantak, meski reruntuhannya tetap menyisakan pesona.