Jeonju

“Bersantaplah di Jeonju untuk kenikmatan tak terlupakan” adalah ungkapan kuno yang populer sampai sekarang.

Words and Photography by Mark Parren Taylor

 

 

 

Berjarak dua jam dari Seoul, Jeonju adalah destinasi favorit pencinta kuliner Ibu Kota—atau mereka yang ingin sejenak meninggalkan riuh kota besar

Jeonju akan membawa Anda ke masa silam.

Di kawasan kota tuanya—yang disebut “Desa Hanok”, atau Maeul—ratusan rumah tradisional berapit, kebun dan halaman berselimut bayangan, udara meniupkan denting lonceng angin dan kisah-kisah dari masa lalu. Pemandangannya menakjubkan saat matahari terbenam.

Jika Anda benar-benar ingin menikmati sejarah Jeonju, ikuti petunjuk anak-anak muda setempat dan sewa kostum hanbok tradisional untuk dua jam, dengan biaya KRW12.000–24.000. Para wanita tampak melenggang di sekitar kota mengenakan chima (gaun sifon tebal dengan hiasan indah), sementara para pria memilih celana baji dan tutup kepala gat (seperti topi, tetapi terbuat dari bahan mesh).

Pemandangan unik terlihat di seantero Jeonju, dengan kehadiran para pelancong berbusana bak bangsawan dari abad lalu, menikmati hiburan abad ke-21 dengan latar belakang zaman keemasan. Hal-hal yang bertolak belakang ini melambangkan perpaduan masa lalu dan masa depan, gabungan teknologi dan tradisi Korea. Para pelancong berbalut hanbok asyik berswafoto sambil mengunyah jajanan trendi, lalu berkeliling kawasan bersejarah dengan motor pedal listrik.

Bahkan pengunjung bisa mengendarai “sepeda rel” di jalur kereta api, 2 km sebelah timur Maeul, di pinggiran kota (420 Dongbudaero, Deokjin-gu; jeonju-railbike.kr). Relnya sepanjang 1,7 km dan, untungnya, tidak dilintasi kereta api, jadi kecil kemungkinan kereta ekspres KTX muncul dari belakang dan menggiring Anda 191 km ke arah Seoul.

Saya tidak menjumpai penumpang kereta dengan busana hanbok, meski itu bisa jadi kegiatan yang menyenangkan. Namun, saya melihat orang-orang mengantre di warungwarung makan dan kafe-kafe dengan kostum yang mencuri perhatian.

Dan tak salah jika mereka datang dengan perut lapar. Orang-orang Korea memang menyambangi kota ini untuk menikmati masakannya, terutama bibimbap.

Cara penyajiannya yang khas (di sinilah kota asal bibimbap) yakni nasi direbus dengan kaldu sapi, dilengkapi namul (seperti telur mentah dan jeli kacang hijau hwang pomuk) dan dihidangkan dalam mangkuk kuningan. Sajian ini dipersiapkan dengan teliti, semua bahannya harus digabungkan dengan tepat (bersama sesendok sambal gochujang) sampai terlihat bertumpuk-tumpuk! Itulah arti bibimbap, ‘nasi campur’.

Restoran Hanguk-jip (119 Eojin-gil, Wansangu) menyajikan bibimbap terbaik (dan tak terlupakan) sejak tahun 1952. Berbeda dengan Gyodong Croquette (126 Gyeonggijeon-gil), yang memadukan renyahnya roti dengan bibimbap dan makanan ikonis Korea lainnya, seperti galbi. Di sini, hidangan klasik diramu menjadi jajanan kaki lima yang trendi!

Satu lagi yang menjadi tren lewat media sosial, yakni “tagar” es krim Korea, ditawarkan di Sobok (81-5 Gyo-dong, Wansan-gu). Terletak di jalan utama Maeul (jadi Anda bisa menikmati pemandangan orang lalu lalang), kafe kecil ini menyajikan es pencuci mulut yang lezat. Bola es injeolmi (dengan moci di dalamnya) akan meluluhkan hati Anda. Suguhan yang sempurna sebagai penutup hari.

Untuk sarapan, ada pasar terbuka di tepi Sungai Jeonju yang mengitari pinggiran selatan Desa Hanok. Berhenti sejenak di atas batu pijakan dan pandanglah ke hulu— Anda mungkin akan menjumpai burung bangau tengah melintasi sungai yang jernih.

Batu pijakan tersebut mengarah ke Pasar Namba, yang dalam banyak hal menjadi penghubung antara kota tua dan kawasan modern di sekitarnya. Satu lagi yang tidak boleh dilupakan: jelajahi kawasan Dagadong dan Jungandong (hanya 20 menit berjalan kaki dari Maeul) yang memiliki kafe-kafe hipster dan toko roti lawas PNB Bakery (180 Paldal-ro, Pungnam-dong; pnb1951.com khusus bahasa Korea). Chocopie-nya juga menjadi tagar populer!

PNB Bakery berdiri sejak tahun 1951, satu atau dua dekade lebih dulu dari budaya kedai teh klasik di kota tua ini. Sayangnya, kedai-kedai teh tradisional semakin langka… jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Di kedai teh Gyodong Dawon (64-7 Gyo-dong, Wansan-gu) nan elegan, Master Gi Jung Hwang menyeduh teh lezat dari dedaunan yang ia tanam di perkebunan miliknya di sebuah lembah, 20 menit berkendara dari kota. “Teh kuning” hwangcha-nya dihasilkan lewat fermentasi ringan, yang menciptakan rasa pekat dan nikmat, dengan rona emas yang indah.

Master Hwang akan melayani dengan sabar. Walaupun Desa Hanok di balik tembok halamannya yang mungil mungkin dijejali pengunjung berbusana hanbok, sepeda listrik, dan kafe-kafe yang ramai, namun di kedai tehnya yang tenang, waktu seolah berhenti sejenak.

For further information, please visit www.garuda-indonesia.com

Jakarta to Seoul


Flight Time 6 hours 35 minutes

Frequency7 times a week

Book Now

From Colours July 2019

icon_scent

5 Senses – Taste
Hipster Café

Ingin minuman hipster untuk memulai hari? LAD Coffee (150 Daga-dong 4-ga) punya kebun yang teduh untuk menikmati es latte, sementara Cafe Oat (36-12 Jungangdong 1-ga) menyajikan cappuccino lezat yang pasti menarik bagi “generasi post-milk” (tidak mengonsumsi susu sapi).