Manila

Jonathan Evans membawa kita menjelajahi Manila, di mana bangunan bersejarah lestari berdampingan dengan pencakar langit nan modern

Words by Jonathan Evans

Di manakah pangkal dan ujung Kota Manila? Anda yang biasa dengan kota besar seperti Jakarta sekalipun akan terkejut menyaksikan skala kota ini, yang merupakan salah satu kawasan urban terpadat di dunia.

Manila adalah satu dari kota-kota konstituen ibu kota Filipina, yang berintegrasi dalam beberapa puluh terakhir sehingga membentuk kawasan metropolitan yang jauh lebih besar, yakni Metro Manila, sebuah kota dengan hampir 13 juta penduduk di area seluas 620 km2 yang kompleks. Begitu Anda keluar dari Bandara Internasional Ninoy Aquino (NAIA), kunci untuk menikmati kota megapolis—yang terkenal macet—ini adalah luangkan waktu untuk menjelajahinya satu per satu.

Dari NAIA, titik start yang mudah adalah barangay (distrik) Alabang, yang dahulu merupakan lahan pertanian. Sekarang, daerah ini dipenuhi hotel butik, restoran dan tempat berbelanja yang nyaman untuk para wisatawan yang masih jet-lag.

Namun bila Anda ingin menyelami Manila lebih dalam, gunakan Skyway menuju Makati, untuk menikmati taman-taman, mal, museum, restoran dan bar berkelas yang letaknya berdekatan. Pusat bisnis di jantung Metro Manila ini lebih mirip rangkaian desa-desa yang saling berhubungan, tetapi masing-masing dengan suasana berbeda. Dari kehijauan Salcedo Saturday Market di Jaime C Velasquez Park dan Ayala Triangle Gardens— bekas bandara—hingga Greenbelt Mall yang ramah lingkungan dan Museum Ayala yang canggih, ruang-ruang publik di Makati termasuk paling populer di Manila. Menariknya lagi, ada pusat komersial Poblacion yang direvitalisasi dan sekarang menjadi tempat paling keren, dengan deretan bar dan restoran trendi. Sementara, tetangganya Rockwell adalah pusat perbelanjaan dan perumahan mewah untuk kalangan elite—setara Pondok Indah atau Kemang di Jakarta.

Untuk ukuran kota dengan sejarah yang panjang—Manila telah menjadi kawasan perdagangan terkenal di tahun 1300-an— modernitas pusat kotanya, dengan pemandangan jalan bergaya Amerika, memang cukup mengejutkan. Namun, cukup naik taksi sebentar ke sebelah barat Makati, Anda akan menjumpai Binondo, pecinan tertua di dunia, yang sudah ada sejak tahun 1590-an dan kaya akan kuliner sarap (‘lezat’). Tepat di seberang Sungai Pasig, ada daerah kantong bersejarah Intramuros yang tak boleh dilewatkan. Tempat ini dihiasi lukisan dari era Spanyol yang direstorasi dengan apik dan terpampang abadi di jalan-jalan berbatu serta landmark, seperti Gereja San Agustin (1607), yang terdaftar di UNESCO dan merupakan tempat ibadah tertua di negeri nan religius ini.

Antara Binondo dan Intramuros, membentang Escolta Street, jalan raya paling cantik di kota ini selama pendudukan Amerika pada awal 1900-an. Meski memudar, beberapa contoh arsitektur bergaya beaux, art deco dan neoklasik masih ada, seperti First United Building, yang pernah menjadi bangunan tertinggi di Filipina saat selesai dikonstruksi tahun 1928, dan kini dihuni oleh pasar barangbarang kerajinan modern. Di sini, yang lawas dan baru bukan saja berdekatan, tetapi menyatu dalam sebuah bangunan. Dan, berkat revitalisasi ditambah pelayanan yang ramah, Anda bisa menikmati keakraban di tempattempat paling urban sekalipun.

Bersebelahan dengan Manila Bay, keramahtamahan terpancar di The Manila Hotel (1909), bangunan elegan yang mengingatkan pada zaman perang dengan kisah melegenda. Sementara, di sebelah timur jalur pedestrian tepi laut Manila Baywalk dan Roxas Boulevard, ada Rizal Park, salah satu ruang publik terbesar di Asia, yang didirikan untuk mengenang pahlawan nasionalis José Rizal. Tak jauh ke selatan, terdapat Pusat Kebudayaan Filipina (CCP). Bangunan utamanya, Tanghalang Pambansa (1969), adalah rumah berbagai kegiatan seni dan merupakan salah satu landmark kota yang mencolok dengan gaya arsitektur brutalisme. Daerah tepi teluk di selatan, Pasay City, didominasi pembangunan modern berskala besar, seperti resor terpadu City of Dreams dan Resorts World Bayshore. Selain itu, ada SM Mall of Asia, salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Asia, yang juga memiliki teater IMAX, pusat konvensi, taman hiburan dan area pertunjukan.

Perpaduan kuno dan modern pun terlihat di kawasan-kawasan yang paling baru dibangun di Manila. Beranjak ke tenggara melintasi bentang perkotaan yang padat, ada Fort Bonifacio di Taguig City, yang pernah menjadi pangkalan militer tentara AS dan Filipina, sebelum namanya diganti dengan nama “Bapak Revolusi Filipina” melawan Spanyol, Andrés Bonifacio. Kini, kawasan kosmopolitan ini memancarkan kilau baru Manila. Di sini, ada Bonifacio High Street, kompleks perbelanjaan, kondominium mewah dan perkantoran futuristik, yang menjadi salah satu real estat paling diminati di negara ini; dan Grand Hyatt Manila yang megah dan tertinggi di Filipina.

Gemerlap gedung-gedung pencakar langit di sentra bisnis ini baru muncul di pertengahan 1990-an. Pun begitu, kawasan modern ini tak luput dari nostalgia, dengan adanya Taman Makam Pahlawan untuk mengenang tentara dan negarawan Filipina, serta Manila American Cemetery and Memorial, yang diperuntukkan bagi tentara AS yang gugur dalam Perang Dunia II. Tempat-tempat yang tenang ini merefleksikan pergolakan Manila di masa silam, sementara daerah sekitarnya menunjukkan dinamika kota yang terus berkembang dan jutaan penduduknya yang melaju pesat memasuki era baru.

Jakarta to Philippine


FrequencyCodeshare route with Philippine Airlines flies seven times a week

Book Now

From Colours August 2019

icon_sight

5 Senses – Sight
Jeepney

Jeepney telah menjadi simbol Manila. Kendaraan berwarna cerah, sarat dekorasi, dan sering dijejali penumpang, ini adalah hasil daur ulang jip tentara peninggalan Perang Dunia II. Kendaraan ini beroperasi layaknya bus umum di rute-rute utama dengan biaya murah. Karena konsumsi bahan bakarnya yang besar, Jeepney yang sudah tua mulai digantikan dengan bus ramah lingkungan. Anda bisa membeli replika Jeepney di Souvenir Island General Merchandise. souvenirislandph