newyork_main

Mauritius :Rainbow Nation

Laut biru pirus. Pasir keperakan. Langit safir. Itulah Mauritius! Namun, kekayaan pulau di Samudra Hindia ini bukan hanya pantai-pantainya yang menakjubkan, tetapi juga alam yang menantang, warisan budaya yang unik dan berharga, serta perpaduan kuliner yang lezat.

Words by Mark Parren Taylor

Bertemunya dua hal yang berlawanan sering menghasilkan reaksi magis dan alkemis. Begitu pula Mauritius dan laut. Bertemunya pulau vulkanik ini dengan perairan Samudra Hindia yang berkilauan menciptakan pantai-pantai memukau yang dikelilingi pepohonan palem.

newyork_03

Hamparan pantai merentang di pesisir Mauritius sepanjang 177 km. Tanah dan perairannya menyatu begitu harmonis berkat terumbu karang yang membentengi pulau ini dari ombak ganas (dan ikan-ikan besar seperti hiu). Sebagian terumbu itu luruh menjadi pasir yang berkilauan di pantai.

Tak salah bila Anda menganggap Mauritius adalah pulau harta karun. Kala Anda bersantai di pantainya—dengan pasir halus di sela jari-jari kaki, dan pohon kasuarina serta palem yang berayun lembut tertiup angin—akan muncul pikiran bahwa bisa jadi ada peti harta karun yang terkubur di sekitar Anda.

newyork_03

Walau begitu, ada kekayaan lain yang benar-benar bisa ditemukan di tepian pulau. Nelayan lokal, baik yang profesional maupun pemancing hobi, sejak lama menikmati kekayaan lautnya. Dari pagi-pagi sekali, Anda bisa melihat mereka mengeret hasil tangkapan ke pantai di bawah bayang Le Morne, sebuah monolit basal setinggi 556 m di bagian barat daya yang menantang. Di sisi lain pulau, para pemancing berdiri di air dangkal sampai sore, menggenggam pancing, menunggu umpan disambar ikan.

Itulah pemandangan di pantai timur, yang bergelung seperti ikan kerapu terkena pancing. Di sampingnya, jalan pesisir berkelok membelah teluk-teluk kecil yang diselingi sejumlah resor mewah dengan pantai yang lapang.

newyork_03

Ikuti jalan sampai ke ujung utara dan temukan sebuah pemandangan magis. Kapal pesiar dan perahu kecil berayun di air, sementara pantai berumput mencumbu debur ombak. Tempat ini disebut Cap Malheureux (‘Tanjung Malang’), meski nama tersebut tidak sesuai, karena Anda akan merasa amat bertuah bisa berada di sini.

Ibu kotanya, Port Louis, terletak di pantai barat, di tengah-tengah antara tanjung “malang” dan Situs Warisan Dunia UNESCO, Le Morne. Kawasan mungil di tepi laut yang didominasi pemukiman ini adalah tempat yang menarik untuk menyaksikan perpaduan masyarakat Afrika, India, China, dan Eropa di Mauritius, termasuk budaya dan masakannya yang unik.

Susuri jalan-jalan kota untuk berjumpa para pedagang di Distrik Pasar Sentral, Masjid Jummah (bangunan bergaya Moor dari pertengahan abad ke-19 yang dicat menyamai warna laut di sekitarnya) dan Pecinan yang meriah. Anda akan menemukan atap-atap pagoda, toko manisan India, bangunan-bangunan megah era Victoria, serta benteng abad ke-16 yang menjulang di puncak bukit terjal dengan suguhan panorama indah pusat kota yang padat.

newyork_03

Di sisi utara terminal bus kota, di ujung Jalan Dr Sun Yat Sen, ada pasar kecil Trou Fanfaron yang memanjakan para komuter dengan beragam camilan Mauritius. Carilah kios Ameenah yang membuat roti pipih, yang dibubuhi saus cabai (dipermanis dengan apel dan jeruk), kacang koro tumbuk, brede songe (daun talas rebus) dan rougaille (saus tomat pedas khas Mauritius). Sebuah kudapan istimewa yang menonjolkan perpaduan kuliner pulau ini, sebagai manifestasi dari percampuran budaya, bahasa dan nilai-nilanya.

Berbeda dengan pesisirnya yang didominasi kota besar dan hotel kelas atas, bagian dalam pulau ini menampilkan wajah awal geologis Mauritius beserta masa lampaunya di era kolonial, dengan pegunungan rimbun, lembah berkabut, desa dan vila-vila kuno, juga perkebunan buah dan tebu.

newyork_03

Selain menanam tebu, perkebunan Bois Cheri (saintaubinloisirs.com) adalah spesialis teh dan vanila. Anda bisa mencoba keduanya di restoran Saint Aubin, yang berdiri anggun di sebuah rumah kuno yang dibangun tahun 1819. Atau, kunjungi Maison Eureka, sebuah vila elegan dari tahun 1830-an, dengan interior antik yang menjadi potret zamannya. Restoran yang menyatu dengan bangunan ini adalah tempat yang tepat untuk mencicipi hidangan kreol Mauritius. Bahkan, ada patung burung dodo yang terlihat gagah. Burung yang tak bisa terbang dan telah lama punah ini adalah hewan asli Mauritius.

Saatnya kembali ke pantai di pengujung hari, untuk berjalan-jalan melewati riak air yang membasahi pasir nan hangat. Saat lautan biru berubah menjadi keemasan oleh cahaya matahari terbenam, rasanya tak ada yang bisa mengalahkan pesona pulau ini, tempat daratan bercumbu dengan lautan.

Jakarta to Mauritius


Codeshare route WithKenya Airways via Nairobi

Frequency 7 flights per week

Book Now

From Colours January 2020

icon_sight

5 Senses – Sight
Seven-coloured Earth

Dekat dari Situs Warisan Dunia UNESCO Le Morne, “Tanah Tujuh Warna” di Desa Chamarel adalah perbukitan pasir di jantung hutan tropis. Bukit pasir berwarna unik ini terbentuk dari debu beragam batuan vulkanik. Tak jauh dari sana, Air Terjun Chamarel menjadi pemandangan menakjubkan, begitu pula panorama dari titik pandang di dekat air terjun, yang menghadap ke Le Morne dan pesisir barat daya.