Medan

Medan, kota terbesar di Sumatera ini adalah kota plural tempat masa lalu berdampingan dengan hari ini. Fatris MF menyambanginya.

Words by Fatris MF

 

 

“Perkebunan, itulah yang awalnya membentuk Medan menjadi kota yang plural dan beragam,” kata Sri Hartini, arkeolog yang menjadi direktur eksekutif Meseum Perkebunan Indonesia.

Ia membawa saya menelisik ruang-ruang berisi peninggalan masa lampau dari sebuah kota yang dulu merupakan pusat keresidenan Oostkust van Sumatra, pantai timur Sumatera. Museum perkebunan ini merupakan museum perkebunan pertama di Indonesia di mana jejak zaman tersimpan dengan baik.

Sembari memandu saya berkeliling musem, Sri bercerita bahwa museum ini dibuat semenarik mungkin untuk memikat kalangan muda, termasuk dengan mengadakan spot-spot untuk berswafoto. Di bagian depan museum, lokomotif tua milik Belanda keluaran Du Croo & Brauns berdiri bisu, sementara di sisi lain teronggok pesawat udara Piper PA-25 Pawnee, pesawat pertanian untuk menyemprot perkebunan, buatan Amerika Serikat. Dahulu, perkebunan tembakau, teh, kopi, kakao, dan karet mengundang jutaan pekerja, mulai dari Jawa hingga Penang, datang ke kota yang kini menjadi ibu kota Sumatera Utara ini.

Selain menjadi pusat perdagangan penting selama berabad-abad, serta memiliki beragam museum termasuk Museum Uang yang menyimpan mata uang perdagangan masa lampau, hingga dijuluki “pulau uang”, banyak hal lain menjadi daya tarik kota yang berulang tahun ke-429 bulan ini.

Medan hari ini adalah kota yang dihiasi peninggalan masa lalu di berbagai sudut yang menarik. Pada hari libur, pagi di Kota Tua Kesawan terasa jauh lebih sepi, hanya satu dua kendaraan yang lewat, yakni becak motor yang mencari penumpang. Saya berjalan kaki menyusuri lorong-lorong kota, dan singgah di Gedung London Sumatera. Perusahaan perkebunan karet Harrison & Crossfield menghuni gedung ini sejak didirikan 1906, ketika Indonesia belum diproklamasikan sebagai sebuah negara. Di dalamnya, masih tersimpan lift yang diyakini sebagai lift pertama di Sumatera.

Hari belum terik saat saya meneruskan perjalanan, kemudian singgah di Tjong A Fie Mansion. Bangunan tahun 1895 yang memadukan arsitektur Tionghoa, Melayu dan art nouveau Eropa ini merupakan milik seorang miliarder Tionghoa. Mengarungi bilik demi bilik, ruang demi ruang yang dipenuhi foto-foto dan perabotan kuno, memberikan saya sekilas gambaran riwayat Tjong A Fie yang hidup ketika perkebunan masih menjadi primadona di sini, juga sejarah pembangunan rel yang menghubungkan kota ini dengan pelabuhan di pesisir pantai timur Sumatera.

Dari Tjong A Fie Mansion yang ramai dikunjungi wisatawan, saya melipir ke Kampung Madras, daerah yangdijuluki “Little India” atau “Kampung Keling”. Duduk seorang diri, merenung di kuil Sri Mariamman yang bersahaja adalah pengalaman spiritual yang berbeda bagi saya. Kuil suci umat Hindu untuk memuja Dewi Mariamman yang dibangun pada abad ke-19 ini seperti sebuah dimensi sunyi di tengah hiruk pikuk kota. Bangunan-bangunan spiritual di Medan bagai tak pernah habis buat dieksplorasi. Dari kuil, saya bisa melihat Graha Maria Annai Velangkanni yang menggugah. Melihat ornamen arsitekturnya yang khas India, semula saya mengira bangunan ini adalah kuil Hindu, namun rupanya gereja Katolik yang didirikan oleh komunitas Tamil. Walaupun lahir dari perkebunan dan pemerintahan Kesultanan Melayu Deli, Medan adalah kota multikultural yang mengakomodasi semua agama, dengan adanya kuil, katedral, gereja, dan tempat ibadah lainnya.

Sore harinya, saya masuk ke Masjid Raya Al Mashun yang sejuk. Bangunan awal abad ke-20 ini memadukan berbagai gaya arsitektur, dari Eropa hingga Asia. Material dan perabotannyapun didatangkan dari Italia, Prancis dan Tiongkok. Tak berapa jauh dari Masjid Raya, Istana Maimun yang masyhur, tempat Kesultanan Deli bertakhta, masih berdiri kokoh dan menawan sebagai monumen kejayaan masa lalu.

Selanjutnya, saya menyambangi taman kota, jalan-jalan di perkebunan tembakau dan Jalan Merdeka (pusat kuliner terbuka, terutama di malam hari), yang ramai dengan anak muda.

Dalam perjalanan, teman saya Andi dan Eka Dalanta mengajak saya menikmati kota pada malam hari. Kata Eka, Medan memang bukan produsen kopi, namun biji-biji kopi premium bercita rasa tinggi dari berbagai daerah di Sumatera, seperti arabika Lintong, Gayo, dan Sidikalang, tersedia di kafe-kafe yang tersebar di tengah kota. Puas menyeruput kopi, saya diajak ke warung makan untuk menyantap soto Medan dan ikan bakar. Medan tidak semata kota yang dihuni beragam ras, dan agama, tetapi juga kota yang plural dalam cita rasa dan selera.

Malam hari, ketika jalanan kota sesak oleh mesin-mesin transportasi, saya terhenyak duduk di bangku karaoke di sebuah warung pecinan bersama beberapa lelaki tua yang menyanyikan lagu Mandarin, diselingi gelak tawa perempuan, dan aroma masakan Hindustan yang memacak di udara, berbaur dengan uap kopi. Saya membayangkan aroma tembakau dari perkebunan kuno yang masih tersisa di perkampungan di pinggir kota hingga ke Deli. Saya bisa merasakan masa lalu dan masa kini di sekeliling saya. Kombinasi ini menjadikan Medan modern sebagai destinasi yang menawan, dengan perpaduan arsitektur, budaya, dan, yang paling utama, masyarakat

For further information, please visit www.garuda-indonesia.com

Jakarta to Medan


Flight Time 1 hour 55 minutes.

Frequency42 times a week

Book Now

From Colours July 2019

icon_scent

5 Senses – Touch
Shri Mariamman Temple

Duduk dan merenung
di kuil ini sungguh
menenangkan. Kuil suci
umat Hindu untuk
memuja Dewi
Mariamman yang
dibangun abad ke-19
ini seperti sebuah
tempat menyepi. Anda
juga bisa berbincang
dengan pendeta yang
ada di kuil.