Nagoya

Nagoya adalah kota metropolitan yang megah dan modern … Namun, di balik kilau salah satu kota terbesar di Jepang ini, tersimpan kekayaan sejarah yang menarik untuk dijelajahi.

Words and Photography by Mark Parren Taylor

Kereta super cepat Shinkansen keluarmasukdi Stasiun Nagoya. Melesat dari Tokyo menuju Osaka dan sebaliknya, secepat kilat. Tak lama lagi, waktu perjalanan ke Nagoya akan makin singkat bagi pelancong internasional, karena Garuda Indonesia akan membuka penerbangan langsung dari Jakarta menuju Bandara Internasional Chubu Centrair pada Maret mendatang.

Perjalanan dengan kereta ekspres bandara menuju Kota Nagoya memakan waktu 30 menit, hanya setengah atau sepertiga dari waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kota ini dari bandara utama Jepang lainnya (Kansai via Osaka dan dua bandara internasional Tokyo, Haneda dan Narita). Artinya, pengunjung akan punya lebih banyak waktu untuk bersenang-senang menikmati kota yang energik ini—dimulai dari lift berdinding kaca pemicu adrenalin, yang naik 40 lantai ke puncak bangunan tertinggi kelima di Jepang (dekat dari stasiun kereta utama).

Pesawat, Kereta dan Mobil

Dari ketinggian, komuter dan kereta mungkin hanya terlihat seperti titik dan garis, namun kota besar ini dapat dipahami lebih utuh lewat panorama 360° dari observatorium Midland Square. Tempat ini disebut Sky Promenade, dan dari puncak menara setinggi 247 m, pengunjung dapat melihat hingga ke pinggiran kota, yakni ke laut serta pedalaman bukit dan gunung. Jarak pandang itu terbilang jauh mengingat Greater Nagoya (alias “Chukyo” atau ‘ibu kota tengah’) adalah kota metropolitan terbesar ketiga di Jepang.

Nagoya bisa diukur dengan mudah dibanding kota-kota lainnya. Kelima tertinggi … ketiga terbesar … atau yang pertama. Kota ini adalah pusat industri Jepang. Di sinilah, Honda, Toyota dan Mitsubishi (dan Lexus) menciptakan mobil-mobil mereka, di sini pula merek-merek terkenal di dunia membuat kereta api, sepeda motor, kamera dan peralatan listrik.

Dari Sky Promenade, pandang ke arah timur untuk melihat simbol aspirasi awal pembangunan kota. Menara TV Nagoya, menara TV pertama di Jepang yang selesai dibangun pada tahun 1954, paling bagus dilihat pada malam hari. Menara ini berdiri di atas taman panjang yang membentangi Sakae, sebuah kawasan sentra perbelanjaan dan hiburan yang menggerakkan ekonomi kota sejak lama.

Sakae selalu sibuk melayani pengunjung. Sebagai bagian dari “kota benteng” kuno, kota ini menjajakan makanan dan minuman untuk penduduk setempat dan pengunjung sejak 400 tahun lalu. Istana Nagoya (Kota Nagoya dibangun mengelilingi kastil ini) adalah tujuan wisata utama di Minoji, jalan utara-selatan yang bersejarah. Jalur ini menghubungkan dua jalan raya lintas negara, yakni Tokaido dan Nakasendo yang menghubungkan Tokyo dengan Kyoto dan Osaka, seperti kereta Shinkansen, walaupun tidak secepat itu.

Jika dahulu dikhususkan bagi kalangan elite, kini Istana Nagoya terbuka untuk semua orang dan menawarkan banyak hal menarik kepada pengunjung: tur dan pameran, taman-taman dan kedai teh, peragaan dan demonstrasi, hingga acara-acara musiman sepanjang tahun (dari bunga sakura di musim semi sampai pameran bonsai krisan saat musim gugur).

Dari Stasiun ke Stasiun

Okazaki di pinggiran kota (sekitar 40 menit ke arah tenggara dari Stasiun Nagoya) juga punya sebuah istana. Istana tersebut adalah hasil rekonstruksi tahun 1950-an, namun tetap terlihat megah di tengah taman yang indah. Okazaki sendiri adalah pusat pembuatan kembang api di Jepang dan terkenal dengan miso-nya. Beberapa perusahaan telah memproduksi bumbu dari fermentasi kedelai yang sangat populer ini selama ratusan tahun (perusahaan Maruya sejak 1337, lebih dari seratus tahun sebelum istana asli didirikan).

Anda bisa mencoba rasa hacho-miso di seantero Nagoya karena bumbu ini adalah kunci dari hidangan wajib yang disebut miso-katsu. Umumnya disajikan dalam bentuk irisan daging goreng dengan nasi putih disiram saus yang kaya umami, kini banyak restoran menawarkan variasi dengan ayam escalope atau udang goreng tepung roti. Lezatnya bisa membuat ketagihan dan menambah lebar pinggang.

Bila Anda tidak terlalu tertarik melihat istana, Anda tidak perlu sampai ke Okazaki, tetapi bisa berhenti di Arimatsu, yang sama-sama berada di jalur kereta Meitetsu. Orang-orang datang ke sini semata untuk mengunjungi sebuah jalan. Jalan tersebut ditempati rumah-rumah pedagang, bengkel dan gudang tradisional serta memiliki tradisi pembuatan kain celup shibori berusia 400 tahun yang masih kuat sampai sekarang. Selain toko-toko penjual sapu tangan sampai kimono musim panas, ada museum yang memeragakan teknik pewarnaan Arimatsu-Narumi oleh para praktisi berusia lanjut. Saksikan juga festival tahunan yang biasa diadakan pada akhir pekan pertama bulan Juni.

Sulit dipercaya, jalan kuno yang tenang ini dulunya adalah bagian dari semacam jalan tol abad pertengahan. Jalur pesisir timur-barat ini disebut Tokaido. Arimatsu menjadi “stasiun” ke-40 dari 53 “stasiun” resmi di sepanjang jalur tersebut. Selain sebagai pos administrasi dan komunikasi, Arimatsu juga menyediakan makanan dan penginapan (dan tentunya suvenir tekstil) untuk para samurai, peziarah dan pedagang keliling.

Ada 13 “stasiun” di sepanjang Tokaido, antara Arimatsu hingga ibu kota lama Jepang, Kyoto. Sekarang, dengan Shinkansen Nozomi, jarak 140km dari Nagoya ke Kyoto hanya memakan waktu 35 menit tanpa berhenti. Dan pada pagi hari, Anda bisa berjalan ke Distrik Higashiyama yang ikonis dengan perasaan takjub sekaligus senang, layaknya para pelancong zaman dahulu setelah mereka hiking selama berhari-hari (mungkin berminggu-minggu) di sepanjang jalur kuno tersebut. Tetapi, karena Shinkansen berhenti di Stasiun Kyoto, Anda harus melanjutkan dengan bus nomor 100 atau 206, dengan tiket harian ¥600 (sekitar Rp77.000).

Menelusuri Sejarah
Tokaido—setelah digabung dengan jalur tengah dari Tokyo yang dinamakan Nakasendo memasuki Kyoto melalui jalan raya tepat di bawah bukit tempat Kuil Kiyomizu-dera berdiri. Kuil ini termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO, begitu juga Kuil Ginkaku-ji di utara Higashiyama, sebuah kawasan bersejarah di ujung timur Kyoto. Dan di antara keduanya, terdapat lorong-lorong yang menarik, jalan setapak, taman rimbun, kuil-kuil yang tak kalah menakjubkan dan butik-butik kecil yang unik.

Jika Kyoto terlalu besar bagi Anda, naiklah kereta api 30 menit ke utara, dari Nagoya ke Inuyama yang lebih kecil. “Castle Town” sebuah kawasan bersejarah dengan ruko-ruko kayu, penarik becak, penyewaan kimono dan kerajinan tangan lokal—di Inuyama mirip Higashiyama di Kyoto. Tempat menarik ini akan membawa pengunjung menuju atraksi utama Inuyama, yakni istananya. Bangunan utama istana kayu ini didirikan pada 1537 dan nyaris tidak pernah disentuh, sehingga menjadi salah satu dari 12 istana yang masih orisinal di Jepang (dan satu-satunya yang dimiliki swasta).

Sungai Kiso mengaliri Inuyama dan menembus pegunungan, lembah berbatu dan hutan lebat di utara. Sisa dari jalur Nakasendo membentang mengikuti Kiso sekitar 120 km. Meski pada peta tampak jauh dari Nagoya, kereta ekspres Shinano hanya perlu satu jam untuk mencapai Nagiso, sebuah kota lembah kecil di jalur bersejarah ini.

Pilih keberangkatan jam 7 pagi agar Anda bisa berjalan-jalan di sepanjang jalan berbatu saat udara masih segar oleh aroma pinus dan embun. Perjalanan pagi hari di sepanjang jalur Nakasendo yang dilengkapi petunjuk jalan, berkelok-kelok melewati dusun, sungai dan mendaki bukit, akan membawa Anda ke kota antik Tsumago (coba sajian lokalnya: chestnut tumbuk manis kurikinton di Sawadaya). Selanjutnya, Anda akan tiba di Magome, sebuah desa di lereng bukit, dan Anda wajib mencoba makan siang soba dan sup sayuran pegunungan yang lezat di kedai mi Masuya. Setelah itu, lanjutkan dengan espresso menyegarkan di Hillbilly Coffee, yang terletak sedikit di bawah.

Kembali ke Nagoya, kilau modernitas mengingatkan bahwa kota ini digerakkan oleh pesawat, kereta api dan mobil. Tetapi dengan sedikit usaha, lewat perjalanan menggunakan kendaraan buatan pabrik-pabrik di kota ini, tak sulit menyingkap sejarahnya yang tersembunyi di balik gemerlap abad 21.

JAKARTA KE OSAKA


Waktu Penerbangan 6 jam, 20 menit

Frekuensi 3 penerbangan per minggu

DENPASAR KE OSAKA


Waktu Penerbangan 6 jam, 25 menit

Frekuensi 7 penerbangan per minggu

Pesan Sekarang

icon_sight

5 Senses – Sight
TOYOTA MUSEUMS

Sebagai pusat industri, tidak heran jika Nagoya punya sejumlah museum yang pasti menggoda para pencinta otomotif. Kunjungi Museum Otomotif Toyota yang menampilkan mobil-mobil dari tahun 1886, namun bila Anda penyuka mobil mutakhir, Anda dapat mengikuti’ tur ke pabrik Toyota. Selain itu, ada Museum Industri dan Teknologi Toyota yang memamerkan warisan teknologi perusahaan ini dan berlokasi di bekas pabrik tekstil Toyota tahun 1911.